kumparan
22 Desember 2018 10:58

Menelusuri Akar Budaya Korea di Indonesia

Hallyu Wave Serbu Indonesia
Hallyu Wave serbu Indonesia. (Foto: Matheus Marsely & Putri Sarah Arifira/kumparan)
Di tepian pantai Korea, Joon Suh terus menggendong Eun Suh. Wajah Eun Suh tampak pucat pasi dan badannya terkulai lemas. Joon Suh terus mengajak bicara Eun Suh. Hingga pada akhirnya embusan napas Eun Suh berhenti selamanya. “Aku mencintaimu Eun Suh,” Joon Suh mengucap lirih.
ADVERTISEMENT
Senarai adegan dalam drama Korea berjudul 'Endless Love' itu mengoyak hati berjuta pasang mata yang menatap layar kaca pada awal 2000-an. Air mata berjatuhan mengantar kepergian Eun Suh selama-lamanya.
Drama yang berkisah tentang cinta dan ketulusan itu sukses mencuri hati pemirsa Indonesia. Tua, muda, semua menangis bersama oleh karena drama ini.
Dari situ, drama Korea mulai dikenal di Indonesia. Hingga pada perkembangan berikutnya, drama-drama negeri ginseng ini tak pernah absen menghiasi layar kaca Indonesia. Bahkan bila dirujuk pada era kini, tak hanya drama Korea saja yang telah mewabah, produk-produk hiburan lain semisal musik (K-Pop) juga merebak.
Direktur Korean Cultural Center Indonesia, Chun Youngpoung
Direktur Korean Cultural Center Indonesia, Chun Youngpoung. (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)
Ragam penggemar Korea pun hadir. Ada yang sedang-sedang saja, tapi juga ada yang garis keras alias die hard fans. Walhasil, budaya-budaya Korea perlahan terinternalisasi dalam beberapa sendi kehidupan.
ADVERTISEMENT
Kata-kata “Omo”, “Daebak”, “Saranghae”, “Oppa”, dan lain sebagainya mungkin kini sudah jamak didengar atau bahkan diucapkan.
Di samping itu, gaya “love” Korea dengan menggunakan dua jari mungkin acap kali kita lihat dan lakukan.
Konten Spesial, Kpop
Konten Spesial, Kpop. (Foto: Matheus Marsely/kumparan)
Lantas, bagaimana produk hiburan Korea ini bisa diterima dan mengambil hati masyarakat Indonesia? Padahal, produk-produk budaya dari luar tak hanya datang dari Korea. Masih ada negara-negara lain di Asia, seperti China dan Jepang yang datang terlebih dahulu dengan film serta dramanya. Namun sekali lagi, mengapa justru hiburan dan budaya Korea yang terus digdaya di Indonesia?
kumparan menelusuri akar budaya Korea di Indonesia. Dengan bantuan budayawan sekaligus dosen program pendidikan Bahasa dan Budaya Korea, Universitas Indonesia, Zaini, akar budaya itu mulai digali.
Kepala Program Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea UI, Zaini
Kepala Program Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea UI, Zaini (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Bertolak pada sejarah, sebelum tahun 1993 masyarakat Korea dalam hal ini Korea Selatan hidup dalam rezim otoritarian. Dampaknya, proteksi budaya yang dilakukan pemerintah begitu kuat. Mereka membatasi masuknya budaya-budaya dari luar Korea.
ADVERTISEMENT
“Misal taruhlah gini, Korea harus pada identitas kebudayaannya. Ya kebudayaan tradisional secara umum,” tutur Zaini saat berbincang dengan kumparan di kampus UI, Rabu (5/12).
Rezim otoritarian bercokol di Korea puluhan tahun. Hingga pada akhirnya rezim ini berakhir pada 1993. Kim Young Sam (1993-1998) kemudian tampil sebagai presiden baru yang membawa angin segar. Kim membuat sebuah proyek globalisasi pada November 1994 yang dikenal sebagai Segyehwa. Segyehwa bertujuan mempersiapkan masyarakat Korea dari pengaruh-pengaruh luar.
