kumparan
18 Sep 2019 12:08 WIB

Alasan Tidak Simpan Antibiotik untuk Persediaan Keluarga Anda

Ilustrasi obat antibiotik untuk persediaan di rumah bagi keluarga. Foto: Shutter Stock
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, bisa itu diri Anda sendiri, suami, maupun anak, maka praktik cepat-cepat memberi obat antibiotik yang dianggap sebagai 'obat dewa' buat segala jenis penyakit, masih ditemui.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, memang tak jarang bisa buat sembuh, tapi mungkin juga yang terjadi sakitnya tidak hilang-hilang. Kenapa bisa begitu, ya?
Sakit yang diderita bisa mereda, itu karena adanya infeksi bakteri, Moms. Demikian menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam laman Instagramnya. Hanya saja, untuk mengetahui penyakit tersebut adalah infeksi bakteri atau bukan, maka harus diperiksa lebih dulu oleh dokter.
Loading Instagram...
Dengan begitu, Kemenkes juga mengimbau, agar setiap keluarga tidak menyimpan antibiotik sebagai persediaan di rumah.
Padahal penyakit yang bisa terjadi, baik itu pada anak maupun orang dewasa tak melulu karena infeksi bakteri, tapi juga bisa disebabkan oleh virus. Penanganan penyakit yang karena virus, obatnya bukanlah antibiotik.
Selain resistensi terhadap antibiotik, Health Line mencatat ada beberapa dampak, jika pemakaian antibiotik dilakukan secara berlebihan. Di antaranya meningkatkan kasus diare fatal pada anak-anak, dapat mengganggu keseimbangan bakteri dalam perut, hingga meningkatnya kasus gonore (kencing nanah).
Pemakaian antibiotik secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan bakteri di dalam perut keluarga Anda lho, Moms. Foto: shutterstock
Penggunaan antibiotik juga ada aturannya. Salah satunya konsumsi antibiotik harus sampai habis, saat dokter telah meresepkannya. Bila pasien tidak menuruti, maka sebetulnya kuman masih bisa bermutasi hingga menjadi resisten. Alhasil, penyakit yang dirasa sudah mau sembuh, justru bisa semakin parah.
ADVERTISEMENT
Yuk Moms, lindungi anggota keluarga kita dengan tidak konsumsi antibiotik secara sembarangan dan berlebihan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan