Demam The Devil Wears Prada 2 Dongkrak Pariwisata Milan

Sekuel film The Devil Wears Prada 2 terbukti tidak hanya sukses di bioskop dan platform streaming, tetapi juga membawa dampak nyata bagi industri pariwisata dunia. Kota Milan di Italia, yang menjadi latar utama babak ketiga film ini, kini kebanjiran wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung atmosfer dunia mode kelas atas.
Fenomena yang dikenal sebagai set-jetting atau pariwisata berbasis lokasi syuting ini memicu lonjakan arus pejalan kaki dari turis internasional di berbagai lokasi syuting hingga belasan persen. Kekuatan film tersebut sukses memengaruhi tren perjalanan global, khususnya bagi para pencinta mode yang ingin menapaki jejak karakter ikonik seperti Miranda Priestly dan Emily Charlton.
Sebuah studi dari platform Cities Analytics menunjukkan adanya kenaikan arus pejalan kaki asing sebesar 18 persen di lokasi-lokasi utama film tersebut dibandingkan periode sebelumnya. Asosiasi bisnis kecil setempat, Confcommercio Milano, memperkirakan sekitar 1,5 juta turis internasional akan memadati pusat kota Milan selama kuartal musim panas ini.
Lonjakan ini diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus dengan estimasi kedatangan lebih dari 451.000 turis. Ketua Confcommercio Milano, Marco Barbieri, menyatakan bahwa pencapaian ini menegaskan tren pertumbuhan struktural pariwisata internasional di pusat kota Milan sejak perilisan sekuel tersebut. Menurut Barbieri, jumlah pengunjung asing meningkat rata-rata 28.500 orang per bulan, dengan turis asal Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris sebagai kontributor utama.
Barbieri memaparkan situasi ini secara optimis, “Studi ini mengonfirmasi adanya tren pertumbuhan struktural dalam pariwisata internasional di pusat kota Milan sejak perilisan The Devil Wears Prada 2,” ujarya. Kehadiran para pelancong ini pun memberikan angin segar bagi perekonomian lokal, terutama sektor ritel dan kuliner.
Lokasi Syuting The Devil Wears Prada 2 yang Paling Banyak Diburu
Beberapa titik lokasi di Milan yang menjadi latar adegan penting kini menjadi destinasi wisata favorit baru. Kenaikan kunjungan tertinggi tercatat di area antara alun-alun Largo Cairoli dan Palazzo Clerici yang berada di kawasan distrik belanja mewah quadrilatero della moda. Lokasi yang menampilkan deretan butik mewah ini mencatat lonjakan kunjungan hingga 24 persen.
Selain itu, Galleria Vittorio Emanuele yang megah dan area Duomo juga mengalami peningkatan kunjungan sebesar 17 persen. Tempat ini menjadi latar adegan emosional saat Miranda Priestly melakukan refleksi diri di larut malam. Sementara itu, Brera Academy, yang disulap menjadi ruang acara spektakuler penuh lampu kilat dan payet di antara lukisan Caravaggio karya Miranda, mencatat kenaikan sebesar 14 persen.
Jalan terkenal Via Montenapoleone juga tidak luput dari serbuan turis dengan kenaikan 13 persen. Di jalan ini, penonton disuguhi adegan Emily makan siang bersama Donatella Versace di sebuah halaman berarsitektur Renaisans. Menariknya, meski museum yang menyimpan lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci muncul dalam cerita, proses syuting interiornya harus direkonstruksi ulang di dalam soundstage studio guna melindungi mahakarya tersebut dari kerusakan akibat pencahayaan produksi film.
Kesuksesan Finansial dan Rekor di Platform Streaming
Efek pariwisata yang masif ini sejalan dengan performa gemilang film tersebut di pasar global. Diproduksi dengan anggaran sebesar 100 juta dolar AS, film ini sukses meraup pendapatan sebesar 220,6 juta dolar AS di bioskop domestik Amerika Serikat dan mengantongi total 691,4 juta dolar AS secara global sejak dirilis pada bulan Mei lalu.
Kesuksesan tersebut berlanjut saat film ini mulai didistribusikan lewat jalur digital. Sejak ditayangkan di platform streaming Disney+ dan Hulu pada akhir Juli, film ini langsung mengumpulkan 15,2 juta penayangan secara global hanya dalam waktu lima hari pertama.
