Kumparan Logo

Anak Kalah Lomba 17 Agustus, Orang Tua Harus Bagaimana?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak ikut lomba panjat pinang Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak ikut lomba panjat pinang Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Hari Kemerdekaan RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus selalu disambut dengan meriah. Mulai dari perkantoran, sekolah, hingga lingkungan di sekitar rumah menyelenggarakan upacara bendera dan banyak yang menggelar lomba 17 Agustus.

Orang dewasa hingga anak-anak banyak yang antusias mengikuti berbagai perlombaan, dan apakah anak Anda juga salah satunya?

Mengikuti perlombaan seperti di momen Hari Kemerdekaan punya banyak manfaat bagi anak. Mulai dari mengasah keterampilan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, belajar memahami aturan dan instruksi, hingga belajar sportivitas.

Tetapi, yang namanya perlombaan tentu ada yang menang dan kalah, kan? Bagi anak yang mengikuti lomba-lomba khas 17 Agustus lalu kalah, tidak sedikit yang kemudian mengalami kekecewaan dan sedih. Ya Moms, terkadang tidak semua anak bisa dengan mudah menerima kekalahan yang dialaminya.

Sehingga, di sinilah peran orang tua untuk membantu anak mengatasi perasaan kecewa setelah kalah bertanding. Apa saja yang bisa kita bantu?

Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Kecewa Setelah Kalah Lomba 17 Agustus

Ilustrasi ayah menenangkan anak menangis. Foto: MiniStocker/Shutterstock

Mengapa orang tua perlu membantu anak belajar mengatasi rasa sedih dan kecewa saat mengalami kekalahan? Menurut psikiater anak Joseph Austerman, DO, langkah ini penting dilakukan untuk perkembangan perilaku anak di kemudian hari. Anak akan belajar bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dialami, dan bagaimana caranya tidak mudah menyerah.

"Merupakan tanggung jawab orang tua untuk membantu anak-anak ketika segala sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan mereka," tutur Austerman, seperti dikutip dari Cleveland Clinic.

"Semakin baik Anda mengajari mereka hal ini sejak masih usia dini, maka semakin baik juga mereka mampu melakukannya saat dewasa," lanjut dia.

Austerman menyarankan orang tua untuk menerapkan cara-cara ini, sehingga anak bisa mengatasi rasa kekecewaan dan kekalahan yang dirasakannya:

1. Kenalkan Konsep Menang dan Kalah

Dari jauh-jauh hari, anak perlu dijelaskan makna dari sebuah permainan atau perlombaan: Akan ada yang menang dan kalah. Sehingga, anak akan memahami nantinya ada teman yang juara dan mendapat hadiah, tetapi ada juga teman-teman lainnya yang tidak berhasil.

Diskusikan bersama anak tentang apa yang harus dilakukannya ketika mengalami kekalahan. Kalah memang terkadang bisa membuat anak sedih dan kecewa, namun yang perlu ditanamkan adalah pengalaman yang menyenangkan dan tidak terlupakan. Jadi, sebelum lomba dimulai, Anda bisa mengajak anak berlatih, meningkatkan keterampilan, dan belajar bekerja sama sebagai sebuah tim.

Ilustrasi Ibu dan anak. Foto: Shutter Stock

2. Dengarkan Anak

Ketika anak kalah dan meluapkan kesedihan atau amarahnya, coba tanyakan mengapa si kecil merasakan perasaan tersebut. Anda bisa memvalidasi perasaannya: "Iya sayang, kalah memang bisa membuat kita sedih. Tapi, kamu sudah melakukan yang terbaik!"

3. Beri Pujian

Jangan lupa beri pujian atas apa yang telah dilakukannya, jika ingin anak kita menjunjung tinggi sportivitas. Sehingga, anak akan lebih termotivasi untuk berlatih lebih giat untuk perlombaan-perlombaan selanjutnya.

4. Hindari Membandingkan dengan Anak Lain

Hindari keinginan Anda untuk membandingkan si kecil dengan anak lain yang berhasil menjadi juara dalam perlombaan tersebut.

"Ini bukan cara terbaik untuk meningkatkan harga diri maupun kemampuan anak," ucap Austerman.

5. Definisi 'Menang dengan Anggun'

Ketika anak memenangkan pertandingan sekali pun, Anda tetap perlu mengingatkan pesan ini: Menang itu memang menyenangkan, tetapi yang penting anak bertanding dengan sportif, sesuai aturan, dan menjadi teman yang baik kepada mereka yang kalah.

Dengan mengedepankan sportivitas daripada kemenangan, Anda sebenarnya sedang mengajari anak bahwa menang itu adalah berlomba dengan baik dan telah bekerja keras. Dan tidak lupa untuk bersenang-senang!

"Apa pun yang terjadi, Anda perlu tetap sabar terhadap anak Anda. Belajar mengatasi kekalahan secara kompetitif terkadang membutuhkan waktu," ujar Austerman.

"Ini adalah proses yang penting seiring dengan pertumbuhan anak. Terus beri pujian atas usaha dan perilakunya yang baik. Sehingga, akan membantu mereka belajar bagaimana menangani dan mengatasi situasi yang bisa membuat mereka sedih atau marah," pungkasnya.