“Jadi Korea tidak hanya menerima budaya dari luar tapi dia juga bisa menyebarkan kebudayaannya,” tutur Zaini.
Ilustrasi Bendera Korea Selatan
Ilustrasi Bendera Korea Selatan (Foto: Pixabay)
Berdasarkan kebijakan tersebut masyarakat Korea dituntut untuk kreatif. Kreativitas dibutuhkan untuk menampilkan karya-karya yang mampu bersaing di pasaran. Hasilnya, setelah itu bermunculan drama-drama Korea yang merambah ke pasar dunia hingga Indonesia.
ADVERTISEMENT
Mula-mula Dibajak dari Hong Kong
Pada periode 1990-an drama Korea mulai mewabah ke berbagai penjuru negeri, utamanya di Hong Kong, Taiwan, dan China. VCD-VCD drama Korea beredar dan dipasarkan dengan bahasa mandarin.
Banyaknya serbuan drama yang hadir membuat negara-negara ini dilanda demam Korea. Drama Korea datang “menyerang” hingga tercetuslah istilah Hallyu dalam bahasa mandarin yang artinya gelombang.
“Karena Hallyu secara istilah itu munculnya bukan di Korea tapi di Taiwan, di China. Pada waktu itu maraknya Korea yang dipasarkan di sana hingga pada akhirnya seperti sebuah gelombang kebudayaan Korea. Jadi itu (istilah Hallyu) bukan muncul di dalam Korea sendiri,” Zaini menerangkan.
Konten Spesial, Kpop
Konten Spesial, Kpop. (Foto: Matheus Marsely/kumparan)
Istilah Hallyu kemudian merebak ke berbagai negara untuk menyebut produk hiburan Korea.
ADVERTISEMENT
Lantas bagaimana dengan muasalnya di Indonesia?
Drama Korea mulai masuk ke Indonesia sekitar akhir 1990-an. Drama-drama ini tidak langsung menghias layar kaca, melainkan dinikmati dari VCD-VCD yang didapatkan dari Hong Kong.
VCD Drama Korea Endless Love
VCD Drama Korea Endless Love (Foto: Dok. Zaini)
Akan tetapi, karena mahalnya biaya, pembajakan VCD drama Korea dari Hong Kong pun marak dilakukan.
“Kalau saya lihat, bisa saja mreka ya dibajaknya mungkin sampai sini ya. Mungkin ada masternya dari Hong Kong itu. Coba waktu saya lihat ke Ratu Plaza misalnya dulu itu memang bajakan,” kata Zaini.
Dari VCD-VCD di pasaran itu drama Korea mulai menapaki layar kaca di Indonesia. Drama Korea nyatanya tidak hanya menampilkan sebuah alur cerita yang menarik, melainkan juga musik-musik soundtrack yang berciri khas. Oleh sebab itu, jamak diasumsikan drama Korea lah yang menyebabkan gelombang K-Pop lahir dan berkembang di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Ada yang mengatakan secara teori seperti itu. Karena kan drama itu yang lebih secara visual ya yang kelihatan. Karena seeing is believing ya. Dengan kita melihat, semua tertangkap. Wah di dalamnya ada musik juga kebetulan nih. Akhirnya muncul juga,” Zaini menyebutkan.
LOKASI KDRAMA
Pantai Jumunjin, lokasi syuting drama Korea Goblin (Foto: Dok. tvN)
Saat ini produk hiburan Korea tidak hanya dinikmati dalam bentuk drama. Ada musik, film, tarian, webtoon, dan lain sebagainya yang memiliki pangsa penggemar tersendiri. Hingga pada perkembangan berikutnya, Hallyu ini tak hanya dinikmati tapi juga bertransformasi menjadi identitas.
“Tapi kalau dia nanti munculnya Korea sebagai identitas itu memang ya sekitar 2000 agak ke sini 2005 lah,” ujar Zaini.
Yang tak lekang dari hiburan Korea
Omong-omong soal Hallyu di Indonesia memang tak ada habisnya. Para penggemar terus bermunculan dan tersekat-sekat dalam beberapa basis. Hasil tersebut pada mulanya tidak terpikirkan sama sekali oleh masyarakat Korea sendiri.
