Entertainment
·
15 September 2021 9:48
·
waktu baca 4 menit

Film Dokumenter, Bentuk Ungkapan Menarik dari Nurani Sineas

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Film Dokumenter, Bentuk Ungkapan Menarik dari Nurani Sineas (145190)
searchPerbesar
Cuplikan film dokumenter Semes7a (Island of Faith). Foto: Dok. Kemendikbudristek
Heaven for Insanity, Banda The Dark Forgotten Trail, Song Bird, Orang Rimba, hingga Semes7a (Island of Faith). Mengangkat kebudayaan Indonesia, judul-judul tersebut menjadi film dokumenter yang sempat menyita perhatian, bahkan mendulang banyak ulasan positif dari para penikmat film.
Selain empat judul di atas, sebenarnya masih banyak lagi judul-judul film dokumenter lain yang secara khusus mengangkat kekayaan budaya Indonesia dan patut diacungi jempol. Mengutamakan kebenaran dan keabsahan data menjadikan film dokumenter sama penting dengan jurnalisme.
Ya, demi mengulas isu-isu penting untuk disampaikan kepada kita dan dunia, film dokumenter membutuhkan riset mendalam dari para narasumber yang kompeten. Kejujuran juga menjadi poin utama dalam proses produksinya.
Dengan banyaknya data yang didapatkan, sineas pun harus bisa merangkum dan mengemasnya menjadi sebuah film dokumenter yang sarat informasi dan menghibur. Ini juga yang menjadi pengalaman tak terlupakan bagi produser film, Mandy Marahimin; dan aktor Nicholas Saputra saat menggarap film dokumenter Semes7a.
Dirilis pada 2019 lalu, Semes7a mengangkat tujuh sosok dari tujuh provinsi di Indonesia yang sepenuh hati menjaga alam di sekitarnya dengan latar belakang berbeda-beda. Berdasarkan agama, kepercayaan, dan budaya.
Beberapa hari yang lalu, Kanal Budaya Indonesiana.tv pun berkesempatan mewawancarai Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra seputar pengalaman mereka memproduksi film dokumenter, serta ungkapan hati yang ingin mereka sampaikan lewat film Semes7a.
Indonesiana.tv merupakan platform yang dikelola Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang fokus mempublikasikan pengetahuan dan informasi mengenai keberagaman budaya yang hidup di Indonesia dalam bentuk tayangan audio-visual. Kanal ini dikelola oleh.
Yuk, simak hasil wawancaranya!

Bagaimana rasanya memproduksi film dokumenter? Bukankah banyak yang bilang film dokumenter itu susah laku?

Dokumenter memang bukan sebuah produk yang bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya. Seringkali, semua uang yang didapatkan oleh film, habis digunakan untuk pembuatan filmnya. Dan setelah film selesai, potensi distribusi pun bukan potensi yang menghasilkan return moneter secara luar biasa.
Namun, tidak bisa dibilang dokumenter tidak menarik untuk dieksplorasi. Saat ini kita tengah berada dalam masa yang banyak disebut sebagai golden age of documentary. Ini disebabkan naiknya streaming platform di seluruh dunia.
Semua streaming platform membutuhkan konten, dan mereka butuh konten sebanyak mungkin dengan jenis yang berbeda. Dokumenter adalah salah satunya.
Meski tetap dokumenter bukan ladang penghasil uang, karena pemasukan terbesar untuk film tetaplah distribusi bioskop. Dokumenter di bioskop juga belum menghasilkan jumlah penonton yang tinggi, karena banyak penonton ragu menonton dokumenter.
Banyak yang merasa dokumenter itu membosankan dan bikin ngantuk. Padahal, dokumenter sendiri terdiri dari berbagai jenis, tidak hanya dokumenter penyuluhan yang sering kita lihat di televisi. Di sini, peran streaming platform semakin besar. Mereka bisa memperkenalkan penonton kepada genre dokumenter yang berbeda-beda.

Selain di Netflix, di media mana film Semes7a diputar? Bagaimana respons penonton sejauh ini?

Semes7a tayang di Netflix setelah sebelumnya tayang di bioskop mulai 30 Januari sampai awal Maret 2020, tepat sebelum pandemi menghantam negeri ini. Respons penonton sangat baik untuk sebuah film dokumenter.

Adakah rencana ke depan memproduksi film dokumenter baru?

Tentunya ada. Ada yang sedang dalam masa pasca produksi, ada yang sedang produksi, dan ada yang sedang dalam tahap riset. Tapi belum bisa diutarakan saat ini.

Apa pendapat Mandy tentang tayangan dokumenter yang membahas kebudayaan?

Setiap film bagi saya membahas kebudayaan, karena dalam setiap film terkandung cerita, karakter, dan setting tempatnya. Tapi kalau yang dimaksud adalah dokumenter tentang satu kebudayaan, ini sangat tergantung bagaimana pembuatannya.
Jika dibuat secara konvensional, tentunya akan membosankan. Tapi jika diolah secara kreatif, maka bisa menjadi tontonan yang menyenangkan.

Seberapa penting peran film dokumenter tentang kebudayaan terhadap kebudayaan sebuah masyarakat atau adat?

Peran utama sebuah film dokumenter adalah nyawa dari dokumentasi itu sendiri. Itulah sebabnya ada kutipan yang menyebutkan bahwa sebuah negara tanpa film dokumenter adalah bagaikan sebuah keluarga tanpa album potret keluarga. Di sini, peran dokumenter menjadi penting.
Dokumenter kebudayaan dengan demikian memiliki misi untuk mendokumentasikan kebudayaan-kebudayaan yang ada dan mencatat (sekaligus menjadi bukti visual) bahwa kebudayaan itu ada.
Film Dokumenter, Bentuk Ungkapan Menarik dari Nurani Sineas (145191)
searchPerbesar
Cuplikan film dokumenter Semes7a (Island of Faith). Foto: Dok. Kemendikbudristek

Apa pesan untuk anak-anak muda yang tertarik dengan dunia film dokumenter?

Banyak-banyaklah menonton film dokumenter yang berbeda-beda. Jangan terpaku pada satu sumber film dokumenter saja. Kembangkan apresiasi dan pengetahuan tentang berbagai tipe dokumenter.
Patut diakui, pada akhirnya di tangan dingin para produser dan sutradara yang tak pernah berhenti menggali kreativitasnya, sebuah film dokumenter saat ini memang sudah menjadi tontonan yang tidak lagi membosankan. Tak hanya membuat kita takjub, tapi juga membuka wawasan yang lebih luas.
Terlebih tentang budaya Indonesia. Setelah menonton dan mengetahui runtutan ceritanya, mulai dari latar belakang sejarah, keberagaman dan perkembangan budaya Indonesia, film dokumenter pun bisa membawa inspirasi baru bagi penontonnya.
Bahkan tidak sedikit juga orang yang akhirnya ikut tergiring untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Kalau kamu, bagaimana?
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Kemendikbudristek