Kumparan Logo

Alasan Ibu Harus Kritis pada Isu HAM, Hukum, dan Politik

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu baca buku agar memiliki pemikiran kritis. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu baca buku agar memiliki pemikiran kritis. Foto: kumparan

Sebagai ibu, Anda tak hanya bertugas untuk memastikan kesehatan ataupun keuangan keluarga saja. Lebih dari itu, Anda juga perlu tahu isu terkini yang terjadi di pemerintahan.

Ya Moms, di era digital seperti sekarang ini, banyak ibu yang masih tidak peduli dan kurang kritis terhadap isu-isu yang terjadi di Indonesia. Alasannya, mungkin karena topik-topik seperti Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, politik dan kebudayaan, serta hukum tidak berhubungan dengan keluarga.

Padahal sebagai influencer dan pendidik pertama anak, Anda harus punya bekal dan pikiran kritis, agar jawaban yang Anda berikan pada si kecil pun demokratis, Moms. Sadar akan pentingnya hal itu, Momfluencer Puty Puar, bersama Dian Ismarani, dan Shanti Nurfianti Andin menginisiasi diskusi dengan tema "Belajar Kritis: Karena Ibu-ibu pun Bisa Berpartisipasi dan Pantang Apatis".

"Ibu sering kali enggan bicara soal politik atau HAM. Padahal ini bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan (keluarga) sehari-hari. Jadi tak masalah kalau kita membicarakan atau diskusi," ujar Puty kepada kumparanMOM, Sabtu (2/11).

Ilustrasi ibu bekerja. Foto: Shutter Stock

Bertempat di di Aksara Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (2/11), diskusi tersebut dihadiri 5 panelis yakni Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Asfinawati; Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Arif Zulkifli; Executive Director SAFENet, Danar Juniarto; Campaign Manager Amnesty Internasional Indonesia, Puri Kencana Putri; serta Psikolog dan Penggiat Pendidikan, Najelaa Shihab, yang memamparkan seberapa pentingnya ibu berpikir kritis di era digital sekarang ini.

Acara dibuka dengan pemaparan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Asfinawati, mengenai HAM dan situasi yang terjadi di Indonesia. Ia mengatakan, banyak ibu yang tidak mengetahui isu HAM, padahal sebenarnya hal itu dekat dengan kehidupan keluarga. Misalnya seperti masalah pendidikan anak dan kekerasan pada anak.

Asfinawati, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum sedang bercerita tentang bagaimana ibu harus memandang isu-isu negara dan seperti apa posisi ibu di sana. Foto: Doc. Ibu-ibu kritis.

"Soal pendidikan anak adalah soal hak asasi juga. Lalu kekerasan terhadap anak dan perempuan, dan macam-macam lagi. Anak bukan semata-mata hanya urusan ibu saja, tapi tanggung jawab negara. Ibu perlu belajar kritis agar tahu kebenarannya," kata Asfinawati.

Ia juga menambahkan cara lain yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan pemikiran kritis dalam keluarga yaitu dengan tidak bersikap terburu-buru. Cobalah mulai lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan semampunya saja. Contohnya mulai dari hal kecil apakah ada suatu pelanggaran di dekat rumah, atau saudara mengalami kekerasan. Kepekaan seperti itu yang dibutuhkan untuk mengembangkan sifat kritis.

Selain itu, acara ini juga memberikan pengetahuan kepada sekitar 30 ibu muda yang hadir, mengenai perkembangan dunia digital dan apa yang harus diketahui tentang media mainstream dengan media sosial. Dalam hal ini dijelaskan oleh Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Arif Zulkifli; Executive Director SAFENet, Danar Juniarto.

Pemred Majalah Tempo, Arif Zulkifli dan Executive Director SAFEnet, usai menjadi pembicara mengenai informasi digital. Foto: Doc. Ibu-ibu kritis.

Arif mengatakan saat ini masih banyak ibu yang mengkonsumsi konten media mainstrem secara mentah tanpa berpikir kritis. Sehingga sering kali para orang tua terlalu membawa perasaan dan menimbulkan fanatisme.

