Kumparan Logo

4 Jenis Pelecehan yang Bisa Terjadi pada Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
12
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak jadi korban pelecehan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak jadi korban pelecehan. Foto: Shutterstock

Pelecehan merupakan salah satu tindakan fisik dan non fisik yang perlu diwaspadai orang tua. Sebab, tindakan-tindakan tersebut dapat mempengaruhi mental dan psikologis anak di kemudian hari.

Moms, pelecehan yang bisa terjadi pada anak bukan hanya sekadar tindakan fisik, melainkan semua tindakan yang membahayakan kesehatan, tumbuh kembang, psikologis dan mental, hingga menimbulkan rasa trauma pada anak.

Sebuah studi statistik menemukan bahwa sekitar empat juta anak mengalami pelecehan, dan paling sering terjadi pada usia di bawah tiga tahun.

ilustrasi anak trauma. Foto: Shutterstock

Lantas, jenis pelecehan apa saja yang bisa terjadi pada anak? Simak penjelasan berikut ini sebagaimana dikutip dari Mom Junction.

Pelecehan fisik anak

Jika anak disinggung atau disakiti secara fisik, maka hal itu dapat disebut sebagai kekerasan fisik. Sebagian orang tua yang bermain fisik mungkin berpikir bila tindakan yang dilakukan benar untuk mendisiplinkan anak-anak. Namun, kekerasan fisik berbeda dengan hukuman fisik yang biasanya dilakukan untuk mendisiplinkan anak.

Jika anak-anak mengalami kekerasan fisik, maka mereka akan hidup dalam ketakutan terus-menerus. Sehingga, bukan hal yang tidak mungkin Anda akan lebih sulit mengendalikan perilaku dan sifat anak.

Pelecehan emosional atau psikologis

Saat emosi, mungkin beberapa orang tua sulit mengendalikan ucapan atau kalimat yang dilontarkan sehingga bisa menyinggung perasaan anak. Padahal, hal itu termasuk salah satu tindakan pelecehan emosional, dan bisa memicu gangguan psikologis anak.

Beberapa pelecehan emosional yang bisa terjadi pada anak, yaitu membanding-bandingkannya dengan anak orang lain, marah sambil berteriak, ataupun membatasi kasih sayang dalam bentuk tindakan.

Ilustrasi ibu marah pada anak. Foto: Shutter Stock

Pelecehan seksual

Pelecehan seksual mengacu pada setiap perilaku seksual yang tidak dipahami atau tidak disetujui oleh anak. Ketika anak-anak dilibatkan dalam situasi seksual–meski tidak melibatkan kontak fisik–maka itu dapat dikatakan sebagai pelecehan seksual. Selain menimbulkan rasa trauma, pelecehan seksual dapat memicu emosi dan rasa tidak percaya diri anak di kemudian hari. Mereka pun jadi enggan terbuka dengan orang di sekitarnya. Misalnya, takut mengungkapkan fakta sebenarnya karena takut terhadap ancaman sang pelaku.

Di samping itu, sebuah studi penelitian menemukan bahwa 1 dari 5 anak perempuan, dan 1 dari 20 anak laki-laki mengalami pelecehan seksual sebelum berusia 18 tahun. Sementara itu, 90 persen kasus lainnya, anak-anak mengenal orang yang melakukan tindakan itu.

kumparan post embed

Pengabaian anak

Selain ketiga bentuk pelecehan di atas, pengabaian anak juga termasuk salah satu bentuk pelecehan pada anak, lho Moms. Pengabaian anak dapat mengacu pada situasi saat kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi. Misalnya, tidak menyediakan makanan, pakaian, dan tempat tinggal; tidak memberikan cinta dan kasih sayang; dan tidak diberikan perawatan saat sakit.