2 Dongeng Anak Cerita Rakyat yang Penuh Pesan Moral
·waktu baca 7 menit

Salah satu cara mengenalkan anak dengan budaya Indonesia adalah dengan membacakan dongeng anak cerita rakyat. Cerita rakyat ini biasanya menjelaskan asal muasal suatu tempat atau adat istiadat di sebuah wilayah.
Cerita rakyat memiliki pesan moral yang dapat diajarkan untuk bekal kehidupan si kecil. Dulunya, cerita ini disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi, tapi saat ini sudah banyak cerita rakyat yang dibukukan. Anda tinggal membacakannya untuk anak sebelum tidur.
Membacakan dongeng sebelum tidur dapat menjadi momen berharga untuk makin merekatkan hubungan atau bonding antara orang tua dengan anak. Menurut Kid Spot, kegiatan sederhana ini juga dapat melatih kemampuan bahasa dan imajinasi anak. Jadi, sebaiknya bangun kebiasaan ini untuk kebaikan si kecil, Moms.
Dongeng Anak Cerita Rakyat
Berikut ini sejumlah cerita rakyat yang cocok dibacakan ke anak sebab membawa pesan moral yang baik.
1. Ande-Ande Lumut
Dikutip dari buku Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat Nusantara susunan Tim Bintang Ilmu, cerita rakyat Ande-Ande Lumut ini berasal dari Jawa Timur.
Kisahnya mengandung pesan untuk bersabar saat menghadapi masalah hidup. Selain itu, cerita rakyat ini juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga diri atau kehormatan.
Pada suatu hari, tinggallah seorang wanita cantik bernama Dewi Candra Kirana. Ia memiliki suami seorang putra mahkota Kerajaan Jenggala bernama Raden Putra.
Suatu ketika, Raden Putra diusir dari Kerajaan Jenggala karena tidak mau menggantikan ayahnya menjadi raja. Ia pergi tanpa memberitahu ataupun mengajak istrinya.
Akhirnya Dewi Candra Kirana mencari keberadaan suaminya dengan menyamar menjadi perempuan desa biasa. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang janda kaya, namanya Mbok Randa Karangwulusan.
Mbok Randa mengangkat Dewi menjadi anaknya dan mengganti namanya menjadi Kleting Kuning. Sebenarnya Mbok Randa sudah memiliki 3 anak perempuan. Mereka adalah Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru.
Ketiga anak Mbok Randa tidak menyukai dan iri pada kecantikan Kleting Kuning sehingga mereka selalu berperilaku jahat padanya. Mereka menyuruh Kleting Kuning menggunakan pakaian lusuh dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga.
Tubuh Kleting Kuning pun menjadi bau karena ia tidak memiliki kesempatan untuk mengurus diri sendiri. Meski begitu, Kleting Kuning tidak pernah mengeluhkan apa yang diperbuat saudaranya. Ia percaya kesabarannya akan membuahkan hasil di kemudian hari.
Suatu hari tersiar kabar bahwa di desa Dadapan ada seorang pria tampan yang sedang mencari istri. Mbok Randa memerintahkan ketiga anaknya untuk menemui pemuda tampan itu. Sedangkan Kleting Kuning diminta tetap di rumah.
Ketiga anak Mbok Randa memakai pakaian paling bagus lalu menuju desa Dadapan. Perjalanan menuju desa itu tidaklah mudah, mereka harus melewati sungai luas terlebih dahulu.
Saat kebingungan mencari cara melewati sungai, tiba-tiba muncullah seekor kepiting raksasa bernama Yayu Kangkang. Yayu Kangkang menawarkan bantuan dengan imbalan berupa ciuman dari ketiga putri Mbok Randa.
Mendengar itu, ketiganya tidak merasa keberatan sama sekali. Bagi mereka, yang terpenting adalah berhasil menyebrangi sungai demi bertemu pria tampan.
