Kartun Jurassic World di Netflix Tampilkan Adegan Ciuman Karakter Remaja Lesbi

8 Agustus 2022 13:11
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Adegan ciuman karakter lesbi di Jurassic World Camp Cretaceous yang tayang di Netflix. Foto: Netflix
zoom-in-whitePerbesar
Adegan ciuman karakter lesbi di Jurassic World Camp Cretaceous yang tayang di Netflix. Foto: Netflix
ADVERTISEMENT
Kartun Jurassic World Camp Cretaceous yang tayang di Netflix mendapat perhatian sejumlah pihak. Serial yang masuk kategori 'TV Cartoons' dan 'Family Watch Together TV' itu menampilkan adegan ciuman karakter lesbian.
ADVERTISEMENT
Jurassic World Camp Cretaceous bercerita tentang enam remaja yang sedang kemah dan berpetualang di Isla Nublar. Mereka harus belajar bertahan hidup karena dinosaurus di pulau tersebut sudah tak terkendali.
Dua karakter di antara mereka adalah perempuan bernama Yaz dan Sammy. Selama terjebak di Isla Nublar dari season 1 hingga season 5, keduanya menjalin persahabatan dan melewati banyak tantangan bersama.
Hingga akhirnya pada season 5 episode 7, Jurassic World Camp Cretaceous menampilkan adegan ketika Yaz mengungkapkan perasaannya pada Sam. Adegan ini bergulir dengan lambat selama hampir satu menit, dengan latar musik yang mendayu-dayu.
Pantauan kumparan, adegan tersebut berlangsung di menit ke-20 hingga menit ke-21. Kemudian Yaz dan Sam ditampilkan berciuman, sementara karakter lain mengintip dari pohon dan bersorak-sorai.
Poster kartun Jurassic World Camp Cretaceous. Foto: Netflix
zoom-in-whitePerbesar
Poster kartun Jurassic World Camp Cretaceous. Foto: Netflix
Adegan ini menimbulkan keresahan beberapa orang tua, terutama yang anaknya menonton tayangan tersebut. "Saya kaget waktu nemenin anak nonton ini, ada adegan kissing sesama perempuan. Buru-buru saya ganti dan alihkan," kata seorang ibu bernama Dilla kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Dilla resah karena Netflix memberikan label Jurassic World Camp Cretaceous 'TV Cartoons' dan 'Family Watch Together' dengan kategori rating 13+, sehingga dia kelimpungan saat mendapati ada adegan ciuman sesama karakter perempuan remaja.
"Saya bingung ditanya anak soal itu, dan saya enggak mau anak saya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lumrah," ucapnya.
Konten LGBT di Ranah Digital
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sebelumnya, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan bahwa keberadaan konten berbau LGBT dalam media publik seperti film dan internet tentu berpotensi kuat memberikan dampak kepada masyarakat. Dampak tersebut akan lebih bertahan lama bila menyasar kalangan muda dan anak-anak.
"Terlebih film, sangat mampu membuat orang menganggap apa yang ditayangkan itu adalah sebuah kebenaran. Dengan tampil di media, orang akan berpikir bahwa tindakan itu merupakan hal biasa yang tidak salah apabila dilakukan," kata Retno.
Komisioner KPAI,  Retno Listyarti di SMPN 147 Ciracas. Foto: Reki Febrian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Komisioner KPAI, Retno Listyarti di SMPN 147 Ciracas. Foto: Reki Febrian/kumparan
Retno menyebut perilaku anak-anak bisa terpengaruh dengan konten seperti itu. Terlebih jika sang anak memang pernah memiliki pengalaman terkait dengan LGBT atau trauma dengan lawan jenis. Begitu juga dengan pola asuh yang tidak baik, sehingga dia semakin terdorong dengan konten-konten macam itu.
ADVERTISEMENT
"Sehingga membuat dia menjadi gay dan ketika menonton ia mendapat pembenaran terhadap kondisi dirinya," kata Retno.
Polemik Sensor di Ranah Digital
Lembaga Sensor Film (LSF) RI pernah mengungkapkan kesulitan melakukan sensor terhadap jutaan film yang beredar di aplikasi layanan menonton berbayar. Ketua LSF RI, Rommy Fibri Hardiyanto, mengatakan domain jaringan informatika yang biasa digunakan oleh platform digital sepenuhnya kewenangan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
Ketua Lembaga Sensor Film RI Rommy Fibri Hardiyanto. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Lembaga Sensor Film RI Rommy Fibri Hardiyanto. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan
Rommy mengatakan, tidak ada sensor itulah yang membuat film yang tayang di platform digital ditampilkan dengan bebas. Untuk itu, dia meminta masyarakat bijak memilah tontonan. Ia juga meminta masyarakat menonton film yang sesuai dengan usia mereka.
"Budaya sensor mandiri penting sekali saat ini," katanya.
kumparan sudah mencoba meminta tanggapan Netflix dan Kominfo mengenai hal ini. Namun hingga berita ini diturunkan, belum mendapatkan jawaban.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020