5 Hal tentang Pneumonia pada Bayi yang Perlu Orang Tua Pahami

3 Februari 2020 12:03 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pneumonia pada bayi sangat berbahaya Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pneumonia pada bayi sangat berbahaya Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Pneumonia pada bayi adalah hal yang perlu dipahami dan diwaspadai oleh setiap orang tua. Ya Moms, sebab penyakit ini bisa sangat berbahaya.
ADVERTISEMENT
Diberitakan oleh Berita Anak Surabaya (Basra), berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (Unicef), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia.
Hal ini juga dijelaskan oleh dr. Bony Pramono, Sp. A, dokter spesialis anak RSI A Yani Surabaya, kepada Basra.
"Pneumonia adalah penyakit yang banyak terjadi, yang menginfeksi kira-kira 450 juta orang per tahun dan terjadi di seluruh penjuru dunia. Pada 2015, WHO melaporkan hampir 6 juta anak balita di dunia meninggal dunia, 16 persen dari jumlah tersebut disebabkan pneumonia," kata Bony.
Lantas apa saja yang perlu dipahami dan diwaspadai terkait penyakit ini? Berikut kumparanMOM merangkumnya dari berbagai sumber untuk Anda:
ADVERTISEMENT

1.Apa itu pneumonia?

Ilustrasi bayi terkena infeksi paru-paru atau pneumonia Foto: Shutterstock
Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pneumonia merupakan radang akut yang menyerang jaringan paru dan sekitarnya. Radang akut ini merupakan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang paling berat, Moms. Tak heran bila masyarakat awam mengartikan pneumonia lebih singkat, yaitu: infeksi paru-paru atau paru-paru basah.
Pneumonia menyerang manusia tanpa mengenal usia. Namun, bayi, balita dan lansia adalah kelompok yang paling sering mengalaminya.
Pada generasi sebelumnya, pneumonia sangat berbahaya. Kini, dengan berbagai kemajuan di bidang kesehatan, sebagian besar anak dapat pulih dengan mudah jika mereka mendapatkan perhatian medis yang tepat.

2.Penyebab pneumonia

Pneumonia pada bayi dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri Foto: Shutterstock
Dilansir oleh Healthy Children, sebagian besar kasus pneumonia, terjadi mengikuti infeksi saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus. Virus yang paling sering menyerang adalah virus influenza. Biasanya, virus menyebar ke dada dan menghasilkan pneumonia di sana. Virus campak juga bisa mengakibatkan komplikasi berupa pneumonia.
ADVERTISEMENT
Namun pneumonia juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri penyebab pneumonia yang paling sering adalah penumokokus (Streptococcus pneumonia), HiB (Haemophilus influenza type b), dan stafilokokus (Staphylococcus aureus).
Selain virus dan bakteri, berbagai mikroorganisme lain, seperti parasit, jamur, bahkan pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru juga dapat menyebabkan penyakit ini.
Virus atau bakteri penyebab pneumonia di antaranya menyebar dari orang ke orang dengan batuk atau melalui kontak langsung dengan air liur atau lendir orang yang terinfeksi. Juga, jika infeksi virus telah melemahkan sistem kekebalan si kecil, bakteri mungkin mulai tumbuh di paru-paru, menambahkan infeksi kedua ke yang asli atau sebelumnya.

3.Siapa yang berisiko terkena pneumonia?

llustasi pneumonia pada bayi Foto: Shutterstock
Bayi atau anak yang kekebalan tubuh atau paru-parunya sedang lemah akibat satu penyakit lain, punya kelainan pada sistem kekebalan tubuh atau kanker (serta oleh kemoterapi yang digunakan untuk mengobati kanker), lebih berisiko terkena pneumonia. Begitu juga bila mereka memiliki saluran napas atau kondisi paru-paru abnormal.
ADVERTISEMENT
Karena sebagian besar bentuk pneumonia terkait dengan infeksi virus atau bakteri yang menyebar dari orang ke orang, penyakit ini lebih sering dialami anak di musim hujan seperti sekarang ini, Moms. Maklum, di musim inilah anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan sehingga kerap terjadi kontak dekat dengan orang lain.
Yang jelas, kemungkinan si kecil menderita pneumonia tidak dipengaruhi oleh bagaimana dia berpakaian atau oleh suhu udara.

4.Tanda dan gejala

Ilustrasi bayi demam dan terus menangis karena pneumonia Foto: Shutterstock
Seperti banyak infeksi, pneumonia biasanya menghasilkan demam, yang pada gilirannya dapat menyebabkan si kecil berkeringat, menggigil, kulit memerah, dan rewek karena rasa tidak nyaman.
Bila sudah mulai makan makanan padat, bayi dan balita yang mengalami pneumonia mungkin juga kehilangan nafsu makan dan tampak kurang energik dari biasanya. Selain itu, mereka mungkin juga terlihat pucat dan lemas, dan menangis lebih sering dari biasanya.
ADVERTISEMENT
Sebelum terkena pneumonia, seringnya bayi akan mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas (pada hidung dan tenggorokan), dengan gejala pilek maupun radang tenggorokan. Setelahnya akan menuju ke paru-paru. Lalu cairan (lendir) dan sel darah putih menutup saluran udara, sehingga paru-paru sulit berfungsi seperti biasanya, yang menyebabkan sesak napas.
ilustrasi bayi batuk Foto: Shutterstock
Karena dapat menyebabkan sesak atau kesulitan bernafas ini, Anda mungkin memperhatikan gejala lain yang lebih spesifik pada anak. Antara lain:
Meski begitu, bila pneumonia berada pada bagian bawah paru-paru dan dekat perut, bayi Anda mungkin tidak akan tampak mengalami masalah pernapasan. Melainkan ia akan mengalami demam dan sakit perut yang disertai muntah!
ADVERTISEMENT

3.Pengobatan

Istirahat yang cukup sangat diperlukan dalam pengobatan kasus pneumonia pada bayi Foto: Shutterstock
Ketika pneumonia disebabkan oleh virus, biasanya tidak ada pengobatan khusus selain istirahat dan langkah-langkah biasa untuk mengendalikan demam. Penekan atau obat pereda batuk yang mengandung kodein atau dekstrometorfan tidak boleh digunakan. Sebab batuk justru diperlukan untuk membersihkan sekresi berlebihan yang disebabkan oleh infeksi.
Pneumonia virus biasanya membaik setelah beberapa hari, meskipun batuk dapat menetap selama beberapa minggu. Tapi biasanya tetap tidak diperlukan obat. Jadi hindari sembarang memberi obat pada bayi ya, Moms! Berikan obat hanya dengan rekomedasi dari dokter.
Mengingat seringkali sulit untuk mengetahui apakah pneumonia disebabkan oleh virus atau bakteri, dokter anak Anda mungkin akan meresepkan antibiotik. Semua antibiotik harus diminum sesuai resep penuh dan dengan dosis spesifik yang direkomendasikan.
ADVERTISEMENT
Karena itu, jika mencurigai adanya pneumonia pada bayi, bawalah si kecil ke dokter agar bisa diperiksa lebih jauh.
Periksa kembali dengan dokter jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda peringatan berikut bahwa infeksi tersebut memburuk atau menyebar.

4.Pencegahan

pneumonia pada bayi dapat dicegah dengan pemberian vaksin atau imunisasi Foto: Shutterstock
Dijelaskan oleh Dr. Nastisi Kaswandani, Sp.A(K) dalam laman resmi IDAI, pencegahan bayi dari sakit karena pneumonia terutama dilakukan dengan memberikan imunisasi lengkap. Ini mencakup beberapa jenis imunisasi yang terkait pneumonia, dapat menurunkan kejadiannya sebesar 50 persen.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah merekomendasikan pemberian imunisasi PCV untuk bayi berumur 2 bulan hingga anak usia 5 tahun.
Sayangnya, vaksin pneumokokus sebagai vaksin program imunisasi rutin nasional. Dengan kata lain, belum disediakan oleh pemerintah sehingga belum bisa diperoleh secara gratis di puksesmas atau posyandu.
ADVERTISEMENT
Padahal mengacu laporan John Hopkins Bloomerg School of Public Heatlh 2015 : Pneumonia & Diarrhea Progress Report 2015, Indonesia adalah salah satu dari negara dengan kasus pneumonia tertinggi.