Kabar mengenai pemuda tampan itu sampai juga kepada Kleting Kuning. Ia pun meminta izin kepada Mbok Randa untuk ke desa Dadapan. Namun, ia justru mendapatkan cemoohan.
“Apa? Engkau ingin melamar Ande-Ande Lumut yang amat tampan itu? Bercerminlah dahulu dirimu hei Kleting Kuning, jangan sampai Ande-Ande Lumut muak melihat wajahmu yang menyedihkan,” ucap Mbok Randa.
Kletik Kuning tidak sakit hati sama sekali mendengar itu. Ia tetap bersikeras hingga akhirnya Mbok Randa mengizinkannya pergi.
Sama halnya dengan ketiga anak Mbok Randa, Kleting Kuning juga harus melewati sungai besar dengan bantuan Yayu Kangkang, tapi ia tidak kehabisan akal. Setelah berhasil menyebrangi sungai, Kleting Kuning menempelkan kotoran ayam ke pipinya, sehingga Yayu Kangkang tidak jadi menciumnya.
Sesampainya di desa Dadapan, Kleting Kuning mendapati ketiga saudaranya ditolak mentah-mentah oleh Ande-Ande Lumut. Itu karena mereka telah dicium oleh Yayu Kangkang.
Kleting Kuning terus melanjutkan perjalanannya menuju Ande-Ande Lumut. Kemudian tak disangka-sangka, Ande-Ande Lumut menyambut kedatangannya.
Ibu angkat Ande-Ande Lumut sampai berkata, “Begitu banyaknya gadis-gadis berwajah cantik dan menarik datang kepadamu, Nak, tapi kau senantiasa menolaknya. Sedangkan gadis kumal dan bau ini kau sambut dengan wajah berseri-seri.”
Mendengar itu, Ande-Ande Lumut segera menjawab, “Ibu jangan melihat penampilan luarnya. Sesungguhnya gadis ini mampu menjaga kehormatan dirinya. Tidak seperti gadis-gadis lainnya.”
Ketika itu, Kleting Kuning langsung meminta izin untuk membersihkan diri. Betapa kagetnya Ande-Ande Lumut ketika melihat Kleting Kuning yang sudah bersih, cantik, dan ternyata tak asing baginya.
“Dewi Candra Kirana! Ini aku Raden Putra suamimu.”
Seketika itu, semua orang yang melihat tercengang. Sedangkan Dewi Candra Kirana dan Raden Putra amat sangat senang karena kembali bertemu. Mereka akhirnya hidup bersama lagi sebagai suami istri di desa Dadapan.
2. Putri Bungsu dari Danau
Dikutip dari buku Cerita dari Tanah Papua oleh Muhamad Jaruki yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita rakyat ini mengambil latar Lembah Baliem di Papua.
Pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ini adalah tentang menepati janji yang telah dibuat. Kisah ini juga menanamkan nilai-nilai untuk berkebun dan menjaga alam.
Di Lembah Baliem terdapat sebuah danau yang sangat luas. Air danau itu sangat jernih. Di samping itu, di danau tersebut banyak ikannya dan tanah di sekelilingnya sangat subur.
Konon, Lembah Baliem dihuni oleh seorang laki-laki bernama Humpa yang merupakan keturunan dewa. Dia hidup seorang diri. Makanan sehari-harinya adalah daun pakis dan ikan yang diperolehnya dari Danau Baliem.
Hari terus berganti. Humpa merasa bosan dengan makanan sehari-harinya. Dia ingin memakan makanan yang lain. Oleh karena itu, timbul keinginan untuk berkebun dalam dirinya.
Dia membuka ladang di sekitar danau. Pagi hari dia berangkat, lalu pulang setelah matahari terbenam. Begitulah pekerjaan sehari-hari Humpa.
Pada suatu hari, ketika Humpa akan melanjutkan membuka ladang, dia sangat terkejut karena tanah di sekitar danau itu telah ditanami ubi jalar.
“Benarkah ini kebunku? Siapakah orang yang menanam ubi jalar di kebunku?” kata Humpa.
