Kumparan Logo

Mengenal 6 Tokoh Wanita di Pagelaran Sabang Merauke "Hikayat Srikandi Nusantara"

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hikayat Srikandi Nusantara Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Hikayat Srikandi Nusantara Foto: kumparan

Enam perempuan, enam kisah, enam dimensi emosi, dalam satu panggung. Pagelaran Sabang Merauke hadir kembali dengan membawa kisah "Hikayat Srikandi Nusantara" yang mengajak kita menyelami emosi, kekuatan, keteguhan, keberanian, dan bagaimana keenam tokoh dalam cerita rakyat ini mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup.

Srikandi yang hingga saat ini digunakan untuk menggambarkan sosok "perempuan tangguh". Ceritanya menjadi contoh bagaimana keberanian perempuan—dan kemampuannya mengambil ruang-ruang yang dulu dilekatkan pada pria—sejatinya bukan hal baru dalam cerita dan budaya Nusantara.

Grand Final The Audition Pagelaran Sabang Merauke di Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (26/4/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Mahadewi yang dianggap sebagai representasi dari keagungan dan kewibawaan. Kekuatannya tak selalu muncul lewat perlawanan, tetapi juga melalui ketenangan, keyakinan, dan kemampuan mempertahankan posisi di tengah tekanan.

Dayang Sumbi dan ibu Malin Kundang membuka diskusi tentang peran perempuan yang dalam cerita rakyat biasanya hanya digambarkan lewat relasi dengan anak. Mereka bukan sekadar tokoh sampingan. Sosok ibu adalah individu dengan perasaan, pertimbangan, dan pergulatan batin dalam menentukan pilihan.

Calonarang adalah penggambaran bagaimana perempuan tak bisa dilihat dari satu label saja. Kisahnya memberikan pelajaran bagaimana masyarakat memandang berbeda kemarahan pria dan perempuan. Kemarahan laki-laki dianggap bentuk keberanian dan perlawanan; sedangkan perempuan kerap dicap berlebihan, berbahaya, dan tak terkendali.

Sedangkan Limbuk, menghadirkan kekuatan yang lebih hangat dan dekat dengan keseharian. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, terbuka, dan peka dalam melihat keadaan di sekitarnya. Kisahnya adalah gambaran kekuatan perempuan bisa hadir lewat kebijaksanaan sederhana, kepedulian, dan keberanian jadi diri sendiri.

Tak harus selalu tampil sempurna, lembut, atau heroik untuk bisa dianggap penting dalam sebuah cerita.

Para penari tampil membawakan berbagai tarian dalam The Audition 2026 untuk Pagelaran Sabang Merauke di Main Atrium Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (26/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Cerita-cerita mereka pun masih relevan dengan kondisi perempuan di era modern. Mereka kerap dituntut memenuhi ekspektasi tertentu: harus kuat tapi tak boleh terlalu kuat, harus mandiri tapi harus mendahulukan orang lain, harus mampu menyampaikan pendapat tapi tak boleh dianggap terlalu emosional.

"Hikayat Srikandi Nusantara" menunjukkan bahwa tak ada satu pun tokoh yang, sikap, atau pilihan hidup yang bisa mewakili sosok perempuan sendirian. Keberagaman inilah yang membuat keenam tokoh cerita rakyat tersebut menarik untuk dipertemukan dalam satu panggung pertunjukan.

Melalui musik, tari, busana, dan visual panggung, kita tak hanya akan melihat mereka sebagai pahlawan, ibu, putri, dewi, atau tokoh antagonis saja. Pagelaran Sabang Merauke akan membawa kita menyelami karakter mereka sebagai perempuan dengan suara, pilihan, kekuatan, kerentanan, dan perjalanan masing-masing. Pada akhirnya cerita rakyat tidak selalu harus diperlakukan sebagai kisah lama yang selesai pada zamannya. Ceritanya bisa terus hidup ketika dibaca kembali, dipertanyakan, dan dihubungkan dengan masa kini.