Kumparan Logo

Ahli Minta Pemerintah Perkuat Edukasi Kader Posyandu untuk Cegah Stunting

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahli Minta Pemerintah Perkuat Edukasi Kader Posyandu untuk Cegah Stunting. Foto: Eka Nurjanah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ahli Minta Pemerintah Perkuat Edukasi Kader Posyandu untuk Cegah Stunting. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Persoalan stunting tak bisa dibereskan melalui satu jalan. Salah satu aksi yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah stunting ialah dengan investasi pada kader kesehatan.

Ya Moms, ahli kebijakan kesehatan global, Dokter Rindang Asmara, mengatakan perlu ada penguatan kapasitas untuk layanan kesehatan primer di Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam acara "Stunting bukan sekedar bantuan pangan" di Jakarta Selatan, Kamis (22/6).

"Perlu ada penguatan kapasitas layanan kesehatan primer yang ada di posyandu dan puskesmas melalui para kader, yang nantinya bisa mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga asupan gizi mulai dari ibu sampai usia 1.000 hari pertumbuhan anak," kata Dokter Rindang.

Jebolan Fakultas Kedokteran Umum Universitas Padjajaran Bandung itu mengatakan, di luar negeri salah satunya Jepang, pembangunan kapasitas kader digencarkan sehingga mereka bisa sampai pada taraf merujuk pasien.

Sementara berdasarkan data Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2019, terdapat lebih dari 1,5 juta kader posyandu di Indonesia. Namun, dari jumlah itu ada sebanyak 90 persen di antaranya masih belum terlatih.

"Padahal di daerah, masyarakat lebih percaya pada kader, karena mereka bisa berbicara bahasa yang sama, bahkan menjadi tempat cerita bagi para ibu. Berdasarkan data, 66 persen penduduk Indonesia masih bergantung pada posyandu untuk 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK)," ujarnya.

Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock

Pesisir Nusa Tenggara Timur, kata Rindang bisa menjadi contoh. Sebab wilayah itu dekat dengan sumber protein tetapi angka stunting masih tinggi.

"Mereka dekat dengan sumber protein, tetapi masyarakat lebih memilih menukar ikan dengan mie, karena mie bisa disimpan untuk jangka panjang, di sinilah peran para kader untuk mengedukasi, memiliki kemampuan nalar, menjelaskan kalau ikan itu sumber proteinnya tinggi untuk tekan stunting," tuturnya.

Chief Operating Officer (COO) organisasi nirlaba 1000 Days Fund itu juga menegaskan, bahwa permasalahan stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemberian protein atau bahan makanan. Artinya, masalah stunting bisa ditekan dengan investasi jangka panjang pada pembangunan manusia yakni para kader.

"Stunting tidak bisa selesai hanya dengan bantuan permakanan daging atau telur, lebih dari itu, kader posyandu yang terampil menjadi kunci utama, mereka juga penentu meningkatnya literasi masyarakat tentang kesehatan," tutup Dokter Rindang.