Kumparan Logo

Film Konser Pulp Siap Tayang Streaming, Ini Detail dan Trailernya

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Grup musik rock asal Inggris, Pulp. Foto: Dok. We Love Pulp
zoom-in-whitePerbesar
Grup musik rock asal Inggris, Pulp. Foto: Dok. We Love Pulp

Grup musik rock asal Sheffield, Pulp, bersiap merilis film konser terbaru mereka yang berjudul What Do You Do For An Encore?. Film dokumenter berdurasi 90 menit ini tidak hanya merangkum penampilan panggung mereka yang penuh energi, tetapi juga menyajikan perjalanan panjang grup dari masa-masa awal yang sunyi hingga menjadi salah satu ikon budaya pop Inggris yang berpengaruh.

Platform pemutaran film global MUBI telah menetapkan tanggal penayangan eksklusif di layanan streaming mereka pada 25 September mendatang. Pengumuman ini disertai dengan perilisan cuplikan perdana trailer serta karya seni visual resmi yang menampilkan aksi panggung sang vokalis utama, Jarvis Cocker.

Disutradarai oleh Garth Jennings, sosok yang sebelumnya menggarap video musik klasik Pulp seperti Help The Aged dan A Little Soul, film ini memadukan berbagai rekaman arsip yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Penonton akan diajak mengintip aktivitas di balik layar sejak era 1990-an hingga tur arena terbaru mereka yang megah.

Dalam cuplikan yang baru dirilis, Jarvis Cocker membuka video dengan sapaan khasnya di atas panggung diiringi intro lagu ikonik Common People. Cocker merefleksikan bagaimana musik bertindak sebagai mesin waktu yang menghubungkan masa lalu dan masa kini saat dibawakan kembali secara langsung.

instagram embed

Ia mengungkapkan pandangannya mengenai dinamika band yang dinilai jauh lebih hidup dibanding imajinasinya sendiri. “Versi penampilan langsung Pulp yang sebenarnya jauh lebih menarik daripada apa pun yang bisa saya bayangkan sendiri,” ujar Cocker.

“Lagu-lagu menyimpan kantong-kantong energi dari kehidupan masa lalu Anda, yang terlepas kembali saat Anda memainkannya lagi. Ini adalah perjalanan waktu yang nyata,” tambah dia.

Kolaborasi Sineas di Balik Layar

Penggarapan proyek ini melibatkan nama-nama besar di industri perfilman global. Posisi produser diisi oleh Octavia Peissel yang sebelumnya menggarap film Asteroid City, sedangkan proses penyuntingan gambar dipercayakan kepada Barney Pilling yang dikenal lewat karyanya dalam The Grand Budapest Hotel. Jarvis Cocker sendiri turut andil sebagai produser eksekutif dalam proyek ini.

Pendekatan visual dan penyajian panggung dalam What Do You Do For An Encore? kabarnya terinspirasi dari film konser legendaris milik Talking Heads rilisan tahun 1984, Stop Making Sense. Film ini menjanjikan kombinasi antara koreografi panggung yang spektakuler dari tur arena terbaru Pulp dan materi arsip berwarna yang melintasi empat dekade karier bermusik mereka.

Sebanyak 20 lagu akan ditampilkan dalam film ini, mencakup deretan lagu terpopuler pilihan penggemar hingga nomor-nomor klasik yang jarang dibawakan. Selain format visual, rilisan ini juga didampingi oleh album rekaman langsung bertajuk Live! yang dijadwalkan rilis melalui label independen Rough Trade pada 28 Agustus mendatang.

Agenda Penayangan dan Aktivitas Tur Terbaru Pulp

Sebelum resmi mengudara di platform digital, MUBI akan menyelenggarakan penayangan perdana khusus satu malam di jaringan bioskop Inggris dan Irlandia pada 18 September. Langkah ini kemudian diikuti oleh pemutaran di bioskop Kanada pada 23 September dan Amerika Serikat pada 24 September, memberikan kesempatan bagi para penggemar global untuk merasakan atmosfer konser di layar lebar.

instagram embed

Penayangan film dokumenter ini menandai fase produktif baru bagi Pulp setelah mereka merilis album More tahun lalu. Selain disibukkan dengan persiapan perilisan film, band ini juga terus aktif tampil di berbagai festival besar, termasuk menjadi penampil utama di Mad Cool Festival dan menggelar konser orkestra spesial untuk merayakan hari jadi Rough Trade ke-50 di London.