Acha Septriasa dan Suami Bercerai, Sepakat Jalani Co-parenting Demi Anak
·waktu baca 3 menit

Aktris Acha Septriasa dan Vicky Kharisma resmi bercerai sejak Mei 2025. Pasangan yang menikah pada 11 Desember 2016 itu membuat publik terkejut lantaran kabar perceraian mereka tidak langsung terendus publik, Moms.
Warganet beberapa hari lalu telah menduga adanya kabar perceraian setelah Acha mengunggah sebuah video di Instagram, yang memperlihatkan rumah baru Acha yang akan ia tempati bersama putrinya, Bridgia Kalina Kharisma, di Australia.
Yang menjadi sorotan adalah ketika Acha menyematkan tagar #coparenting pada video tersebut, Moms. Tidak lama sebelum kabar perceraian mencuat, Vicky pun turut mengunggah beberapa foto kebersamaan dengan Bridgia dan menuliskan caption: "Sydney, winter ‘25. Papa and Brie Favourite time of the year. Embracing my girl dad energy ❤️."
Dilihat di kolom komentar unggahan foto tersebut, Acha menuliskan pesan: "Co - Parenting At Its Finest … thanks Vic 😇.'
Dan dalam unggahan terbaru Acha, ia mengungkapkan kesehariannya kini yang bisa punya waktu untuk dirinya sendiri, mengurus rumah, hingga mengasuh putrinya.
Bintang film 'Heart' itu juga mengungkapkan co-parenting yang kini ia jalani bersama mantan suaminya itu bisa sama-sama dilakukan demi mengusahakan yang terbaik untuk anaknya.
"Slow Living, Gym 4 hari seminggu, bisa sepeda-an, dan ngurusin rumah sendiri, bisa jaga Bridgia while Vic out of town… adalah anugerah.. Co parenting memungkinkan… buat yang sama2 dewasa dan sadar Menjadi org tua yg baik buat Anak gak ada akhir. Makasih ya Guys perhatian nya," tulis Acha di captionnya.
Co-parenting banyak dipilih pasangan yang telah berpisah dan tidak melanjutkan pernikahannya. Apa sih yang dimaksud dengan istilah tersebut?
Apa Itu Co-Parenting yang Dijalani Acha Septriasa dan Mantan Suaminya?
Ketika pasangan yang telah memiliki anak lalu bercerai, co-parenting umumnya dijalankan demi kepentingan anak-anak. Dikutip dari Very Well Mind, co-parenting atau pengasuhan bersama merupakan pengaturan oleh kedua orang tua yang saling bekerja sama dan berbagi tanggung jawab untuk membesarkan anak mereka, meskipun sudah tidak lagi menikah.
Pengasuhan bersama ini dinilai dapat membantu anak tetap bisa tumbuh dengan rasa aman, tenteram, dan penuh cinta dari kedua orang tuanya yang telah berpisah.
Menurut psikolog klinis dari Yeshiva University, Sabrina Romanoff, PsyD, anak-anak seringkali mengalami kesulitan menghadapi perubahan dalam keliarga mereka, baik itu adanya pengurangan, penambahan, atau transisi figur orang tua mereka.
Co-parenting ini akan melibatkan penyusunan rencana orang tua untuk bisa bersama anak-anak mereka, seperti:
Jadwal kunjungan yang memastikan kedua orang tua dapat menghabiskan waktu berkualitas bersama anak.
Rutinitas harian untuk menjaga konsistensi di seluruh rumah tangga, misalnya waktu tidur dan bangun, makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi, kegiatan sekolah dan di luar sekolah, screen time, dan lainnya.
Kesepakatan tentang pendidikan, mulai dari sekolah yang terbaik untuk anak, biaya sekolah, mengawasi pekerjaan rumah, menghadiri pertemuan orang tua dan guru, hingga berpartisipasi dalam kegiatan sekolah lainnya.
Kebutuhan medis, sebagai langkah antisipasi bila anak memerlukan perawatan medis dan butuh pendampingan ke dokter. Tentunya kedua orang tua harus mengetahui kondisi medis anak dan siap menandatangani keadaan darurat medis.
Kesepakatan keuangan dengan mengutamakan kepentingan anak. Sebab, proses perceraian di pengadilan akan membahas soal hak asuh dan harta gono-gini.
Pengasuhan bersama yang sukses membutuhkan banyak komunikasi, koordinasi, perencanaan, fleksibilitas, dan rasa saling menghormati. Hal ini terkadang sulit dicapai, terutama dengan mantan pasangan yang sudah tidak bersama Anda lagi.
Namun, menjaga hubungan yang kooperatif dengan mereka demi anak Anda dapat memberikan perbedaan besar bagi kesejahteraan mental dan emosional anak. Setuju, Moms?
