Kumparan Logo

3 Hal yang Bisa Membuat Bayi Anda Pintar

kumparanMOMverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi bayi. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi. Foto: Thinkstock

Otak bayi mengandung sekitar 100 miliar sel saraf saat lahir. Memasuki usia 3 tahun, sel-sel atau neuron tersebut terhubung dengan yang lain dan meningkat menjadi sekitar 100 triliun. Mengutip laman Parent 24, peningkatan sel saraf tersebut terbentuk melalui stimulasi dan interaksi berulang. Oleh karenanya orang tua disarankan untuk memberikan stimulasi atau rangsangan pada si kecil dalam 3 tahun pertamanya untuk membantu membangun jalur sel-sel sarafnya. Stimulasi tidak selalu melalui permainan. Tetapi juga bisa melalui cinta dan perhatian. Menurut hasil penelitian di Philadelphia, Amerika Serikat tahun 2010, anak-anak yang mendapat lebih banyak perhatian dan perawatan di rumah memiliki IQ lebih tinggi daripada anak yang tidak mendapatkan perhatian. Para peneliti juga menemukan korelasi kuat antara pola asuh yang diterapkan orang tua sebelum mereka berusia 4 tahun dengan ukuran hippocampus, yaitu bagian otak yang terkait dengan memori. Hasilnya, anak yang bahagia karena pola asuh orang tua yang benar bisa berkontribusi untuk menentukan struktur otak. Oleh karenanya, penting untuk membuat dan terus memelihara kebahagiaan anak sejak usia dini. Selain itu, 3 faktor ini juga bisa membantu perkembangan otak anak. Apa saja? 1. ASI

Ibu menyusui. Foto: Thinkstock

Setiap sedikit ASI yang didapat oleh bayi sangatlah berharga. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif di 6 bulan pertama hidup si kecil. Setelah itu, dilanjutkan hingga berusia 2 tahun dengan disertai pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, bila ibu tidak bisa menyusui atau harus menambah ASI dengan susu formula, maka pilihahkan susu formula yang kaya akan taurin dan asam lemak. Ahli gizi, Mareli Conradie, menyarankan ibu menyusui agar mengkonsumsi 120 gram ikan per minggunya atau makan makanan yang kaya akan asam lemak omega 3 setiap hari untuk meningkatkan asam lemak omega 3 pada ASI yang berguna untuk si kecil. Bila si kecil sudah mengkonsumsi makanan padat, Mareli juga menyarankan orang tua agar memberikan ikan dan daging sebagai menu makanannya untuk memenuhi kebutuhan taurin dan asam lemak omega 3. Bila si kecil tidak suka makan ikan atau daging, Anda bisa memberikannya suplemen yang mengandung lemak omega 3 dan omega 6. Suplemen ini biasanya tersedia dalam bentuk kapsul minyak, sehingga Anda bisa mencampurkannya dalam makanan atau susu atau ASI perah yang diminum bayi Anda. 2. Tidur

Bayi Tidur Nyenyak Foto: Pixabay

Penulis How Babies and Baldlers Really Sleep, Erica Neser, mengatakan tidur memiliki dampak spesifik pada perkembangan otak bayi. Siklus tidur bayi bervariasi yaitu antara tidur ringan dan tidur nyenyak. Satu jam pada siklus pertama, otak bayi menyimpan ingatan, lalu pada siklus akhir siklus otak mengeluarkan hormon pertumbuhan. Dokter Anak dan Akademis Dr Nils Bergman dari organisasi Neuroscience for Improved Neonatal Outcomes di Cape Town mengatakan bahwa seorang bayi yang tidur di dada ibu akan mengalami semua fase tidur. Tetapi bila ia tidur sendiran, bayi tidak mengalami siklus itu sama sekali. Bahkan menurut Nils seorang bayi yang tidur sendirian mungkin terlihat seperti tidur nyenyak, tetapi sebenarnya gelombang otaknya kacau. Nils percaya bahwa bayi harus melakukan kontak kulit dengan ibu mereka agar memiliki siklus tidur yang sehat. Banyak orang tua yang takut bahwa otak bayi mereka tidak akan berkembang bila mereka tidak cukup tidur. Hal itu mendorong beberapa orang tua untuk mencoba dan mengajarkan bayi mereka tidur sepanjang malam. Padahal sebenarnya, hal itu tidak serta merta membuat otak bayi menjadi sehat. Erica mengatakan sangat wajar dan alamiah sekali bila bayi sering terbangun pada malam hari di tahun pertama untuk menyusui atau bermain. Hal ini normal terjadi. 3. Memberikan stimulasi berupa gerakan

Ilustrasi Mainan untuk Bayi Foto: Pixabay

Gerakan sangat penting untuk menstimulasi sensorik bayi. Anda bisa memegang tangan bayi dan mengayunkannya untuk melatih motoriknya. Hal ini penting untuk tahap selanjutnya, yaitu keseimbangan, perencanaan, dan pengorganisasian si kecil. Ahli Terapi Okupasi dari Krugersdorp, Carina van der Westhuizen, mengatakan semakin sering bayi bergerak, maka indranya semakin terstimulasi. Hal ini bisa memperluas pengetahuan bayi tentang hal-hal di sekitarnya. Saat bayi bergerak, berbagai jalur neurologis dipupuk, kemudian akan diingat oleh anak pada tahap selanjutnya. Carina menyarankan, ketika keterampilan motorik kasar bayi Anda sudah berkembang dengan baik, fokuskan gerakan ke pengembangan otot-otot halus tangan dan jari. Nah Moms, berikut adalah beberapa aktivias yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu perkembangan otak bayi sejak usia 0 bulan hingga 1 tahun: - Pijatan - Berbaring telentang di pangkuan orang tua - Membacakan cerita - Memberikan mainan untuk bayi. Tak harus mahal, yang terpenting bisa menstimulasi perkembangan motorik dan sensoriknya - Bernyanyi dan memainkan alat musik - Mengajak bayi berbicara - Menggendong - Tummy time