Tumpukan Utang di Balik Gemerlap Popularitas Idola K-Pop

kumparanK-POPverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
H.O Eks Mad Town (Foto: Instagram @jhooooooooooooooo )
zoom-in-whitePerbesar
H.O Eks Mad Town (Foto: Instagram @jhooooooooooooooo )

Sebagian orang mungkin banyak yang menganggap kehidupan sebagai idola Korea Selatan pasti menyenangkan. Selalu tampil cantik dan tampan dalam balutan pakaian dengan brand ternama, bisa keliling dunia serta dicintai banyak penggemar merupakan bagian yang terlihat menyenangkan dari kehidupan seorang idola.

Pada kenyataannya menjadi idola K-Pop tak sepenuhnya menyenangkan. Meski mereka selalu kelihatan ceria dilayar kaca, namun mereka juga memiliki cerita pahit soal kerasnya industri musik Korea.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu mantan anggota boyband Mad Town, H.O. Dalam siaran Afreeca TV yang dilakukannya belum lama ini, ia membahas mengenai kebrutalan industri hiburan Korea Selatan.

Ia mengatakan persaingan di industri hiburan terutama dunia K-Pop, merupakan persaingan yang paling mengerikan. Persaingan yang sengit dimulai saat menjadi trainee untuk bisa debut. Setelah debut para trainee akan memiliki utang kepada agensi. Utang yang dimaksud adalah biaya yang dikeluarkan agensi untuk pembuatan video klip, biaya rekaman, fashion yang digunakan, pembuatan album, biaya pemotretan, dan lain sebagainya.

"Kalian memerlukan setidaknya uang sekitar 500 juta Won (setara dengan Rp 6,7 miliar) hanya untuk biaya pembuatan video klip, makan, pakaian, dan sebagainya. Itu berati dalam satu kelompok yang akan debut harus membagi-bagi modal yang telah dikeluarkan oleh agensi. Bila dalam satu kelompok terdiri dari tujuh orang, setidaknya masing-masing anggota harus menyiapkan uang sebesar 70 juta Won ( setara dengan Rp 940 juta). Namun pertanyaannya adalah bagaimana cara menghasilkan uang sebanyak 500 juta Won hanya dalam sekali promosi?" ungkapnya.

H.O juga mengunggapkan setiap idola yang tampil di acara musik Korea tidak dibayar. Faktanya, acara tersebut hanya sebagai tempat promosi grup K-Pop.

Para idola akan mendapat keuntungan lewat penjualan album, acara yang mengundang idola, tur dan konser di luar negeri. Namun menghasilkan uang sebesar 500 juta Won untuk grup yang tidak terkenal merupakan hal yang paling sulit.

Ia juga mengatakan meskipun telah bekerja keras ia dan mantan grupnya, Mad Town, tidak berhasil menjual banyak album. Grup-grup idola yang tidak populer hanya akan berakhir dengan utang yang besar kepada agensi yang mendebutkan mereka.

"Jika dalam kontrak pembagian hasil adalah 50:50, maka agensi akan mendapat keuntungan 50 persen dan 50 persen lainnya diberikan kepada grup. Namun 50 persen tersebut juga harus dibagi-bagi dengan anggota lainnya. Dengan 50 persen tersebut apakah kalian merasa kami memiliki keuntungan? Tidak, uang tersebut digunakan untuk menutupi utang," sambungnya.

Mantan maknae (anggota termuda) Mad Town ini juga mengatakan ia tidak menghasilkan uang selama menjadi idola. Hal ini harus dilakukannya karena ia harus melunasi utang-utangnya.

Para idola K-Pop juga ternyata memiliki jadwal tidur yang sedikit. Tidak hanya jam istirahat yang sedikit, mereka juga harus siap menghadapi komentar negatif dari para netizen. Tak heran jika banyak idola K-Pop mengalami kelelahan dari segi fisik dan mental.

Bersama Mad Town H.O melangsungkan debutnya pada 2014 lalu sebagai grup idola K-Pop. Namun sayangnya grup besutan J. Tune Camp ini harus dibubarkan pada tahun 2017 lalu.

Simak isi curhatan H.O di bawah ini

video youtube embed