6 Penyakit pada Anak yang Bisa Dicegah dengan Imunisasi

7 Juli 2022 11:30
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi anak imunisasi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak imunisasi. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Salah satu cara untuk mencegah berbagai penyakit yang bisa menyerang anak adalah imunisasi. Ya Moms, selain bisa melindungi si kecil dari berbagai jenis penyakit infeksi, imunisasi lengkap juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh si kecil.
ADVERTISEMENT
Imunisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan vaksin secara bertahap, atau bisa dengan meneteskannya di lidah anak. Dengan begitu, sistem kekebalan tubuh anak dapat membentuk antibodi virus tersebut.
Imunisasi untuk anak.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Imunisasi untuk anak. Foto: Shutterstock
Nah Moms, berikut beberapa jenis penyakit yang bisa terjadi pada anak, tetapi bisa dicegah melalui imunisasi.

Macam-macam Penyakit pada Anak yang Bisa Dicegah dengan Imunisasi

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
1. Campak, gondok, dan rubella
Penyakit campak (measles), gondok (mumps), dan rubella (MMR) adalah sekelompok penyakit yang cukup sering dialami anak-anak. Dikutip dari Very Well Family, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat lebih dari 140.000 kematian disebabkan oleh campak pada 2018, lebih dari 680.000 anak mengalami gondok pada 2012, dan terdapat lebih dari 94.000 kasus infeksi rubella.
Meski demikian, penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin MMR, Moms. Jenis vaksin ini biasanya diberikan pada masa kanak-kanak sebanyak dua dosis. Dosis pertama umumnya diberikan saat usia 12-15 bulan, dan dosis kedua pada usia 4-6 tahun.
ADVERTISEMENT
2. Difteri, pertusis, tetanus
Cara efektif untuk mencegah penyakit difteri, pertusis atau batuk rejan, dan tetanus, adalah dengan vaksin DPT. Sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksin ini dilakukan sebanyak tiga kali, dimulai saat anak berusia 2-6 bulan.
Imunisasi ini termasuk salah satu imunisasi wajib yang perlu diberikan pada anak, Moms. Sebab, difteri pernah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada awal 2018 karena terdapat lebih dari 950 kasus di 30 provinsi Indonesia.
3. Rotavirus
Belum lama ini Kemenkes menetapkan vaksin rotavirus sebagai imunisasi yang wajib diperoleh anak-anak. Sebab, infeksi rotavirus ternyata menjadi penyebab kematian nomor dua pada anak. Gejala khas infeksi rotavirus pada anak adalah sembelit sampai diare.
Ilustrasi vaksin rotavirus.
 Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vaksin rotavirus. Foto: Shutter Stock
4. Tuberkulosis (TBC)
ADVERTISEMENT
Tuberkulosis merupakan infeksi bakteri yang menyerang paru-paru anak. Berdasarkan data WHO pada 2015, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai penyumbang kasus TBC terbanyak di dunia. Bahkan, penyakit ini termasuk kategori penyakit menular yang menyumbang angka kematian terbanyak di Indonesia.
Salah satu cara untuk mengurangi angka kematian itu adalah dengan memberikan vaksin BCG. Sesuai rekomendasi IDAI, vaksin BCG hanya diberikan satu kali, yakni sebelum usia 2 bulan.
5. Polio
Polio termasuk salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus enterovirus. Paparan virus ini dapat menyerang sistem saraf anak hingga menyebabkan kelumpuhan.
Sesuai dengan rekomendasi IDAI, vaksin polio diberikan sebanyak dua tetesan melalui mulut. Imunisasi dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama diberikan saat bayi baru lahir, dan tiga tahap berikutnya diberikan dengan durasi waktu tidak kurang dari empat minggu.
ADVERTISEMENT
6. Hepatitis B
Hepatitis B disebabkan oleh infeksi virus pada hati. Dalam beberapa kasus, infeksi ini dapat menyebabkan kanker hati dan sirosis. Paparan virus ini ditularkan dari satu anak ke anak lainnya melalui darah, urin, atau cairan hidung yang terkontaminasi virus.
Pemberian vaksin hepatitis B dipercaya jadi langkah yang tepat untuk mencegahnya. IDAI menyarankan agar vaksin hepatitis B dilakukan sedini mungkin setelah lahir. Sebab, paling tidak sekitar 3,9 persen ibu hamil diketahui mengidap hepatitis.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020