5 Fakta Soal Kasus COVID-19 pada Anak yang Meningkat
·waktu baca 5 menit

Kasus positif COVID-19 kembali melonjak. Ya Moms, virus corona tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi anak-anak juga semakin rentan menjadi korban. Di Jakarta pun angka penularanya pada anak terus bertambah setiap hari.
“Tren kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun terus bertambah,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia dikutip dari PPID, Minggu (20/6).
Dari 5.582 kasus positif hari Minggu (20/6), 655 kasus terjadi pada anak usia 6 - 18 tahun, 224 kasus adalah anak usia 0 - 5 tahun, 4.261 kasus adalah usia 19 - 59 tahun, dam 442 kasus adalah usia 60 tahun ke atas.
Selain itu, bila dilihat dari sebaran kasusnya, corona di Jakarta pada Minggu (20/6) terbanyak di Jakarta Timur yang tercatat ada 1562 kasus dan disusul Jakarta Selatan dengan 1082 kasus.
Sementara kecamatan dengan jumlah kasus terbanyak, antara lain Cengkareng 238 kasus, Penjaringan 208 kasus, Tanjung Priok 206 kasus, dan Cilincing 202 kasus.
Oleh sebab itu, jangan sampai lengah, Moms. Anda tetap harus waspada dan memastikan anak serta keluarga di rumah dalam kondisi sehat.
Bila tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Namun, jika harus terpaksa ke luar rumah, pastikan Anda dan keluarga menerapkan protokol kesehatan dengan pakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.
Nah Moms, agar Anda semakin waspada dan menjaga anak untuk tetap di rumah, berikut adalah rangkuman soal fakta meningkatnya kasus positif COVID-19 pada anak.
Fakta-fakta soal Meningkatnya Kasus Positif COVID-19 pada Anak
Virus Corona Varian Baru Lebih Cepat Menginfeksi Anak-anak
Baru-baru ini, varian baru virus corona VUI - 202012/01 ditemukan di sejumlah wilayah di Inggris. Varian baru itu disebut lebih berbahaya karena dapat menular lebih cepat dibandingkan virus terdahulu.
Sejumlah ilmuwan dari kelompok penasihat ancaman virus pernapasan baru dan berkembang atau NERVTAG di Inggris terus melacak varian baru ini. Ya Moms, varian baru virus ini dikabarkan lebih mudah menginfeksi anak-anak.
“Ada petunjuk bahwa ia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menginfeksi anak-anak,” kata Neil Ferguson, profesor dan ahli epidemiologi penyakit menular di Imperial College London dan juga anggota NERVTAG dikutip dari Reuters, Selasa (22/12).
Nah Moms, lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi di Jakarta saat ini pun juga disertai dengan kekhawatiran varian baru corona yang sudah masuk ke ibu kota dan lebih mudah menyebar.
"Artinya kita menghadapi situasi wabah yang berbeda dengan awal tahun kemarin. Besar kemungkinan adalah varian baru yang dengan mudah menular termasuk kepada anak-anak," ujar Anies di Balai Kota, Selasa (22/6).
Kasus COVID-19 pada Anak Capai 12,5 Persen
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Aman B Pulungan, SpA, mengungkap kasus corona pada anak di Indonesia saat ini mencapai 12,5 persen.
"Data nasional saat ini menunjukkan kasus COVID-19 pada anak usia 0-18 tahun, yakni 12,5 persen. Artinya 1 dari 8 kasus [COVID-19 di RI] ini adalah anak," kata Aman dalam konferensi pers virtual yang disaksikan kumparan, Jumat (18/6).
Kematian Corona Anak di RI Tertinggi di Dunia
Selain itu, dr. Aman menambahkan, case fatality rate corona anak 3-5 persen, tertinggi di dunia. Itu juga berarti, kasus kematian anak akibat virus corona di Indonesia tertinggi di dunia.
"Dan saya sering mengatakan 50 persen kematian anak itu balita. Jadi dari seluruh anak yang meninggal itu 50 persennya balita," imbuh dr. Aman.
Angka Kematian Anak Akibat COVID-19 Capai 40 Persen
Angka kematian anak akibat COVID-19 juga cukup tinggi persentasenya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim dokter RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, kematian pasien COVID-19 pada anak mencapai 40 persen.
Penulis utama publikasi ilmiah angka kematian COVID-19 pada anak dari RSCM, Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, SpA(K), menjelaskan bahwa anak-anak yang terkena COVID-19 dibagi menjadi tiga jenis. Yang tanpa gejala sekitar 13 persen, gejala ringan 83 persen, dan gejala berat 3 persen.
“Anak-anak yang bergejala berat akhirnya diteliti, seberapa besar masalahnya pada anak-anak ini, dan di data kami ternyata 40 persennya meninggal," jelas dr. Rismala dalam acara ‘Obrolan Santai untuk Awam: Benarkah Angka Kematian Anak Sampai 40%? Bukannya Anak Lebih Ringan?’ pada Jumat (18/6).
Dari 50 anak yang dinyatakan positif corona, 20 di antaranya meninggal dunia. Sehingga benar, bahwa angka kematian pasien COVID-19 pada anak sampai 40 persen. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasien anak akibat COVID-19 meninggal, seperti usia, komorbid, kondisi berat, dan juga rumah sakit rujukan tersier.
ICU untuk Anak Terbatas
Menurut dr. Aman, ada yang berbeda apabila anak terpapar corona. Apalagi ruang ICU khusus anak tak tersedia di semua RS. Bayangkan, bila semakin banyak anak yang terkena COVID-19, tapi fasilitas kesehatannya tidak memadai.
"Saya bisa katakan anak berbeda karena sampai saat ini ICU khusus anak tidak tersedia di sebagian besar RS. Apalagi saat ini SDM juga sedang menurun termasuk dokter dan perawat, dan obat-obatan yang khusus juga banyak tidak tersedia. Jadi kita bisa kolaps," tambahnya.
Oleh sebab itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengimbau semua kegiatan yang melibatkan anak usia 0-18 tahun diselenggarakan secara daring saat ini. Orang tua atau pengasuh pun harus mendampingi anak saat beraktivitas daring maupun luring.
Dampingi anak-anak kita. Hindari membawa anak ke luar rumah. Kecuali mendesak, anak itu harus di rumah. Saat harus berkegiatan di luar rumah, hindari tempat dengan ventilasi tertutup. Ikuti prokes, disiplin di dalam rumah, perjalanan, dan luar rumah, termasuk orang tuanya," pesan dr. Aman.
dr. Aman pun mengingatkan orang tua agar selalu taat prokes. Sebab, hal itu bisa meminimalisir penularan virus ke anak. Selain itu, pastikan anak juga diimunisasi lengkap secara rutin untuk mencegah penyakit berbahaya lainnya.
"Kalau ortunya enggak taat kasian anaknya. Dan tetep imunisasi lengkap rutin untuk mencegah penyakit berbahaya lainnya. Kita harus bekerja sama melakukan pendampingan dan pengawasan prokes secara ketat di tempat umum," ucapnya.
