5 Cara Atasi Konflik Anak dengan Guru

Guru merupakan orang tua Anak di sekolah. Sosoknya penting, karena selain menjaga anak di sekolah, guru diharapkan mampu menjadi panutan dan teladan bagi anak.
Oleh karena itu, jika suatu hari anak Anda berkonflik dengan gurunya, hal itu harus menjadi perhatian khusus, Moms.
Konflik anak dengan guru tidak bisa dianggap remeh. Bukan hanya bisa berdampak pada sisi akademis dan psikologis, tapi juga bisa mengganggu interaksi sosialnya.
Lalu, bagaimana cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi konflik anak dengan gurunya? KumparanMom (kumparan.com) merangkumnya dari Parenting berikut ini:
1. Mainkan peran sebagai reporter
Untuk bisa memahami masalah anak, Anda perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anda bisa bertanya pada anak secara detail agar Anda bisa mencari jalan keluar yang pas untuk anak Anda. Tapi ingat Moms, jangan sampai menghakimi anak dan membuatnya merasa tidak nyaman.
2. Jadilah layaknya advokat
Harp Domene, ibu tiga anak yang juga merupakan seorang Presiden di National Parent Teacher Association mengatakan, orang tua perlu mendorong anak untuk menguraikan runtutan cerita mengapa anak bermasalah dengan gurunya.
Anda perlu mendengarkan anak dengan seksama dan berusaha mengerti perasaannya. Tahanlah untuk menyela penjelasan, memarahi atau meneriaki anak. Pelan-pelan, setelah anak selesai bercerita, Anda bisa menerangkan mana yang baik dan seharusnya tidak ia lakukan.
3. Bertindak seperti diplomat

Jika masalah anak memang membutuhkan pembicaraan dengan guru, Anda bisa menentukan waktu untuk membahas masalah anak Anda dengan gurunya. Tapi ingat, jangan langsung emosi ya, Moms.
Dengarkan juga duduk permasalahan dari guru dan selesaikan bersama dengan kepala dingin.
4. Sampaikan aduan
Setelah bertemu dengan guru, namun masalah belum menunjukkan titik terang, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan kepala sekolah Moms. Namun, tetap lakukan dengan cara yang baik dan tenang.
5. Perubahan sistem
Jika keempat cara tersebut belum menemui hasil, Anda bisa mengusulkan perubahan sistem di sekolah anak Anda. Misalnya, cara mengajar guru yang tidak lagi ‘kaku’ atau terlalu menekan anak.
