Ahli Infeksi Tropik IDAI: Campak Lebih Berbahaya dari COVID-19!
ยทwaktu baca 3 menit

Kemunculan penyakit campak yang menyerang banyak anak membuat 12 provinsi di Indonesia menyatakan status KLB di wilayah mereka. Sementara, kasus campak saat ini sudah tersebar di 34 provinsi di Tanah Air.
Rasanya sudah sangat lama penyakit campak ini menghilang dari Bumi Pertiwi. Beberapa dokter mengaku sudah lebih dari 10 tahun tak menemukan pasien campak. Sayangnya, pandemi COVID-19 yang berlangsung hingga lebih dari 2 tahun membuat cakupan imunisasi pada anak, termasuk campak, merosot. Bahkan, program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang diselenggarakan untuk mengejar ketertinggalan vaksin anak juga tidak mampu menghindari KLB ini.
Berbicara soal campak, tahukah Moms, bahwa penyakit ini sama berbahayanya dari COVID-19, lho! Bahkan menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Penyakit Infeksi Tropik IDAI, Dr dr Anggraini Alam, SpA(K), campak justru lebih berbahaya dari COVID-19. Wah, kok bisa? Simak penjelasannya di bawah ini.
Kata IDAI soal Bahaya Campak Dibandingkan COVID-19
Dr Anggi, sapaan akrab dr Anggraini, menyebut sekitar 165 juta penduduk global sudah terpapar COVID-19 dengan angka kematiannya di bawah 1 persen. Sementara, jumlah kematian akibat penyakit campak jauh lebih tinggi, namun ia tak menyebutkan angkanya.
"Jadinya kalau kita perhatikan kalau COVID-19 itu yang terkena (meninggal) punya komorbid misal usia tua. Kalau campak ini lihat saja yang meninggal misterius segala macam (misalnya) di Papua. Jadi, kita lebih takut campak, dan kembali lagi kalau COVID-19 belum ada temuan bikin tubuh 'lupa' terhadap daya kebalnya ke penyakit lain, kalau si campak ini demikian," ujar dr. Anggi dalam acara media briefing yang diselenggarakan IDAI secara daring pada, Kamis (19/1).
Ya Moms, mereka yang pernah terkena campak akan mengalami efek jangka panjang di mana tubuhnya jadi lupa akan kekebalannya. Sehingga akan lebih rentan terhadap paparan infeksi dan penyakit lain di kemudian hari.
Selain itu, penyakit campak juga bisa menimbulkan komplikasi berbahaya. Di antaranya, mata bisa buta, penyakit jantung, paru-paru, luka pada mulut, gizi buruk, diare, dehidrasi, pneumonia, hingga infeksi pada otak.
"Lebih dari 50 persen kematian (pasien) campak akibat pneumonia. 1:1000 anak yang kena campak otaknya rusak, terjadi penurunan fungsi otak," lanjut dr. Aggraini.
Sayangnya, memang masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap enteng permasalahan campak ini dan enggan untuk divaksin atau memberikan imunisasi pada anaknya. Padahal, campak adalah penyakit yang sangat potensial menyebabkan wabah dan bisa menyerang anak-anak hingga orang dewasa. Tingkat penularan campak sangat tinggi.
"Semua penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, imunisasi anak-anak yang kecil-kecil itu untuk mencegah kematian. Jadi kalau ditanya beratan mana (sama COVID-19)? Kami orang infeksi (ahli penyakit infeksi) bilangnya campak," kata dr. Anggraini.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan imunisasi campak pada anak-anak saat usianya sudah cukup. Sebab, imunisasi lengkap terbukti ampuh untuk mencegah campak terutama bila cakupannya sudah mencapai 95 persen di satu wilayah tersebut.
