Selada di Jepang Dibungkus Wajah Tatsuya Fujiwara, Ternyata Ini Alasannya

Saat mendengar nama Tatsuya Fujiwara, banyak orang mungkin akan langsung teringat pada perannya dalam film Battle Royale atau sebagai Light Yagami di Death Note. Ya, aktor Jepang satu ini memang dikenal lewat kemampuan aktingnya yang selalu berhasil mencuri perhatian publik.
Namun kali ini, Tatsuya Fujiwara mencuri perhatian bukan lewat film atau serial yang dibintanginya, melainkan karena wajah sang aktor justru muncul sebagai pembungkus selada.
Dikutip dari PR TIMES, Ajinomoto Jepang baru-baru ini meluncurkan kampanye bertajuk "Cook Do Oyster Sauce: Tatsuya Fujiwara no Katteku Lettuce", dengan menghadirkan selada yang dibungkus plastik bergambar wajah Tatsuya Fujiwara.
Sekilas, kampanye ini mungkin terdengar nyeleneh. Tapi, di balik kemasan bergambar Tatsuya Fujiwara, Ajinomoto ingin mengajak masyarakat mengurangi limbah makanan, serta lebih banyak mengonsumsi selada, terutama pada musim panas ketika sayuran tersebut sering kali tidak habis dimakan dan akhirnya terbuang sia-sia.
Dalam kampanye ini, perusahaan hanya menyediakan 10.000 selada yang dibungkus plastik bergambar wajah Tatsuya Fujiwara. Selada dengan kemasan unik tersebut akan mulai dipasarkan di sejumlah supermarket di wilayah Tokyo dan Kansai pada akhir Juli.
Untuk menjalankan kampanye tersebut, Ajinomoto juga bekerja sama dengan JA Zen-Noh Nagano, organisasi pertanian di Prefektur Nagano yang memasok sekitar 60 persen produksi selada Jepang pada musim panas hingga musim gugur.
Ajinomoto berharap kemasan bergambar wajah Tatsuya Fujiwara dapat menarik lebih banyak pembeli. Tak hanya mengusung desain yang unik, di bagian belakang kemasan juga terdapat kode QR yang bisa dipindai.
Nantinya kode tersebut akan mengarahkan pembeli ke situs berisi berbagai resep bertajuk "Resep Selada Habis Seketika". Beragam resep itu menggunakan Cook Do Oyster Sauce dan menawarkan cara mengolah selada yang lebih bervariasi.
Lebih dari 60 persen Orang Pernah Membuang Selada
Meski Nagano menjadi salah satu daerah penghasil selada terbesar di Jepang, cuaca yang semakin panas dalam beberapa tahun terakhir membuat kualitas selada lebih sulit dipertahankan.
Berdasarkan survei yang dilakukan Ajinomoto, lebih dari 60 persen responden mengaku pernah membuang selada di rumah karena tidak sempat menghabiskannya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa sekitar 80 persen responden hanya mengonsumsi selada sebagai salad. Kebiasaan ini membuat banyak orang kehabisan ide untuk mengolahnya menjadi menu lain. Akibatnya, satu kepala selada sering kali tidak habis dimakan hingga akhirnya layu dan terbuang.
Survei tersebut juga mengungkap beberapa alasan utama mengapa selada kerap berakhir di tempat sampah. Sebanyak 58,3 persen responden mengatakan selada cepat layu atau rusak, 46,2 persen mengaku pilihan cara mengolahnya masih terbatas, sementara 41,7 persen menyebut selada sering tersisa hingga akhirnya dibuang.
Melalui kampanye ini, Ajinomoto ingin memperkenalkan lebih banyak inspirasi resep agar selada lebih cepat habis dinikmati, bukan berakhir menjadi limbah makanan.