Untuk mencari jawabannya, Humpa lalu membuat sebuah rencana. Setelah bekerja seharian, dia mengumpulkan rumput kering di sekitar danau itu.
Malam pun tiba. Humpa bersembunyi di dalam rumput kering itu. Di tengah malam yang sunyi tiba-tiba dia mendengar suara orang bercakap-cakap dan tertawa riang dari arah danau. Dia segera mengintip dari tumpukan rumput kering. Dia melihat lima orang putri yang sangat cantik. Kelima putri itu masing-masing membawa seikat batang ubi jalar. Mereka lalu menanam ubi jalar itu di kebun Humpa.
Humpa sangat tertarik kepada kelima putri itu, terutama kepada Putri Bungsu karena lebih cantik daripada kakak-kakaknya. Karena itu, saat ada kesempatan yang baik, dia segera menangkap Putri Bungsu. Keempat kakaknya berlari kembali ke dalam danau.
“Inilah orang yang telah menanam ubi jalar di kebunku. Sekarang kau tertangkap dan tidak akan kulepaskan,” kata Humpa.
“Kakak, lepaskan aku!” kata Putri Bungsu.
“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.”
“Kakak, lepaskan aku. Nanti orang tuaku mencari-cariku.”
“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.”
Putri Bungsu meronta-ronta. Dia berusaha melepaskan diri dari tangan Humpa. Kemudian, Putri Bungsu mengubah dirinya menjadi ular agar Humpa melepaskannya. Namun, Humpa tetap menangkapnya erat-erat.
Putri Bungsu melakukan berbagai upaya untuk melepaskan diri dari tangan Humpa. Akan tetapi, usahanya selalu sia-sia. Akhirnya, Putri Bungsu kembali menjelma menjadi seorang gadis cantik jelita.
Humpa pun jatuh cinta kepada Putri Bungsu. Humpa mencoba menyampaikan isi hatinya kepada Putri Bungsu. Putri Bungsu dengan berat hati menerima keinginan Humpa. Putri Bungsu pun mengajukan syarat.
“Baiklah, aku menyerah dan bersedia menjadi istrimu,” kata Putri Bungsu, “tetapi sebelum kita menikah, kamu harus memenuhi syarat yang aku pinta.”
“Syarat apa sajakah yang harus aku penuhi?” tanya Humpa.
“Syarat yang kupinta tidaklah berat. Aku hanya meminta, setelah mempunyai anak nanti, izinkan aku kembali kepada keluargaku.”
“Mengapa kamu kembali kepada keluargamu?”
“Kalau aku tidak kembali kepada keluargaku, orang tuaku akan marah dan bumi akan hancur.”
“Baiklah, aku menyanggupi persyaratan yang kamu ajukan.”
Humpa menikah dengan Putri Bungsu. Mereka pun hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari mereka diwarnai dengan saling pengertian dan tenggang rasa. Mereka juga rajin berkebun. Pernikahan Humpa dengan Putri Bungsu dikaruniai tiga orang anak, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Pada suatu hari, ketika Putri Bungsu hendak melahirkan anak yang keempat, dia berpesan agar Humpa pergi berburu ke hutan selama sembilan hari. Humpa pun menuruti kehendak Putri Bungsu. Selama berburu, Humpa mendapat binatang buruan yang sangat banyak.
Pada hari kesembilan, Humpa pulang. Istrinya, telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Beberapa hari kemudian, Humpa mengadakan pesta sebagai rasa syukur atas kelahiran anaknya dan sekaligus sebagai upacara perpisahan dengan istrinya yang akan kembali kepada keluarganya di dalam danau.
Sesuai dengan janji dan demi kesejahteraan dunia serta kelangsungan hidup anak-anaknya, Humpa rela melepaskan kepergian istrinya. Akhirnya, tinggallah Humpa bersama keempat anaknya. Mereka melanjutkan kehidupan di Lembah Baliem.
