Kumparan Logo

Pamer Koleksi One Piece dan Dragon Ball Mahal, Logan Paul Kena Ulti IShowSpeed

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Logan Paul dapat sertifikat Guinness World Records. Foto: Instagram/@guinnessworldrecords
zoom-in-whitePerbesar
Logan Paul dapat sertifikat Guinness World Records. Foto: Instagram/@guinnessworldrecords

Di era ketika fandom bukan lagi sekadar hobi tapi juga aset, satu postingan dari Logan Paul kembali memantik diskusi panjang di internet. Bukan soal kontroversi biasa, melainkan tentang dua hal yang kini makin sulit dipisahkan: kecintaan pada pop culture dan nilai investasi yang melekat padanya.

Lewat unggahan terbarunya, Logan Paul memamerkan koleksi manga langka dengan status nyaris 'holy grail', yakni edisi perdana One Piece Chapter One dengan grading tinggi. Selain itu ia juga memamerkan debut Dragon Ball Chapter One yang bahkan disebut sebagai satu-satunya dengan nilai terbaik di dunia. Bagi kolektor, ini adalah artefak sejarah pop culture.

Namun, internet tak pernah diam. Komentar tajam datang dari streamer IShowSpeed yang dengan santai menulis: “you dont know sh*t about one piece.” Sebuah kalimat pendek yang langsung meledak jadi bahan perdebatan tentang apakah Logan Paul benar-benar 'fan' atau sekadar investor yang ikut tren?

Antara Passion dan Investasi

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam cara generasi sekarang memandang koleksi pop culture. Apa yang dulu dianggap niche seperti manga, kartu trading dan komik, kini telah naik kelas menjadi instrumen investasi alternatif.

X post embed

Ambil contoh ledakan harga kartu Charizard dari Pokémon. Dalam beberapa tahun terakhir, kartu edisi langka bisa terjual hingga miliaran rupiah. Logan Paul sendiri pernah jadi bagian dari hype ini, bahkan ikut mendorong harga pasar lewat konten unboxing dan pembelian spektakuler.

Hal yang sama kini mulai terjadi di dunia manga. Edisi pertama, cetakan awal, hingga kondisi fisik (grading) menjadi faktor krusial dalam menentukan nilai. Seperti dunia sneaker atau kartu olahraga, kelangkaan dan nostalgia adalah rumus untuk mendapatkan harga fantastis.

Youtuber Amerika Serikat, Darren Jason Watkins Jr alias IShowSpeed. Foto: Kenzo Tribouillard/AFP

Tak bisa dipungkiri, One Piece adalah raksasa dalam industri ini. Dengan penjualan lebih dari 600 juta kopi, karya Eiichiro Oda bukan hanya cerita petualangan, tapi juga simbol generasi. Kemunculan pertama Monkey D. Luffy di chapter awal kini memiliki nilai historis yang setara dengan first appearance superhero dalam komik Barat.

Sementara itu, Dragon Ball karya Akira Toriyama punya posisi serupa dan bahkan lebih fundamental. Tanpa Goku dan Bulma, mungkin tidak akan ada gelombang global anime seperti sekarang.

"Komentar IShowSpeed sebenarnya membuka diskusi yang lebih dalam tentang gatekeeping dalam fandom. Apakah seseorang harus benar-benar 'paham' untuk boleh memiliki atau mengoleksi sesuatu? Atau cukup punya uang dan minat?" kata Tian, penggemar manga, saat berbincang dengan kumparan.

Ilustrasi pameran One Piece. Foto: kuremo/Shutterstock.

Di satu sisi, purist melihat ini sebagai komersialisasi berlebihan, ketika orang luar masuk hanya untuk 'flip' atau menaikkan nilai aset. Di sisi lain, exposure dari figur besar seperti Logan Paul justru memperluas audiens dan membawa manga ke level mainstream yang lebih tinggi.

"Ya, memang ada baik-buruknya. Terutama juga banyak fan yang bukan sekadar investor ikut dapat benefit dari kenaikan harga aset koleksinya," tambah dia.