Kumparan Logo

Yosep Anggi Noen Ungkap Alasan di Balik Wardrobe 98-an di Laut Bercerita

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sutradara Yosep Anggi Noen saat acara konferensi pers cast reveal dan teaser perdana Laut Bercerita di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sutradara Yosep Anggi Noen saat acara konferensi pers cast reveal dan teaser perdana Laut Bercerita di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Suasana hangat menyelimuti pertemuan di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (21/8). Sambil menikmati makan siang, Yosep Anggi Noen, sutradara di balik film Laut Bercerita, berbagi kisah soal menghidupkan kembali visual tahun 1998.

Baginya, visual bukan sekadar pelengkap, melainkan nyawa dari sebuah film. Anggi mengaku sangat teliti dalam menyusun setiap detail properti.

"Saya agak rewel soal itu. Logo-logo kayak gitu kan jadi harus porsinya harus pas. 'Ini logo ini sudah keluar tahun itu belum?', kayak gitu. Semua detail," ungkap Anggi.

Anggi menceritakan betapa beruntungnya ia bekerja sama dengan desainer kostum yang merupakan saksi hidup era tersebut.

Sutradara dan cast Laut Bercerita di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (21/8). Foto: Vincentius Mario/kumparan

"Ini yang menarik nih. Wardrobe designer kita namanya Mbak Nok, Mbak Retno (Retno Ratih Damayanti). Dia dulu di waktu zaman 98 dia sudah mahasiswa di UGM," tutur Anggi Noen.

Kehadiran Mbak Nok memberikan akses pada sumber primer yang sangat autentik. "Jadi dia bawa itu foto teman-teman dia. 'Iki lho konco-koncoku biyen koyo ngene iki lho'. Jadi kayak, 'Oh iya ya gitu'. Jadi baju, apa-apa, itu referensinya dari foto-foto dia sendiri sama teman-temannya gitu," tambah Anggi.

Bagi Anggi, mendapat referensi dari pelaku sejarah memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi departemen artistik filmnya.

"Jadi kami dapat langsung dari tangan pertama gitu, sumber aslinya. Dan itu menariknya untuk dunia kostum dan ruangnya itu," jelasnya lagi.

Perhatikan Wajah Figuran

Konferensi pers cast reveal dan teaser perdana Laut Bercerita di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Anggi bahkan memerhatikan wajah para pemeran dan figuran. Ia sadar ada perbedaan estetika wajah antara generasi milenial-gen Z dengan orang-orang di era 90-an yang belum mengenal perawatan wajah modern.

"Bahkan muka orang aja kita cocokkan lho dengan zaman itu. Kan banyak misalnya yang bilang, 'Mukanya tuwir banget sih', kayak gitu. Ya kamu lihat aja foto tahun 98. SMA aja kayak kepala sekolah," seloroh Anggi.

Anggi memberikan arahan khusus kepada bagian casting saat memilih pemain figuran.

"Jadi kita risetnya sampai segitu. Extras, extras yang muncul kayak gitu, aku tuh request extras-nya jangan mahasiswa. Extras-nya orang yang udah lebih tua dari mahasiswa gitu. Cari yang mukanya emang muka old gitu lho istilahnya," tegas Anggi.

"Karena memang zaman itu mungkin juga belum kayak sekarang, skincare gitu," tutup Anggi.

Konferensi pers cast reveal dan teaser perdana Laut Bercerita di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Laut Bercerita adalah film yang mengisahkan rasa kehilangan, daya tahan, sekaligus harapan. Biru Laut (Reza Rahadian), mahasiswa di Yogyakarta pada akhir 1990-an, tumbuh dari keluarga yang hangat.

la bergabung dalam aktivis kelompok diskusi "Winatra" pimpinan Bram (Yoga Pratama) dan Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo).

Laut bersama para sahabatnya di Winatra seperti Daniel Tumbuan (Kevin Julio), Alex Perazon (Ben Nugroho), dan Sunu Dyantoro (Dewa Dayana), aktif dalam diskusi buku, serta berusaha membentuk organisasi politik yang dilarang pada masa itu.

instagram embed

Kelompok diskusi itu juga aktif turun ke jalan, membela kelompok yang lemah dan terpinggirkan. Tak semua mulus berjalan, diduga karena adanya pengkhianatan di dalam.

Hingga pada satu waktu, kelompok diskusi itu dijadikan kambing hitam peristiwa kekerasan politik. Semua anggota Winatra lari dari kejaran aparat. Sebagian tak jelas nasibnya, termasuk Laut. Film ini menggambarkan kepedihan sekaligus harapan keluarga dan teman-teman mereka yang dihilangkan.