kumparan
14 Nov 2018 21:09 WIB

3 Kontroversi Chart Musik Korea Sepanjang Tahun 2018

Nilo dan Shaun. (Foto: Instagram/@real.nilo, @djshaunofficial)
Persaingan di industri musik Korea pada tahun 2018 ini sangatlah sengit. Berbagai nama besar berlomba-lomba untuk merilis karyanya dan berhasil menguasai chart musik utama di Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
Namun, ditengah persaingan tiba-tiba muncul nama-nama baru yang berhasil meluncur ke posisi teratas. Hal ini tentu saja membuat publik heran, terutama saat mereka berhasil menggeser grup-grup idola yang sedang naik daun dan memiliki fandom besar. Tak hanya itu ada juga girlband Momoland yang dituduh melakukan kecurangan dalam penjualan album.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai hal tersebut, berikut kumparanK-Pop telah merangkum tiga kontroversi chart musik Korea di sepanjang tahun 2018.
1. Nilo
Solois Korea, Nilo. (Foto: Instagram.com/@real.nilo)
Pada April lalu, nama Solois Nilo atau yang juga dikenal dengan nama Oh Dae Ho ini menjadi bahan pembicaraan karena dituduh melakukan kecurangan. Hal ini bermula saat lagu 'Pass' yang dirilisnya pada Oktober 2017 lalu, tiba-tiba menempati posisi pertama di chart Melon. Ia berhasil menggeser lagu-lagu dari EXO-CBX, Wanna One, dan Twice.
ADVERTISEMENT
Hal ini dirasa tidak wajar, lantaran Nilo dinilai bukan penyanyi tenar dengan fandom besar layaknya grup-grup idola yang sedang naik daun. Namun, ia tetap berhasil meraih posisi tinggi dalam chart musik digital pada tengah malam, waktu yang biasanya didominasi oleh penggemar grup idola K-Pop.
Tak terima dituduh curang, Limez Entertainment selaku agensi yang menaungi Nilo berniat membawa perkara ini hingga ke pemerintah Korea Selatan. Berdasarkan laporan Xportsnews, pada 26 April, seorang perwakilan dari Limez mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan petisi terkait kasus Nilo ke Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan. Mereka juga mengatakan akan menjelaskan mengenai perkara tersebut secara langsung kepada instansi terkait.
Solois Nilo membantah telah melakukan kecurangan seperti yang diisukan. Ia dan agensinya mengaku Mereka mengetahui suatu strategi pemasaran viral yang mampu meningkatkan popularitas sebuah lagu.
ADVERTISEMENT
2. Shaun
Musisi Korea, Shaun. (Foto: Facebook/@djshaunofficial)
Kejadian yang sama dengan Nilo kembali dialami oleh Shaun, seorang DJ dan produser musik yang bernaung di bawah DCTOM Entertainment, label yang menjadi rumah dari Juncoco dan berbagai DJ lainnya. Ia juga dikenal sebagai salah satu anggota dari band musik rock indie bernama The KOXX.
Namanya menjadi bahan pembicaraan saat lagu 'Way Back Home' yang dirilisnya berhasil menduduki peringkat ketiga dan kelima di berbagai situs streaming musik di Korea pada 16 Juli lalu. Shaun juga berhasil mengalahkan grup-grup idola K-Pop terkenal yang sedang beraktivitas, seperti Twice, Blackpink, juga Mamamoo.
Hal ini pun menjadi perhatian warganet Korea Selatan. Ada beberapa aspek yang dirasa janggal oleh sebagian besar penikmat musik di Korea. Publik pun mulai melontarkan tuduhan bahwa Shaun juga melakukan sajaegi atau kecurangan di chart musik.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal ini, agensi Shaun, DCTOM Entertainment mengatakan, kesuksesan sang musisi di chart musik bukanlah hasil manipulasi. Tak hanya agensi, Shaun juga sudah angkat bicara soal kasus yang melibatkannya ini. Dilansir Soompi, dia menegaskan bahwa kesuksesannya bukan hasil dari manipulasi chart.
"Sebagai seorang musisi, aku hanya bekerja keras untuk menghasilkan musik. Namun, aku tidak mencoba menganalisis bagaimana lagu ini meraih posisi pertama dii berbagai situs streaming musik," sebutnya.
"Perusahaan (yang menaungiku) mungkin akan merilis pernyataan resmi. Tapi, aku tahu bahwa ini adalah efek dari pemasaran Facebook," tambahnya.
3. Momoland
Momoland. (Foto: Dok. dublekickcompany.com)
Grup pelantun 'Baam' ini dituduh melakukan manipulasi penjualan album pada awal tahun 2018 lalu. Publik curiga saat mini album 'Great' milik mereka berhasil terjual sebanyak 8000 kopi hanya dalam waktu satu hari. Hal ini mereka raih hanya dalam waktu sebulan setelah album tersebut dirilis.
ADVERTISEMENT
Menurut chart di Hanteo, penjualan album tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Padahal sebelumnya, penjualan selama bulan Januari adalah dua kali lebih rendah.
Saat itu Dublekick Company, selaku agensi yang menaungi grup tersebut mengatakan jika lonjakan tersebut berasal dari para fans domestik dan luar negeri. Terlebih sesaat setelah diumumkan jika MOMOLAND akan melakukan promosi di Jepang.
Tak terima akan hal ini, pihak Hanteo Chart pun memutuskan untuk melakukan petisi kepada Kementerian Budaya, Olahraga dan Paristiwa untuk melakukan penyelidikan. Mereka mengatakan jika mereka tidak menyelesaikan kasus tersebut, dapat mempengaruhi kepercayaan publik.
Setelah dilakukannya investigasi pada 24 Juni 2018, Kementerian Pariwisata, Olahraga dan Kebudayaan merilis hasil final penyelidikan terkait kontroversi bulk buying (manipulasi jumlah penjualan) Momoland.
ADVERTISEMENT
Pihak kementrian menjelaskan bahwa dalam investigasi putaran pertama dan kedua mereka menemukan bahwa pembelian dalam jumlah besar tidak termasuk ke dalam sajaegi (manipulasi penjualan album melalui bulk buying). Hal ini membuktikan jika Momoland dan agensinya tidak melakukan kecurangan dalam penjualan album.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan