Anne Hathaway Viral Usai Ucap InsyaAllah, Seberapa Dekat Ia dengan Islam?
·waktu baca 3 menit

Anne Hathaway masih menjadi perbincangan hangat. Ia viral usai mengucap frasa 'InsyaAllah' dalam sebuah wawancara eksklusif bersama People.
Dalam wawancara tersebut Anne sempat mengungkap soal kehidupan dan masa depan. Ia juga menyinggung soal penuaan di usianya yang kini sudah menginjak 43 tahun.
Di momen inilah, Anne secara fasih mengucap kalimat 'InsyaAllah'
"Saya ingin memiliki kehidupan yang panjang dan sehat, InsyaAllah saya harap begitu," ujar Hathaway dengan tersenyum.
Tak sampai di situ, Setelah momen wawancaranya viral, Anne mendapat hadiah Al-Quran dari penggemarnya.
Momen ini terjadi saat Anne Hathaway menghadiri premiere The Devil Wears Prada 2 di London. Dalam kesempatan itu, seorang fans menghampiri dirinya sambil membawa sebuah buku.
Ternyata, itu adalah Al-Quran yang diberikan langsung sebagai hadiah. Anne terlihat menerima pemberian tersebut dengan sopan.
Dia bahkan sangat ramah ketika meladeni fans yang datang menghampirinya. Tak lupa, Anne juga mengucapkan terima kasih saat menerima pemberian itu.
Anne diketahui dibesarkan dalam tradisi Katolik Roma dan sempat bercita-cita menjadi biarawati. Hanya saja Anne memang tidak pernah secara gamblang mengungkap soal agama yang ia anut saat ini.
Dalam sebuah wawancara, Anne seolah menggambarkan bahwa dirinya masih mencari soal keyakinan tertentu. Ia hanya menyebut dirinya pribadi yang spiritual meski tidak religius.
Anne juga diketahui menikah dengan Adam Shulman yang merupakan seorang Yahudi dalam upacara tradisional Yahudi pada tahun 2012.
Ketika "InsyaAllah" dan “Wallahi” Masuk Percakapan Global
Selain Anne Hathaway, publik melihat figur global seperti Cristiano Ronaldo, streamer fenomenal IShowSpeed sesekali menggunakan istilah seperti “InsyaAllah,” “Wallahi,” atau ungkapan khas Muslim lainnya.
Fenomena ini nyata tapi penjelasannya tidak sesederhana "mereka jadi lebih religius” atau “ikut-ikutan tren Islam.” Yang terjadi mungkin lebih kompleks dan berkaitan dengan pergeseran budaya global, pengaruh pertemanan lintas negara, dan naiknya Timur Tengah sebagai pusat baru pop culture dan ekonomi.
Jika dicermati dari dinamika budaya, fenomena tersebut bisa jadi sinyal perubahan besar tentang bahasa yang dulu sangat kontekstual kini menjadi bagian dari percakapan lintas budaya.
“Globalisasi terus memperpendek jarak antarbudaya… cara agama-agama dunia menyampaikan pesannya sedang mengalami transformasi yang mendalam.”
— Language, Globalization, and Faith (al-milal.org)
Dari Ruang Religi ke Pop Culture
Istilah seperti insyaAllah (jika Allah menghendaki) atau wallahi (demi Allah) berasal dari tradisi Islam yang kuat. Namun, kini istilah tersebut mengalami perluasan makna sosial.
"InsyaAllah kan 'jika Allah menghendaki', kan itu syarat untuk orang ketika dia mengucapkan janji atau niat baik 'kan? Itu ya memang bukan milik orang Islam saja, siapa saja boleh ngucapin. Kan memang agama ini 'kan untuk seluruh manusia," kata Ustaz Derry Sulaiman kepada kumparan saat menerangkan makna ucapan InsyaAllah dalam keseharian muslim.
Di media sosial, kata wallahi sering dipakai untuk menegaskan sesuatu secara hiperbolik, mirip “serius banget” atau "sumpah.” InsyaAllah juga mulai digunakan dalam konteks santai, bahkan tanpa muatan religius yang dalam.
Fenomena ini mirip dengan bagaimana kata “karma” dari tradisi Hindu-Buddha menjadi istilah global tanpa selalu dipahami secara filosofis.
Di sinilah fenomena seperti yang terlihat pada Anne Hathaway, Ronaldo atau IShowSpeed menemukan konteksnya. Ketika Ronaldo bermain di Al Nassr FC dalam kompetisi Saudi Pro League, ia tidak hanya berpindah liga tetapi juga masuk ke dalam ekosistem sosial dan budaya yang berbeda, dan bahasa menjadi salah satu bentuk adaptasi paling cepat.
