Kumparan Logo

6 Mitos soal Kesehatan yang Beredar di Masyarakat

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi keluarga yang sehat dan bahagia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga yang sehat dan bahagia. Foto: Shutter Stock

Kesehatan dan kebugaran tubuh merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan pada setiap anggota keluarga. Setiap masalah kesehatan perlu dikonsultasikan pada tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat. Sayangnya, informasi soal kesehatan di Indonesia masih kerap disertai dengan berbagai mitos yang tidak terbukti secara ilmiah.

Mitos yang beredar di tengah masyarakat membuat banyak orang salah kaprah dalam mengartikan dan menangani masalah kesehatan yang dialaminya. Keberadaan mitos hingga zaman modern ini dianggap membahayakan kesehatan masyarakat.

Ya Moms, menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Cindiawaty J. Pudjiadi, MARS, MS, Sp.GK, setidaknya ada sekitar 6 mitos yang beredar di masyarakat terkait kesehatan sehingga perlu dipahami bersama soal kebenarannya.

Mitos soal Kesehatan yang Beredar di Masyarakat

Ilustrasi sate kambing. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

1. Makan daging kambing bikin perkasa

Daging kambing merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang baik untuk kesehatan. Selain itu, daging kambing juga mengandung beberapa nutrien seperti, zinc, magnesium, vitamin B12, dan arginine. Kekurangan nutrisi tersebut sering kali dihubungkan dengan disfungsi ereksi, sehingga konsumsi daging kambing kerap dianggap dapat menambah keperkasaan.

“Daging kambing memang mengandung banyak nutrisi yang sering dihubungkan dengan fungsi ereksi, akan tetapi tentu saja nutrien tersebut juga terdapat di bahan makanan lainnya. Sehingga, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi (fungsi ereksi) tidak cukup hanya dengan konsumsi daging kambing saja,” jelas dr. Cindi saat hadir dalam acara Press Briefing Peluncuran Kampanye #PatahkanMitos yang digelar AXA Mandiri di Grand Indonesia Mall, Kamis (29/9).

Ilustrasi memungut makanan jatuh. Foto: Shutterstock

2. Makanan jatuh 5 menit boleh dimakan

Hal ini sering terjadi terutama pada anak-anak di mana orang tuanya memperbolehkannya mengambil kembali makanan yang sudah jatuh karena belum lewat 5 menit. Padahal sebenarnya tidak perlu hingga selama itu, Moms. Faktanya, bakteri bisa berpindah ke makanan hanya dalam beberapa detik saja.

“Misalnya saja bakteri e-coli itu bisa berpindah sangat cepat ke makanan dalam beberapa detik. Kalau kita mengkonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi bakteri bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti gangguan pencernaan, sakit, perut, dan diare,” lanjut dr. Cindi.

Ilustrasi ibu hamil minum air kelapa. Foto: Shutter Stock

3. Minum air kelapa saat hamil agar kulit bayi bersih

Mitos yang satu ini cukup terkenal di kalangan ibu hamil. Apakah Anda juga pernah mendengarnya, Moms?

Yang perlu kita pahami bersama, kondisi kesehatan tubuh dan kulit bayi di dalam kandungan bergantung pada banyak faktor, termasuk genetik, asupan nutrisi, serta kesehatan ibu. Kebersihan kulit bayi di dalam kandungan tidak dapat diubah hanya dengan mengkonsumsi air kelapa.

Mengoleskan pasta gigi ke luka bakar. Foto: Ade Naura Intania/kumparan

4. Pasta gigi untuk sembuhkan luka bakar

Jika ada anggota keluarga terutama anak-anak yang terkena luka bakar, sebaiknya Anda tidak tergesa-gesa untuk mengoleskan pasta gigi pada area luka. Sebab, cara ini justru dapat memperburuk keadaan luka. Menurut dr. Cindi, meski hanya luka bakar ringan, paparan pasta gigi justru dapat mengiritasi luka dan menyebabkan daerah sekitarnya infeksi.

Sebaiknya, lakukan pertolongan pertama dengan menyiram area luka menggunakan air mengalir, atau gunakan handuk bersih yang sudah dibasahi untuk membungkus luka selama 15-20 menit. Jika luka bakar menimbulkan sakit yang hebat, cobalah untuk mengkonsumsi pereda nyeri atau segera ke dokter.

Ilustrasi wanita sakit. Foto: aslysun/Shuttterstock

5. Istilah masuk angin

Moms, ternyata istilah masuk angin tidak ada di dunia medis lho. Tetapi, banyak orang yang mengartikan ketidaknyamanan pada tubuhnya sebagai masuk angin.

“Tidak ada istilah masuk angin di dunia medis. Jadi, kalau pasien datang dan bilang dia masuk angin, kita (dokter) pasti menanyakan keluhan, gejalanya, mengecek suhu, dan itu biasanya adalah gejala flu, pilek, batuk, atau kalau sekarang ada COVID-19 juga,” ujar dr. Cindi.

Air dingin Foto: thinkstockphotos

6. Minum air dingin bikin gemuk

Air minum yang bersuhu dingin seperti air es tidak akan membuat tubuh menjadi gemuk atau menambah berat badan. Sebab, air minum tanpa tambahan apa pun tidak memiliki kandungan kalori yang bisa mempengaruhi berat badan. Lain halnya bila Anda mencampur air dengan bahan yang mengandung kalori seperti gula misalnya.

Ya Moms, itulah beberapa mitos soal kesehatan yang umum didengar di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, AXA Mandiri sebagai perusahaan asuransi jiwa berkomitmen untuk membantu masyarakat agar dapat menerima informasi kesehatan berbasis fakta, salah satunya dengan menggunakan layanan asuransi digital Emma.

“Kami mendorong masyarakat untuk meninjau ulang informasi yang beredar sambil memberikan kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang Emma dari AXA Mandiri serta manfaatnya sebagai layanan asuransi dan kesehatan digital satu pintu untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan nasabah dan keluarganya,” ungkap Presiden Direktur AXA Mandiri, Handojo G. Kusuma yang juga hadir dalam cara tersebut.

kumparan post embed