kumparan
Mom18 Mei 2019 19:24

6 Gendongan Bayi yang Unik dari Mancanegara

Konten Redaksi kumparan
Gendongan bayi.
Gendongan bayi. Foto: Shutterstock
Ada beragam cara menggendong bayi di dunia, juga termasuk kain gendongan-nya lho, Moms. Tentu saja, hal ini tak lepas dengan budaya dari masing-masing negara tersebut. Berikut adalah aneka jenis gendongan dari berbagai negara yang telah dirangkum kumparanMOM. Yuk, simak!
ADVERTISEMENT
Indonesia
KAIN INDONESIA - JARIK
Sarwendah menggendong anaknya menggunakan Kain Jarik Foto: IG: @sarwendah29 @kainbatik_busis
Di Indonesia ada kain jarik yang begitu khas digunakan sebagai gendongan. Jarik adalah kain yang mempunyai motif batik dengan berbagai corak. Kira-kira sejak berusia 0 bulan, ibu menggendongnya di bagian depan dengan cara membaringkannya. Saat otot kaki bayi makin kuat, lalu ibu akan menggendong bayinya di samping, di depan atau di punggung ibu, dengan posisi bayi 'mengangkang'.
Selain menjadi gendongan, kain jarik juga digunakan oleh masyarakat sebagai bawahan, alas tidur bayi, hingga alas dan kain penutup untuk orang meninggal. Saat ini, memang sudah banyak alat gendong bayi yang lebih instan dan modern, namun bagi sebagian perempuan, mereka tetap lebih nyaman menggendong anaknya menggunakan jarik.
Alasannya bisa karena kainnya lebih terasa adem di kulit, juga bayi juga lebih merasa nyaman berada dalam gendongan jarik, yang sifatnya lebih fleksibel karena pemakaiannya disesuaikan dengan kenyamanan anak. Motif paling terkenal adalah motif sidomukti, sidomulyo, sekar jagad, dan beberapa motif lainnya.
ADVERTISEMENT
Peru
Di Peru, orang tua menggunakan manta sebagai alat untuk menggendong anaknya. Manta adalah kain tenun yang berbentuk persegi ini, dibuat dengan kombinasi warna-warna mencolok. Cara menggunakan manta sebagai alat gendongan bayi adalah dengan menalikan kedua ujung di dada dan menempatkan si kecil di punggung.
Afrika
Kanga atau katinge adalah sejenis kain katun panjang bermotif, digunakan sebagai alat gendongan di Mozambik, Afrika. Cara menggunakan kanga adalah dengan diikat pada salah satu bahu dengan posisi anak menyamping di atas pinggang. Jika digelar, kanga bisa sangat lebar, cukup untuk melapisi seluruh bagian tubuh si kecil.
Jepang
Orang tua di negara sakura ini menggunakan gendongan yang disebut onbuhimo, Moms. Onbuhimo adalah kain panjang yang disilangkan di bagian dada, lalu diikat pada bagian pinggang ibu, dan menggendong bayi di punggungnya. Dulu gendongan onbuhimo warna dan motifnya terbatas, namun kini onbuhimo tampil lebih modern dengan pilihan motif dan warna yang beragam.
Ibu dan anak Korea Selatan
Penyebab balita takut pisah dengan ibunya Foto: Instagram @euniepark_
Korea
ADVERTISEMENT
Di Korea, ibu-ibu menggunakan padoegi yaitu kain berbentuk persegi panjang dengan talinya yang juga panjang sebagai alat gendongan. Cara menggunakan padoegi pertama-tama, bagian persegi panjangnya dililitkan ke tubuh Anda secara berlapis. Kemudian, dibungkuskan ke bagian bawah badan bayi, lalu diikat di bagian depan tubuh Anda. Posisi bayi di bagian belakang, persis tas ransel tanpa sandaran, Moms.
Cina
Mei tai adalah gendongan yang digunakan oleh orang tua di Cina. Mei tai adalah selendang berbentuk persegi, dengan tali pada masing – masing sudutnya. Dulu gendongan ini sempat tidak populer, lalu pada abad awal 20 gendongan ini diadaptasi oleh beberapa produsen agar menjadi modern dengan tali diikat bukan diselip.
Versi modern dari mei tai ini memiliki tali sabuk bahu yang lebar dengan bantalan atau tali sabuk yang ekstra lebar pula, tanpa bantalan, yang menyerupai baby wrap. Tujuannya untuk memberikan kenyamanan bagi pemakainya.
ADVERTISEMENT
Gendongan mei tai versi modern ini juga menawarkan berbagai fitur, seperti headrest atau sleeping hood yaitu tudung untuk menutup kepala bayi ketika tidur, kantong penyimpan popok atau keperluan lainnya, dan berbagai pilihan bahan dari mulai yang sederhana sampai yang mewah.
---------------------------------------------------------
Masih ada artikel-artikel seputar Gendongan Bayi yang kumparanMOM siapkan untuk Anda. Agar betul-betul paham, yuk baca habis semuanya!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan