Kumparan Logo

6 Jenis Kelainan Otot pada Anak dan Gejalanya

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kelainan otot pada anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelainan otot pada anak. Foto: Shutter Stock

Ada berbagai macam gangguan kesehatan yang bisa dialami anak, salah satunya kelainan otot atau dalam istilah medis dikenal sebagai distrofi otot. Ya Moms, kondisi ini bisa menyebabkan anak kesulitan bergerak dan kehilangan kontrol.

Distrofi otot disebabkan oleh mutasi gen yang memengaruhi protein di otot anak. Sehingga, tubuh sulit memproduksi protein untuk membangun dan memelihara otot yang sehat.

Jenis kelainan otot ini bervariasi, sehingga gejala masing-masing anak yang mengalaminya pun juga bisa berbeda. Di samping itu, penyakit ini tidak dapat dicegah karena umumnya disebabkan oleh faktor genetik. Sebab, dalam beberapa kasus, riwayat keluarga dengan distrofi otot dapat menjadi penyebab utamanya.

Ilustrasi nyeri otot. Foto: wikimedia.org

Dikutip dari Mom Junction, berikut beberapa jenis distrofi otot beserta gejalanya pada anak.

Jenis dan Gejala Kelainan Otot pada Anak

Distrofi Otot Duchenne (DMD)

Distrofi otot duchenne umumnya dialami anak berusia 3 - 6 tahun. Sekitar 50 persen kasus distrofi otot duchenne dialami oleh anak laki-laki. Namun, tidak menutup kemungkinan anak perempuan bisa mengalaminya juga. Kelainan ini disebabkan oleh kesalahan gen pada kromosom X dalam tubuh.

Gejala DMD pada anak meliputi:

  • Kesulitan berdiri dari posisi duduk atau berbaring

  • Tidak seimbang saat berjalan

  • Sulit untuk melompat dan berlari

  • Sering terjatuh

  • Otot betis membengkak

Distrofi Otot Becker (DOB)

Distrofi Otot Becker disebabkan oleh mutasi gen DMD yang bertanggung jawab memproduksi protein distrofin untuk mempertahankan kekuatan otot. Sama seperti DMD, jenis kelainan otot ini lebih sering dialami oleh anak laki-laki.

Gejala DOB pada anak meliputi:

  • Sering terjatuh

  • Berjalan jinjit

  • Sering mengalami kram otot

  • Gejala muncul lebih lambat daripada gejala DMD

Ilustrasi anak jatuh. Foto: Dok. Shutterstock

Distrofi Otot Bawaan (CMD)

Distrofi otot bawaan pada anak diyakini disebabkan oleh mutasi genetik. Namun, kondisi ini jarang terjadi. Ya, hanya sekitar 3 dari 100.000 kelahiran anak mengalami distrofi otot bawaan.

Gejala CMD pada anak meliputi:

  • Kelemahan tonus otot saat lahir

  • Keterlambatan berjalan

  • Anak sering lemas

  • Sulit mengontrol atau menopang leher dan kepala

Distrofi Otot Emery-Dreifuss (EDMD)

Sama seperti distrofi otot bawaan, jenis kelainan otot pada anak ini juga jarang terjadi. Ya, hanya sekitar 1 dari 100.000 kelahiran. Kelainan otot jenis EDMD dapat terjadi pada usia berapa pun, dimulai sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Gejala EDMD pada anak meliputi:

  • Kekakuan tulang belakang

  • Melemahnya otot-otot di lengan atas dan kaki bagian bawah

  • Sulit menggerakan siku, lutut, tulang belakang, pergelangan kaki, dan leher belakang

Distrofi Otot Facioscapulohumeral (DOF)

Perkembangan distrofi otot facioscapulohumeral cenderung lambat. Sebab, kelainan otot yang bisa dialami anak laki-laki dan perempuan ini disebabkan oleh penghapusan materi genetik dari wilayah DNA tertentu. Di samping itu, kelainan ini memengaruhi kekuatan otot-otot di wajah anak.

Gejala DOF pada anak meliputi:

  • Posisi bahu miring

  • Gangguan pada mata seperti sulit mengedipGangguan pada telinga seperti sulit mendengar

  • Gangguan pada mulut seperti sulit berbicara, menelan, mengunyah, dan bersiul

Ilustrasi anak susah makan. Foto: Sataporn P/Shutterstock

Distrofi Otot Limb-Korset (LGMD)

Jenis kelainan otot lainnya adalah distrofi otot limb-korset. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh mutasi beberapa gen di dalam tubuh anak. Sekitar 1 dari 14.500 hingga 1 dari 123.000 orang yang berusia masa akhir kanak-kanak mengalami distrofi otot limb-korset.

Gejala LGMD pada anak meliputi:

  • Otot melemah di sekitar pinggul dan menyebar melalui leher, bahu, dan kaki

  • Sering terjatuh

  • Berjalan tidak seimbang

  • Tulang belakang terasa kaku