5 Pesan Penting soal Keluarga dari Film Ngeri Ngeri Sedap

11 Oktober 2022 16:26 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Cuplikan adegan film Ngeri Ngeri Sedap. Foto: Dok. Youtube Cinepolis Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Cuplikan adegan film Ngeri Ngeri Sedap. Foto: Dok. Youtube Cinepolis Indonesia
ADVERTISEMENT
Kabar bahagia datang dari dunia perfilman Tanah Air. Beberapa waktu lalu, film keluarga berjudul Ngeri Ngeri Sedap terpilih masuk nominasi wakil Indonesia di ajang Piala Oscar 2023.
ADVERTISEMENT
Ya Moms, film ini telah tayang di bioskop pada bulan Juni 2022 dan telah disaksikan oleh jutaan penonton. Bagi Anda yang belum menyaksikan, kini film Ngeri Ngeri Sedap sudah tayang di Netflix sejak 6 Oktober 2022.
Dibintangi oleh Asrwendy Bening Swara Nasution (Pak Domu), Tika Panggabean (Mak Domu), Boris Bokir (Domu), Gita Bebhita (Sarma), Lolox (Gabe) dan Indra Jegel (Sahat), film ini bercerita tentang keluarga Batak yang anak-anaknya pergi merantau.
Pak Domu dan Mak Domu dikisahkan sebagai keluarga asli Batak yang berhasil membesarkan keempat anaknya, Domu, Sarma, Gabe dan Sahat. Dari keempatnya, Sarma satu-satunya yang tinggal bersama Pak Domu dan Mak Domu, sementara anak yang lain memilih merantau ke Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
Awalnya semua baik-baik saja. Namun lama kelamaan, segalanya berubah ketika anak-anak Pak Domu mulai jarang pulang ke kampung. Ketika dihubungi dan diminta untuk pulang, anak-anak mereka menolak karena masih punya kesibukan masing-masing. Padahal Pak Domu dan Mak Domu sudah sangat rindu.
Cuplikan adegan film Ngeri Ngeri Sedap. Foto: Youtube/@Cinepolis Indonesia
Domu sebagai anak pertama sedang mempersiapkan pernikahannya dengan wanita asal Sunda. Gabe sedang menikmati pekerjaannya sebagai pelawak yang terkenal, padahal ia lulusan jurusan Hukum. Sementara Sahat, si anak bungsu, lebih memilih mengurus kakek tua daripada kedua orang tuanya.
Semua keputusan anaknya itu, ditentang oleh Pak Domu. Itu pula sebenarnya alasan kenapa ketiga anaknya yang pergi merantau tidak mau pulang ke kampung.
Gemas karena ketiga putranya tak kunjung pulang, Pak Domu dan Mak Domu akhirnya mengambil langkah ekstrem, yaitu pura-pura cerai. Tak disangka keduanya, strategi itu sukses dan anak-anaknya langsung pulang ke kampung. Namun, di balik kesuksesan itu, ada masalah besar menanti mereka semua.
ADVERTISEMENT
Moms, film Ngeri Ngeri Sedap menyuguhkan cerita yang penuh gelak tawa sekaligus air mata. Film dengan rating usia 7+ ini punya banyak pesan penting tentang keluarga, soal bagaimana caranya berkomunikasi, menghadapi perbedaan pendapat, hingga rasanya jadi orang tua yang terus belajar.
Apalagi, bila Anda orang Batak, perspektif bagaimana menjadi anak keluarga Batak yang merantau dan diharapkan menjadi kebanggaan orang tua, tampaknya akan jauh lebih mudah dipahami.

Apa Saja yang Bisa Dipelajari dari Film Ngeri Ngeri Sedap?