"Makanya dalam mengkonsumsi (konten) media mainstream, jangan baper. Tapi kosongkan pikiran tidak perlu dimasukkan ke hati. Kalau baca sesuatu yang jelek anggap saja hoaks. Kalau ada beritia baik, cari sampai ada buktinya. Bacalah media mainstream yang memiliki newsroom yang baik dan jelas. Itu akan membuat kita menjadi pembaca yang baik dan kritis," ujar Arif.

Pada sesi ketiga "Ibu-ibu belajar kritis" yang dijelaskan oleh Campaign Manager Amnesty Internasional Indonesia, Puri Kencana Putri, menjelaskan suka duka para aktivis yang beranggotakan ibu-ibu untuk mengawal isu negara. Adapun salah satu yang diceritakannya adalah bagaimana sekelompok ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli pada tahun 1998 memperjuangkan harga susu untuk anak, agar anak tetap mendapatkan haknya walau negara krisis.

Puri Kencana Putri, aktivis sekaligus manager campaign Amnesty Internasional Indonesia yang bercerita tentang suka duka para aktivis di Indonesia. Foto: Doc. Ibu-ibu kritis.

"Meski begitu, ibu jangan cuma sekadar sekadar teoritis soal berpikir kritis melainkan secara emosional juga. Sebab itu memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan anak-anak yang mulai berpikir kritis saat dalam diskusi ruang keluarga," ujarnya.

Walau menurut Puri, pendidikan kritis harus selalu ditekankan pada anak dan keluarga di rumah. Namun psikolog anak dan pegiat pendidikan, Najelaa Shihab mengatakan, pemikiran ibu harus diubah bukan hanya tentang memikirkan anak sendiri.

Sejak awal, peran ibu dalam keluarga juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Apapun yang terjadi dalam keluarga Anda, itu merupakan tanggung jawab sosial sebagai warga negara, Moms. Contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah sekolah.

Najeela Shihab, saat memberikan materi tentang berkomunikasi mengenai isu negara dengan orang terdekat. Foto: Doc. Ibu-ibu kritis.

"Di Indonesia, komite seklah sulit dijalani karena orang tua berpikir, sekolah adalah untuk kesuksesan anaknya saja, bukan anak orang lain atau bahkan anak di Indonesia. Isu sosial itu yang harus diubah sejak awal," ujar Najeela.

Ada lagi pemikiran orang tua yang selalu benar dalam keluarga. Hal ini membuat anak sulit membedakan pesan dan kebenaran. Kalau kebenaran tidak perlu diperdebatkan, sedangkan pesan adalah sesuatu yang bisa dikritisi. Inilah yang membuat pikiran kritis anak tidak berkembang.

Dalam sesi akhir diskusi, Najelaa mengatakan pikiran kritis bisa dikembangkan dengan cara latihan. Ibu bisa memulai mempertanyakan informasi yang diterima anak dari sudut pandang berbeda. Misalnya ketika orang tua berbeda pendapat dengan si kecil, biarkan anak juga melihat bagaimana cara menyelesaikannya.

Para peserta diskusi "Ibu-ibu kritis". Foto: Doc. Ibu-ibu kritis.

"Kebanyakan orang tua yang memperlihatkan perbedaan pendapat di depan anak, tidak memperlihatkan percakapan saat berbaikan. Padahal mereka butuh juga melihat hal itu (menyelesaikan masalah). Lalu, ketika anak mendapat pesan yang bertentangan dari orang lain, dia bisa mempertanyakan hal itu. Itu sangat membantunya berpikir kritis," ujarnya.

Najelaa menekankan, untuk mulai menumbuhkan sikap kritis ibu bisa mencoba memperhatikan isu sosial di lingkungan sekitar dan mengubah cara berpikir yang hanya mementingkan anak saja. Bila belum bisa transparan dan adil ibu akan sulit berpikir kritis. Jadi Moms, bersikap kritis terhadap berbagai isu HAM, hukum dan politik ternyata juga bermanfaat untuk anak dan keluarga Anda.