ADVERTISEMENT
Bila beberapa produk hiburan dari luar negeri hanya berkembang dalam beberapa periode tertentu di Indonesia, produk dari Korea tidak demikian. Produk hiburan Korea justru terus berkembang dan mempengaruhi perangai penggemarnya.
Konten Spesial, Kpop
Konten Spesial, Kpop. (Foto: Matheus Marsely/kumparan)
Apa penyebabnya?
Daya kreasi yang tinggi menjadi musabab produk hiburan Korea tak ada habisnya. Selain itu masyarakat Korea juga cekatan dalam merespons kebutuhan dan potensi pasar.
“Budaya dalam arti tradisional memang enggak ada yang suka. Tapi Korea itu bisa membuat itu tradisional bukan berarti dia usang, tapi tradisional digabungkan dengan yang modern. Dikemas itu juga nanti akan bisa menghasilkan kebudayaan yang bisa dijual,” Zaini menguraikan.
Kepala Program Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea UI, Zaini
Kepala Program Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea UI, Zaini (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Di sisi lain, para produsen juga piawai menampilkan keindahan alam dan tempat di Korea. Oleh sebab itu, berbagai tempat tersebut mampu mencuri hati para penggemar karena biasanya menjadi latar adegan istimewa.
ADVERTISEMENT
Pun, selain mahir mengolah sumber daya dalam negeri, para produsen juga bermain dalam hal nilai. Nilai-nilai inilah yang membuat produk budaya Korea lebih diterima di Indonesia karena relatif beririsan.
“Nilai-nilai Asia kalau di dalam keluarga itu kan misalnya mereka hormat kepada yang tua. Ada respect kepada yang tua. Ya kita lihat kalau di dalam drama panggilan bukan namanya saja ya, tapi ada oppa, panggilan-panggilan yang noona, eonnie,” sebut Zaini.
Nami Island
Jejak drama Winter Sonata di Nami Island (Foto: Istimewa)
Perjalanan produk hiburan Korea yang makin dinikmati ini lalu menggugah pemerintah negara tersebut untuk terlibat. Pemerintah Korea menganggap perkembangan itu sebagai suatu representasi dari kebudayaan Korea ke luar.
“Memang di mana pun di dunia pasti nanti bisa saja berperan, tapi bukan berarti negara membuat semacam intervensi dalam arti dominan. Itu akan sulit. Nanti kan di situ di dalamnya ada kementerian luar negeri pada saat dia misalnya memamerkan atau ada kunjungan keluar dalam konteks kebudayaan,” jelas Zaini.
ADVERTISEMENT
Dengan landasan tersebut, pusat-pusat kebudayaan Korea (Korean Culture Center) pun dibuka di berbagai negara. Saat ini, KCC sudah berdiri di 35 negara, termasuk di Indonesia. KCC hadir di Indonesia mulai tahun 2011.
kumparan secara eksklusif mewawancarai Direktur KCC Indonesia saat ini, Chun Young Poung, ihwal eksistensi lembaga tersebut. KCC secara masif mengenalkan produk budaya Korea di Indonesia, dari mulai drama, musik hingga makanan.
Direktur Korean Cultural Center Indonesia, Chun Youngpoung
Direktur Korean Cultural Center Indonesia, Chun Youngpoung. (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)
Tak hanya itu, pada 2019 nanti Chun mengungkap pihaknya akan berfokus memperkenalkan budaya tradisional Korea di Indonesia.
“Dan saya yakin kultur bisa menjadi alat yang terbaik untuk mengharmonisasi dan membuka hati orang. Dan, oleh karena itu, kita berusaha sangat erat untuk hubungan-hubungan yang akrab antara petinggi-petinggi dari kementerian atau dari pihak seni budaya Indonesia,” kata Chun.
Direktur KCC Indonesia, Chun Young Poung
Direktur KCC Indonesia, Chun Young Poung, memberikan sambutan di acara ulang tahun KCC yang ke-7, Jakarta, Sabtu (21/7). (Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan)
Simak ulasan lengkapnya dalam konten spesial kumparan dengan follow topik Hallyu Wave Serbu Indonesia.
ADVERTISEMENT
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan