Anak Kesha Ratuliu Disunat di Usia 4 Bulan karena Fimosis, Apa Itu?
·waktu baca 2 menit

Anak ketiga Kesha Ratuliu, Danish Danendra Putra Permana, menjalani sunat saat usianya baru 4 bulan. Kesha menjelaskan bahwa prosedur tersebut perlu dilakukan karena Danish mengalami kondisi fimosis pada area kelaminnya.
Apa Itu Fimosis?
Menganggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak yang juga expert kumparanMOM, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menyebut bahwa fimosis adalah kondisi medis di mana kulit kulup pada ujung penis tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis.
Menurutnya, hal ini sebenarnya wajar terjadi pada bayi karena sejak lahir, kulit kulup memang masih menempel rapat pada kepala penis. Kondisi ini disebut fimosis fisiologis, dan biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia, saat kulit menjadi lebih elastis dan bisa ditarik perlahan.
“Namun, kalau sampai usia tertentu kulit kulup masih terlalu sempit, tidak bisa ditarik sama sekali, atau malah menyebabkan masalah seperti infeksi, itu yang disebut fimosis patologis. Nah, kondisi ini yang kadang butuh penanganan medis,” ujar dr. Aisya kepada kumparanMOM, Minggu (7/9).
Apa Saja Gejala Fimosis?
Sebagian besar anak dengan fimosis tidak menunjukkan gejala. Tapi, jika kondisinya mulai mengganggu, beberapa tanda yang bisa muncul antara lain:
-Aliran pipis yang lemah atau menyebar ke berbagai arah.
-Kulit kulup tampak menggelembung saat anak buang air kecil.
-Rasa perih atau sakit saat buang air kecil.
-Infeksi berulang di ujung penis (balanitis), seperti kemerahan, bengkak, atau keluar cairan.
-Dalam kasus berat, bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
Jika gejala-gejala ini muncul, maka fimosis tidak bisa lagi dianggap normal, dan perlu ditangani.
Lantas, Kenapa Harus Sunat?
Sunat (sirkumsisi) menjadi salah satu solusi efektif untuk menangani fimosis. Dengan mengangkat kulit kulup yang terlalu sempit, kepala penis bisa terbuka sehingga lebih mudah dibersihkan, aliran urine kembali normal, dan risiko infeksi pun menurun.
“Sunat pada anak dengan fimosis ini bukan semata-mata alasan tradisi atau budaya, tapi memang ada alasan medis yang kuat. Jadi keputusan untuk menyunat biasanya diambil agar anak nggak terus-terusan sakit, bisa kencing dengan lancar, dan kesehatannya lebih terjaga,” pungkas dr. Aisya.
