Tamparan Will Smith dan Apa Sebenarnya Batas Lelucon Itu?
·waktu baca 4 menit

Batas antara lelucon, tertawa, dan tersinggung tak pernah pasti. Tamparan Will Smith ke Christ Rock di panggung Oscar 2022, misalnya, menunjukkan bahwa apa yang dianggap lucu tak melulu berakhir menyenangkan. Alih-alih itu, lelucon justru dapat memantik rasa dongkol dan kemarahan.
Rock barangkali memang tak berniat menghina istri Smith, yaitu Jada Pinkett Smith. Komedian berusia 57 tahun itu sekadar menyingung tampilan Jada yang mirip Demi Moore di film G.I. Jane. Film action itu dirilis pada tahun 1997 silam.
"Jada, love you," ucap Rock, memberi isyarat agar Jada tak tersinggung dengan apa yang kemudian bakal dikatakannya.
"G.I. Jane 2, can't wait to see it," lanjutnya diiringi gelak tawa audiens.
Di film G.I. Jane, Demi Moore berperan sebagai Letnan Jordan O'Neil yang berpenampilan plontos. Ia digambarkan sebagai seorang tentara wanita yang menjalani tes untuk menjadi pasukan khusus di US Navy SEAL.
Persoalannya, gaya rambut plontos Jada bukanlah karena ia ingin nyentrik maupun sekadar ingin. Perempuan berusia 50 tahun itu justru tengah mengidap alopecia atau penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh Jada pun terganggu dan menyebabkan rambutnya terus rontok.
Lelucon dan Teori Keganjilan
Filsuf Prancis, Henry Bergson, menggambarkan bahwa tertawa dapat terjadi lantaran manusia mengkonstruksikan sesuatu yang ganjil terhadap kenyataan. Dalam 'Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic' (1913), Bergson menyebut hal yang lucu, pada dasarnya, merupakan sesuatu yang diucapkan tetapi berlawanan dengan norma atau bahkan fakta sosial.
Alasan orang tertawa dengan lelucon Rock di panggung Oscar 2022, misalnya, akibat adanya keganjilan tersebut. Semua orang di sana tahu alur film G.I. Jane, semua orang pun tahu bahwa Jada berambut plontos seperti Letnan Jordan O'Neil. Dan, ya, semua orang juga tahu bahwa film G.I. Jane tak mungkin dibuat ulang apalagi diperankan oleh Jada.
Di kalangan komedian, teori keganjilan ala Bergson ini menjadi semacam buku saku untuk menciptakan lelucon. Tapi, lelucon itu terkadang menyebabkan seorang komedian tergelincir ke dalam suatu masalah serius.
Di Kanada, misalnya, seorang komedian terkenal bernama Mike Ward harus disidang di Pengadilan HAM Quebec pada 2016 lalu. Ward dilaporkan lantaran leluconnya menargetkan Jeremy Gabriel, seorang penyanyi anak penyandang disabilitas.
Dalam aksinya, Ward bercanda bahwa dia mengira penyakit Gabriel adalah sebuah terminal kematian. Oleh sebab itu, kata dia, orang-orang hanya baik pada anak tersebut karena dia akan segera mati.
Pengadilan pun memerintahkan Ward membayar ganti rugi USD 35 ribu atau sekitar Rp 502 juta. Pengadilan juga menilai Ward telah melanggar hak asasi Gabriel.
Di Indonesia, komika Tretan Muslim dan Coki Pardede juga pernah tersandung akibat lelucon yang mereka lontarkan. Pada tahun 2018 lalu, keduanya dituding menista agama lantaran memasak kurma dan babi.
Lelucon dan Prasangka Diskriminatif
Pengajar seni pertunjukan Salford University, Ian Wilkie, tak setuju apabila seorang komedian dihukum atas leluconnya. Dalam sebuah kolom di The Conversation berjudul 'Stand-up comics should concentrate on being funny: so don’t take offence if they are' (2018), Wilkie menulis bahwa tugas komedian hanyalah menghibur.
Oleh sebab itu, kata dia, sulit membayangkan bahwa seorang komedian berintensi untuk menghina seseorang. Menurutnya, komedian hanya bertugas membuat audiens tertawa, terlepas dari seberapa menyinggung lelucon yang dibawakannya itu.
Wilkie lalu memaparkan bahwa audiens menjadi penting dalam sebuah pertunjukan komedi. Ia menyebut, audiens yang datang di acara komedi pada dasarnya memang sudah siap menerimanya. Dan terpenting, kata dia, audiens pun tak akan jadi lebih buruk hanya karena mendengar lelucon-lelucon yang menyingung.
Meski demikian, apa yang disampaikan oleh Wilkie sebetulnya sudah ditepis oleh sebuah analisis yang dilakukan pada tahun 2015. Dalam jurnal berjudul 'Disparagement humor and prejudice: Contemporary theory and research' (2015), Thomas Ford, Whitney Petit, dan Kyle Richardson membuktikan bahwa lelucon yang menyinggung memiliki konsekuensi terhadap audiens.
Menurut jurnal tersebut, lelucon yang menyinggung memang tidak berpotensi untuk menumbuhkan prasangka diskriminatif. Namun, lelucon itu justru dapat memberikan justifikasi bagi audiens yang sejak awal sudah memiliki prasangka tersebut.
Sementara itu, menurut Luvell Anderson, asisten profesor filsafat di Syracuse University di New York, komedian telah manargetkan kelompok rentan selama ratusan tahun.
Praktik tersebut lebih dikenal sebagai 'punching down'. Lelucon dalam terminus ini akan membidik mereka yang secara sosial, budaya, finansial atau rasial kurang beruntung.
Menurut Anderson, jauh sebelum stand-up ada, pria kulit putih di AS akan mengenakan wajah hitam dan menyajikan karikatur orang kulit hitam untuk mendapatkan tawa. Sejumlah komedi tahun 80-an juga mengolok-olok kaum gay untuk mendapatkan tawa.
Maka menurutnya, sejumlah lelucon yang rasis, merendahkan wanita, homofobik, etnis, dan kaum marjinal lain itulah yang menimbulkan masalah serius. Lelucon-lelucon seksis, misalnya, hanya akan menormalisasi status quo dan melanggengkan stigma.