1. Keluarga Perlu Jadi Pendengar yang Baik Satu Sama Lain
Keluarga sepatutnya jadi tempat untuk berbagi. Ya Moms, bukan untuk menuntut tapi justru belajar mendengar satu sama lain. Keresahan seperti ini lah yang dituangkan lewat kisah keluarga Pak Domu dan Mak Domu.
ADVERTISEMENT
Pak Domu diceritakan kerap menuntut anaknya dan ingin semua anaknya mematuhi keinginannya. Misalnya saja, ia ingin Gabe bisa jadi hakim atau jaksa, padahal Gabe sangat menikmati profesinya sebagai pelawak.
Pak Domu tidak terbiasa mendengarkan keinginan anak-anaknya, sehingga saat dewasa, anak-anaknya tidak mau mendengarkan Pak Domu dan sering melawan.
Ya Moms, saling mendengarkan satu sama lain jadi salah satu kunci harmonis hubungan keluarga. Hal itu penting, agar masalah dalam keluarga bisa diselesaikan dengan baik.
2. Pentingnya Komunikasi antara Orang Tua dan Anak
Cuplikan adegan film Ngeri Ngeri Sedap. Foto: Dok. Youtube Cinepolis Indonesia
Pak Domu dan anak-anaknya tidak punya komunikasi yang baik. Mereka tidak terbiasa menerapkan diskusi keluarga dalam memecahkan masalah.
Di film ini, Pak Domu menunjukkan sikap bahwa segala masalah di keluarga harus diselesaikan dengan caranya. Akhirnya, anak-anaknya pun tidak terbiasa bercerita kepadanya, termasuk jika ada masalah.
ADVERTISEMENT
Padahal, orang tua dan anak mungkin saja punya perbedaan pendapat dan hal itu wajar terjadi. Agar menemukan solusi, penting untuk membuka ruang diskusi, Moms. Dengan begitu, orang tua dan anak bisa sama-sama nyaman menyampaikan pendapatnya dan menemukan solusi bersama.
3. Anak adalah Peniru Ulung
Cuplikan adegan film Ngeri Ngeri Sedap. Foto: Dok. Youtube Cinepolis Indonesia
Suatu hari, Sarma dan Domu terlibat sebuah percakapan. Sharma bertanya pada kakaknya, Domu, "Kenapa sih kalian akrab sama aku, tapi sesama kalian (saudara laki-laki) kaku sekali?"
Lalu, Domu menjawab "Bapak tak pernah tunjukkan rasa sayangnya ke kami, para laki-laki. Jadi, kami yang laki-laki ini enggak tahu caranya bersikap ke sesama laki-laki. Tapi, kalau Bapak ke kau (Sarma), kami sering lihat. Jadi kami tahu caranya bersikap, dik."
ADVERTISEMENT
Ya Moms, anak adalah peniru ulung. Ia mencontoh apa yang orang tua lakukan, hingga bagaimana cara orang tua bersikap. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, kita perlu menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita.
Selain itu, jangan ragu untuk menunjukkan rasa kasih sayang pada anak laki-laki. Dengan begitu, ia bisa tumbuh jadi pribadi yang penyayang dan berempati, Moms.
4. Ibu dan Ayah Punya Peran yang Sama Penting di Dalam Keluarga
Dalam film Ngeri Ngeri Sedap, Mak Domu selalu menurut dengan semua keputusan suaminya, meski sebenarnya ia tidak setuju. Misalnya saja, saat Pak Domu meminta Mak Domu untuk pura-pura minta cerai agar anak-anaknya mau pulang.
Mak Domu pun akhirnya mengutarakan isi hatinya yang mengganjal selama ini kepada Pak Domu. Ya Moms, ibu dan ayah punya peran yang sama penting di dalam keluarga.
ADVERTISEMENT
Begitu pula dalam mengambil keputusan. Perlu diskusi bersama antara ayah dan ibu, jangan sampai ada yang merasa paling benar sendiri.
5. Jadi Orang Tua adalah Proses Belajar Sepanjang Masa
Di suatu malam, Pak Domu berkunjung ke rumah ibunya. Ia merasa gagal menjadi ayah yang baik dan merasa bersalah dengan istri serta anak-anaknya.
Pak Domu bercerita kepada ibunya, bahwa ia bersikap seperti itu kepada anak-anaknya karena meniru bagaimana sang ayah mendidiknya saat kecil.
Lalu yang menarik, ibunya Pak Domu berkata "Bapakmu berhasil untuk anak seperti kalian, yang tinggal di sini, sekolahnya sampai SMP-SMA. Tapi kau, sekolahkan anakmu jauh-jauh, tinggi-tinggi. Kalau anakmu jadi pintar dan jago berpikir, jangan kau marah."
ADVERTISEMENT
"Kalau anak berkembang, orang tua pun harus berkembang. Jadi orang tua itu tak ada tamatnya. Harus belajar terus," lanjutnya.
Ya Moms, jadi orang tua adalah proses belajar sepanjang masa. Pola pengasuhan juga bisa berkembang sesuai zaman. Jadi, teruslah mencari informasi dari sumber-sumber terpercaya.
Pak Domu sebenarnya sangat meyayangi anak-anak dan istrinya. Ia hanya terlalu kaku dan sulit menyampaikan rasa sayangnya kepada keluarga. Dari Pak Domu, mungkin kita bisa belajar, bagaimana jadi orang tua yang lebih luwes agar anak-anak pun bisa terbuka dan nyaman bercerita.