Tak Boleh Asal Pakai, Ini Tips Pilih Kemasan Makanan Berbahan Plastik

Saat ini, aneka ragam alat berbahan plastik sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Mulai dari alat kebutuhan rumah tangga, alat kesehatan, hingga kemasan makanan yang sebagian besar telah menggunakan plastik sebagai bahan utamanya.
Bahkan, saking besarnya peminat kemasan plastik di Indonesia, pasar produk plastik rumah tangga terus mengalami peningkatan hingga 11,2% per tahunnya. Angka ini pun didapatkan dari data Euromonitor yang menunjukkan bahwa plastik dinilai lebih praktis dan hemat karena dapat digunakan secara berulang-ulang tanpa mengalami kerusakan.
Wadah plastik yang dibuat dengan warna dan bentuk yang bervariasi juga menjadi alasan kenapa wadah tersebut lebih banyak dipilih masyarakat. Namun, meski kini banyak bermunculan produk plastik yang diklaim aman dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan, konsumen tetap harus cermat dalam menyeleksi wadah plastik yang akan digunakan.
Salah satu hal mudah yang dapat dilakukan adalah dengan memastikan bahwa wadah plastik yang digunakan mencantumkan logo BPA free (bisphenol-A free) atau bebas bisphenol-A. Bisphenol-A sendiri merupakan sebuah senyawa kimia di dalam wadah plastik yang dapat larut dan membahayakan kesehatan bila terkena panas.
Jika terserap oleh tubuh secara terus-menerus, maka bisphenol-A dapat memicu terjadinya masalah kesehatan serius seperti kanker tiroid, mempengaruhi sistem imunitas, bahkan menyebabkan janin menjadi cacat.
Dr. Lula Kamal, seorang public figure sekaligus pemerhati kesehatan menyarankan agar masyarakat mengamati kualitas dari wadah plastik terlebih dahulu sebelum menggunakannya.
“Yang saya lihat pertama adalah kualitasnya, dan saya hanya menggunakan kemasan yang BPE free. Karena beberapa wadah plastik tidak dapat dipanaskan karena BPE-nya akan keluar,” ujar dr. Lula Kamal saat ditemui pada acara ‘Bijak Menggunakan Wadah Plastik untuk Kehidupan yang Hebat’ di Artotel Hotel, Jakata Selatan (26/3).

Selain itu, yang harus dipahami masyarakat adalah kode segitiga berisi angka tertentu yang terdapat pada bagian bawah kemasan. Menurut BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), terdapat enam jenis plastik yang sering digunakan sebagai bahan utama pembuatan wadah plastik.
Enam jenis plastik ini kemudian disimbolkan dengan angka 1 sampai dengan 6 agar konsumen lebih mudah untuk membedakannya. Kemasan makanan yang aman biasanya mencantumkan kode nomor 1 yaitu PET (Polietilen Tereftalat) untuk botol air mineral atau kemasan makanan sekali makan dan nomor 5 yaitu PP (polypropylene) untuk botol serta kotak makan yang dapat dipakai berulang kali.
Setelah mengetahui jenis plastik yang digunakan, hal selanjutnya yang harus diketahui masyarakat adalah kandungan lain yang terdapat pada wadah plastik. Selain dari plastik, proses pembuatan wadah biasanya dicampur dengan beberapa zat kimia lain untuk menghasilkan warna dan bentuk yang lebih menarik.
Namun jangan khawatir, selama ada tanda ‘food grade’ pada wadah plastik yang kita beli, maka dapat dipastikan wadah tersebut sangat aman untuk digunakan.
“Sebetulnya, jika wadah makanan mencantumkan logo food grade, maka sisa bahan kimia (pada wadah plastik) dapat dipastikan sudah tidak ada,” terang Dr. Emil Budianto, Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia saat ditemui di lokasi yang sama.
Namun meski sebagian besar produk plastik telah mencantumkan kode jenis plastik, tetapi saat ini masih banyak orang yang kurang bijak menggunakan kemasan plastik sebagai wadah makanan. Menggunakan kantong kresek sebagai pembungkus gorengan atau styrofoam untuk makanan panas merupakan hal keliru yang sering dilakukan masyarakat.

Padahal, kontak langsung antara makanan panas dengan kantong plastik atau styrofoam dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan otak, reproduksi, hingga sistem saraf. Untuk itu, Dr. Emil menyarankan untuk semaksimal mungkin mengurangi kontak langsung antara makanan panas dengan bahan plastik.
Salah satu caranya adalah dengan memindahkan makanan ke dalam wadah yang lebih aman. Seperti kotak makan yang bisa dipakai berulang kali, atau piring dari keramik yang lebih aman dan tahan terhadap panas makanan.
“Yang berbahaya bukan plastiknya, tetapi zat penambah seperti plastiziser dan pewarna kimia yang keluar saat dipanaskan dan larut ke dalam makanan kita,” ujar Dr. Emil menjelaskan lebih lanjut.
“Kita harus mengusahakan untuk meminimalisir kontak makanan dengan bahan plastik tersebut, karena semakin lama makanan disimpan di dalam wadah plastik, semakin banyak juga racun yang akan masuk ke dalam tubuh kita,” tutupnya.
