UMKM Ini Sulap Ikan yang Kerap Dibuang Jadi Kuliner Lezat dan Bernilai
·waktu baca 3 menit

Banyak pengusaha hebat lahir karena keberanian mengambil risiko, dan meninggalkan zona nyaman. Tak terkecuali, Aang Permana, pemilik UMKM Sipetek Food, yang memutuskan meninggalkan gaji besar di perusahaan minyak dan gas saat baru dua tahun bekerja di usia 24 tahun.
Di saat anak muda lain tengah merintis karier di kota, Aang memilih resign dan pulang kampung pada 2014. Ada kekosongan dalam hatinya yang membuatnya memilih jalan karier yang menempa hidupnya 10 tahun kemudian untuk terlibat di dunia kuliner Indonesia.
Hal itu dia ceritakan saat menjadi pembicara dalam sesi Ruang Karya, rangkaian acara Pesta Rakyat untuk Indonesia 2025 di Smesco Indonesia, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).
Pesta Rakyat untuk Indonesia 2025 adalah festival tahunan yang bertujuan memperkuat ekonomi kerakyatan melalui peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan UMKM. Acara ini menjadi ruang kolaborasi bagi pengusaha UMKM dan masyarakat untuk saling terhubung, belajar, dan berkembang.
Aang mengenang perjuangan memulai bisnis kripik ikan di kampung halamannya di Cianjur, Jawa Barat. Ikan petek dipilih Aang menjadi bahan baku utama.
Ide ini bermula dari ketidaksengajaan melihat banyak ikan mati di pinggir danau. Rupanya, itu adalah ikan petek yang biasa dibuang para nelayan pembudidaya ikan nila dan mas karena dianggap merebut pakan ikan budidaya mereka.
“Ikan-ikan ini dianggap sampah oleh para pembudidaya itu. Kata dosen saya, semua yang di hidup di air itu halal dan bisa dimakan, bahkan kapal selam,” seloroh pria lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Para nelayan dengan cuma-cuma memberikan ikan petek itu kepada Aang. Dia belajar mengolah ikan itu menjadi kripik. Pada tahap awal produksi Sipetek, kemasan yang dibuat Aang sangat sederhana yakni plastik dengan logo Sipetek warna hitam putih hasil photocopy.
“Jangan dipikir setelah bekerja di oil and gas company, saya punya banyak uang. Ada, tapi enggak gede. Jadi pakai yang ada dulu, yang penting kita jalan. Jadi bisnis itu jangan nunggu sempurna dulu. Mulai dulu aja sama apa yang kita punya. Nanti pelan-pelan kita belajar, berkembang,” kata Aang.
Aang yang mengaku tak pernah punya pengalaman bisnis ini juga rajin mencari ilmu kepada pengusaha-pengusaha UMKM yang sudah sukses. Meski berusia muda, Aang tak paham caranya menjual produk Sipetek.
“Dulu jualan saya ya cuma naik motor sama Bapak buat dititip ke warung-warung. Saya ke arah Cianjur, Bapak ke arah Bandung,” ungkap dia.
Berkat niat Aang belajar terus menerus, usaha Sipetek Food kian menguntungkan dan menjadi kuliner nan lezat. Sepuluh tahun berjalan, kini Sipetek Food memiliki omzet ratusan juta per bulannya. Varian produknya kian lebar dengan aneka camilan seperti kentang mustofa, abon sapi, abon ayam, kulit ayam krispi.
Sipetek juga telah menembus pasar internasional seperti Malaysia dan Hongkong. Tak hanya terus mengepakkan sayap bisnisnya, Sipetek juga aktif menjalani misi sosial kemanusiaan seperti merenovasi rumah ibadah, membangun sekolah di desa, hingga membuat sumur di desa.
”Kuncinya bagi teman-teman yang mau mulai bisnis, jangan egois merasa produknya paling bagus. Dengarkan apa kata konsumen. Sebelum bikin produk, riset dulu apa yang diinginkan konsumen. Nah, kita bikin yang mereka mau, jangan yang kita mau,” ucap Aang yang rajin membaca ulasan produk di e-commerce ini.
