Kumparan Logo

Anak di Bawah 2 Tahun Tidak Dianjurkan Makan Cokelat! Ini Alasannya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak makan cokelat. Foto: MIA Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak makan cokelat. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Cokelat menjadi salah satu makanan yang sulit ditolak anak karena rasanya manis dan teksturnya menarik. Namun, jika si kecil masih berusia di bawah 2 tahun, sebaiknya orang tua menunda memberikan cokelat.

Bukan karena cokelat merupakan makanan yang otomatis berbahaya bagi anak, melainkan karena anak usia di bawah 2 tahun masih membutuhkan makanan yang padat zat gizi, sementara makanan dan minuman dengan gula tambahan sebaiknya dihindari.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar makanan pendamping ASI untuk anak usia 6–23 bulan tidak ditambahkan gula. WHO juga menyarankan anak usia tersebut menghindari makanan tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat.

Alasan Kenapa Cokelat Tidak Aman untuk Anak di Bawah 2 Tahun

Ilustrasi cokelat yang ada bercak putih. Foto: Shutterstock

1. Cokelat umumnya mengandung gula tambahan

Cokelat yang biasa dikonsumsi anak, seperti cokelat batangan, permen cokelat, wafer cokelat, atau minuman cokelat, umumnya tidak hanya mengandung kakao. Produk tersebut juga dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.

Padahal, anak di bawah 2 tahun sedang berada pada periode penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Mereka membutuhkan makanan yang kaya protein, lemak, vitamin, mineral, serta zat gizi lainnya. Terlalu banyak makanan manis dapat mengambil porsi dari makanan yang lebih bergizi.

Pedoman Dietary Guidelines for Americans juga menyebutkan bahwa bayi dan anak kecil di bawah 2 tahun sebaiknya menghindari gula tambahan karena kebutuhan zat gizi mereka tinggi dibandingkan jumlah makanan yang dapat mereka konsumsi.

American Academy of Pediatrics (AAP) juga menganjurkan agar makanan dan minuman dengan gula tambahan tidak diberikan kepada anak di bawah 2 tahun.

2. Kakao secara alami mengandung kafein

Alasan lain adalah kandungan kafein pada kakao. Kafein bukan hanya terdapat pada kopi atau teh. Biji kakao juga merupakan salah satu sumber alami kafein, sehingga makanan yang mengandung cokelat dapat turut memberikan asupan kafein pada anak.

Tubuh anak yang masih berkembang lebih sensitif terhadap efek stimulasi kafein. Pada anak, konsumsi kafein dapat dikaitkan dengan gangguan tidur, rasa gelisah, sakit kepala, dan sulit berkonsentrasi.

AAP menyebutkan bahwa menghindari kafein merupakan pilihan terbaik untuk anak-anak.

Kandungan kafein juga berbeda-beda berdasarkan jenis dan jumlah kakao yang digunakan. Cokelat hitam, misalnya, umumnya mengandung lebih banyak kakao sehingga kandungan kafeinnya dapat lebih tinggi dibandingkan cokelat dengan kandungan kakao yang lebih rendah.

3. Usia di bawah 2 tahun adalah periode penting membentuk pola makan

Masa 6–23 bulan merupakan periode penting ketika anak mulai belajar menerima berbagai rasa dan tekstur makanan sekaligus membentuk pola makan yang dapat terbawa hingga kemudian hari.

WHO menekankan pentingnya memberikan makanan yang beragam dan padat zat gizi selama periode ini. Makanan pendamping sebaiknya terdiri dari berbagai kelompok makanan, termasuk makanan sumber protein hewani, sayur, buah, serta sumber karbohidrat.

Karena itu, memperkenalkan makanan yang sangat manis sejak dini bukan pilihan yang ideal. Pedoman nutrisi anak di bawah 2 tahun menekankan agar makanan mereka tidak dipenuhi kalori dari gula tambahan.

Jadi, Kapan Anak Boleh Makan Cokelat?

Tidak ada aturan bahwa anak harus sama sekali tidak boleh makan cokelat setelah berusia 2 tahun. Namun, setelah usia tersebut pun cokelat sebaiknya tetap diberikan secukupnya, bukan sebagai makanan sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan orang tua bukan hanya kata "cokelat" pada kemasan, tetapi juga kandungan gula dan jenis produknya. Cokelat batangan, permen, biskuit, wafer, sereal, atau minuman cokelat dapat memiliki kandungan gula yang berbeda-beda.

Untuk anak di bawah 2 tahun, pilihan yang lebih baik adalah mengutamakan makanan yang memberikan zat gizi penting untuk tumbuh kembang, seperti telur, ikan, daging, ayam, kacang-kacangan, sayur, buah, dan makanan pokok sesuai kebutuhan anak.