Kumparan Logo

Warung KAA dan Dongeng Perang Kopi Toraja

kumparanFOODverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Biji kopi yang dijual di Kopi KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Biji kopi yang dijual di Kopi KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan

Ke Toraja. Jangan lupa mencoba kopinya. Meski kopi Toraja sudah mendunia, namun jumlah warung kopi yang ada di Toraja justru tak seberapa. Bisnis warung kopi di Toraja baru tampak geliatnya setelah muncul Warung Kopi KAA.

Sang pemilik, Sulaiman Miting memulai usahanya pada 2014. Saat itu harga kopi di Toraja sedang turun drastis. "Cuma Rp 9 ribu per liternya. Padahal kalau dijual oleh tengkulak mencapai Rp 11 ribu,” tuturnya.

Ia pun ingin membuka peluang baru bagi para petani kopi. Supaya petani mendapat harga jual yang setimpal. Menambah value dengan cara membuka warung kopi.

Biji kopi di Warung Kopi KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan

Hanya saja, membuka warung kopi di Toraja tak mudah. Bahkan istri Sulaiman, pada awalnya juga tak sepakat. Mengapa? “Tiap rumah punya kopi. Di upacara adat ada kopi. Artinya Kopi di Toraja itu gratis,” kata Sulaiman.

Toh, Sulaiman bersikeras juga. Berdirilah Warung Kopi KAA Toraja. KAA menempati sebuah ruangan yang tak seberapa besar.

Mirip ruang tamu sebuah rumah. Beberapa pernak-pernik tempo dulu menghiasi sudut-sudut ruangan. Terlihat pula belanga tanah liat yang jadi mesin roaster kopi.

Belanga, alat roasting kopi di KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan

Sulaiman memang mengandalkan metode tradisional untuk mengolah kopi. Ia bahkan menciptakan alat roasting sendiri yang terbuat dari belanga dan termometer.

Biji kopi di Warung Kopi KAA Toraja diambil dari daerah Awan dan Sapan. Keduanya memang primadona kopi Toraja. Selain itu, ada pula kopi dari daerah lain seperti Pulu-pulu dan Boruppu.

Kopi yang dijual ada dua jenis. Dalam bentuk biji atau bubuk. Tentu saja, proses pengolahan dan peracikan ditangani langsung oleh Sulaiman.

Kopi di KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan

Salah satu kopi berjenis Awan Arabika. Penyajiannya sederhana, hanya dicampur air panas (tubruk). Saat disesap, rasa pahit langsung menyentuh ujung lidah. Setelahnya, justru rasa asam yang kemudian menyebar dan dominan. Sangat ringan.

Untuk memastikan kualitas kopi yang dijual, Sulaiman selalu memantau kebun-kebun untuk bertemu petani. Apalagi, kopi yang ia jual berlabel organik. “Saya dan istri pergi ke kebun, bikin kriteria untuk beli kopi," jelas Sulaiman.

Sulaiman, pemilik Warung Kopi KAA Foto: Helinsa Rasputri/ kumparan

Nah, kalau ke Toraja, mampirlah ke Warung Kopi KAA. Sambil menyesap secangkir kopi, kita juga bisa mendengar dongeng perang kopi dari Sulaiman.