6 Jenis Kelainan Otot pada Anak dan Gejalanya
ยทwaktu baca 3 menit

Ada berbagai macam gangguan kesehatan yang bisa dialami anak, salah satunya kelainan otot atau dalam istilah medis dikenal sebagai distrofi otot. Ya Moms, kondisi ini bisa menyebabkan anak kesulitan bergerak dan kehilangan kontrol.
Distrofi otot disebabkan oleh mutasi gen yang memengaruhi protein di otot anak. Sehingga, tubuh sulit memproduksi protein untuk membangun dan memelihara otot yang sehat.
Jenis kelainan otot ini bervariasi, sehingga gejala masing-masing anak yang mengalaminya pun juga bisa berbeda. Di samping itu, penyakit ini tidak dapat dicegah karena umumnya disebabkan oleh faktor genetik. Sebab, dalam beberapa kasus, riwayat keluarga dengan distrofi otot dapat menjadi penyebab utamanya.
Dikutip dari Mom Junction, berikut beberapa jenis distrofi otot beserta gejalanya pada anak.
Jenis dan Gejala Kelainan Otot pada Anak
Distrofi Otot Duchenne (DMD)
Distrofi otot duchenne umumnya dialami anak berusia 3 - 6 tahun. Sekitar 50 persen kasus distrofi otot duchenne dialami oleh anak laki-laki. Namun, tidak menutup kemungkinan anak perempuan bisa mengalaminya juga. Kelainan ini disebabkan oleh kesalahan gen pada kromosom X dalam tubuh.
Gejala DMD pada anak meliputi:
Kesulitan berdiri dari posisi duduk atau berbaring
Tidak seimbang saat berjalan
Sulit untuk melompat dan berlari
Sering terjatuh
Otot betis membengkak
Distrofi Otot Becker (DOB)
Distrofi Otot Becker disebabkan oleh mutasi gen DMD yang bertanggung jawab memproduksi protein distrofin untuk mempertahankan kekuatan otot. Sama seperti DMD, jenis kelainan otot ini lebih sering dialami oleh anak laki-laki.
Gejala DOB pada anak meliputi:
Sering terjatuh
Berjalan jinjit
Sering mengalami kram otot
Gejala muncul lebih lambat daripada gejala DMD
Distrofi Otot Bawaan (CMD)
Distrofi otot bawaan pada anak diyakini disebabkan oleh mutasi genetik. Namun, kondisi ini jarang terjadi. Ya, hanya sekitar 3 dari 100.000 kelahiran anak mengalami distrofi otot bawaan.
Gejala CMD pada anak meliputi:
Kelemahan tonus otot saat lahir
Keterlambatan berjalan
Anak sering lemas
Sulit mengontrol atau menopang leher dan kepala
Distrofi Otot Emery-Dreifuss (EDMD)
Sama seperti distrofi otot bawaan, jenis kelainan otot pada anak ini juga jarang terjadi. Ya, hanya sekitar 1 dari 100.000 kelahiran. Kelainan otot jenis EDMD dapat terjadi pada usia berapa pun, dimulai sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.
Gejala EDMD pada anak meliputi:
Kekakuan tulang belakang
Melemahnya otot-otot di lengan atas dan kaki bagian bawah
Sulit menggerakan siku, lutut, tulang belakang, pergelangan kaki, dan leher belakang
Distrofi Otot Facioscapulohumeral (DOF)
Perkembangan distrofi otot facioscapulohumeral cenderung lambat. Sebab, kelainan otot yang bisa dialami anak laki-laki dan perempuan ini disebabkan oleh penghapusan materi genetik dari wilayah DNA tertentu. Di samping itu, kelainan ini memengaruhi kekuatan otot-otot di wajah anak.
Gejala DOF pada anak meliputi:
Posisi bahu miring
Gangguan pada mata seperti sulit mengedipGangguan pada telinga seperti sulit mendengar
Gangguan pada mulut seperti sulit berbicara, menelan, mengunyah, dan bersiul
Distrofi Otot Limb-Korset (LGMD)
Jenis kelainan otot lainnya adalah distrofi otot limb-korset. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh mutasi beberapa gen di dalam tubuh anak. Sekitar 1 dari 14.500 hingga 1 dari 123.000 orang yang berusia masa akhir kanak-kanak mengalami distrofi otot limb-korset.
Gejala LGMD pada anak meliputi:
Otot melemah di sekitar pinggul dan menyebar melalui leher, bahu, dan kaki
Sering terjatuh
Berjalan tidak seimbang
Tulang belakang terasa kaku
