kumparan
13 Agustus 2019 17:58

4 Jenis Kontraksi Jelang Persalinan yang Ibu Hamil Perlu Tahu

Selain air ketuban pecah, kontraksi merupakan salah satu tanda yang dialami ibu hamil jelang persalinan. Biasanya kontraksi ditandai dengan sakit perut yang melilit hinga pinggang dan berulang setiap 5-8 menit.
ADVERTISEMENT
Walau terdengar menyakitkan, nyatanya kontraksi menghasilkan hormon oksitosin yang memicu bayi keluar dari rahim. Sebab setiap perut berkontraksi, otot-otot rahim otomatis akan meregang dan melebar sehingga memberi jalan keluar untuk si kecil. Namun tak jarang, ibu hamil bingung apakah gejala yang mereka alami sekadar kram perut biasa atau kontraksi yang sesungguhnya.
Itulah kenapa ibu hamil perlu mengetahui jenis-jenis kontraksi agar Anda pun lebih siap nantinya. Ingin tahu apa saja? Berikut penjelasannya, dikutip dari Medical News Today.
ibu hamil alami kontraksi.jpg
ilustrasi kontrakis pada ibu hamil Foto: Shutterstock
  1. Kontraksi Braxton Hicks
Kontraksi braxton-hicks merupakan sebuah gejala yang mirip dengan kontraksi persalinan. Tak jarang, kontrasi ini disebut sebagai kontraksi palsu yang bertujuan untuk menyiapkan mulut rahim untuk membesar dan meningkatkan aliran darah ke dalam plasenta, Moms. Biasanya kontraksi ini terjadi pada trismester kedua atau ketiga.
ADVERTISEMENT
Ciri-cirinya antara lain kontraksinya tidak teratur, sensasi yang ditimbulkan lebih cenderung tidak nyaman daripada menyakitkan, kontraksi berada di sekitar pangkal paha atau di depan tubuh ibu hamil, dan bisa diatasi dengan berjalan atau berbaring.
ibu hamil sakit.jpg
Ilustrasi ibu hamil alami kontraksi Foto: Shutterstock
  1. Kontraksi Persalinan Prodromal
Persalinan prodromal mengacu pada kontraksi kelahiran yang dialami beberapa minggu sampai beberapa jam sebelum melahirkan. Kontraksi ini seringkali lebih kuat, sering muncul secara teratur, dan kadang-kadang lebih lama dari kontraksi braxton-hicks. Namun bukan berarti kontraksi ini merupakan tanda kelahiran.
Menurut dokter, persalinan prodromal bisa membantu bayi berpidah dari posisi yang salah ke posisi yang benar. Ciri-cirinya antara lain seperti tidak ada perubahan serviks setelah 24-36 jam, berbaring tidak membantu kontraksi tersebut hilang, dan cenderung lebih kuat dan tidak sering terjadi.
periksa kehamilan.jpg
Ilustrasi pemeriksaan kehamilan oleh dokter Foto: Shutterstock
  1. Kontraksi Persalinan prematur
ADVERTISEMENT
Early labor atau persalinan prematur adalah tahap di mana ibu hamil mengalami kontraksi kelahiran saat usia kandungan di bawah 37 minggu. Biasanya, kondisi serviks Anda akan melebar hingga 0-6 sentimeter. Kontraksi ini biasanya terjadi karena kondisi kehamilan yang tidak normal, seperti ibu mengalami suatu penyakit, kelainan bentuk rahim, bahkan stres bisa menjadi pemicunya.
Bila Anda mengalami ciri-ciri seperti merasakan sakit pada punggung, kesulitan bernapas saat kontraksi muncul, ada tekanan pada panggul, rasa sakit yang menjalar dari belakang hingga ke bagian depan, dan mengalami kram yang kuat, Anda wajib mengunjungi rumah sakit dan menghubungi bidan atau dokter.
kontraksi ibu hamil.jpg
Ilustrasi ibu hamil mengalami kontraksi aktif Foto: Shutterstock
  1. Kontraksi Persalinan Aktif (Active labor)
Memasuki usia kandungan 42 minggu, ibu hamil umumnya mulai mengalami kontraksi persalinan aktif. Pada tahap ini serviks akan mulai melebar mencapai 6 sentimeter artinya Anda sudah siap untuk melahirkan, Moms.
ADVERTISEMENT
Gejala yang dialami adalah kontraksi terjadi setiap 5 menit sekali atau lebih sering, kontraksi berlangsung 60 detik atau lebih, rahim mulai tidak rileks, ada rasa sakit dan tekanan yang signifikan di punggung saat kepala bayi bergerak menuju jalan lahir. Selain itu, pada saat ini mungkin Anda akan merasa seolah-olah akan buang air besar dan merasa akan mendorong sesuatu keluar.
Lalu bagaimana ibu hamil tahu kapan harus menghubungi bidan atau dokter, atau pergi ke rumah sakit?
Cobalah catat berapa kali kontraksi kelahiran dalam kurun waktu satu jam. Termasuk durasi dan intensitasnya. Kemudian cobalah untuk berbaring selama beberapa menit, apakah kontraksi membaik atau justru semakin sering.
Di luar soal durasi dan intensitas kontraksi, jika air ketuban pecah disertai cairan berwarna hijau atau coklat, segera ke rumah sakit ya, Moms.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan