Kumparan Logo

Anak Pendek Belum Tentu Stunting, Kenali dari Kurva Pertumbuhan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran buku Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa, Selasa (22/9/2026).  Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran buku Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa, Selasa (22/9/2026). Foto: Dok. kumparan

Pertumbuhan anak menjadi salah satu hal yang penting dipantau orang tua, termasuk penambahan tinggi badan dari waktu ke waktu. Meski begitu, ketika tinggi badan anak terlihat lebih pendek dibandingkan anak seusianya, kondisi tersebut tidak selalu berarti stunting, Moms.

Perawakan pendek pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi genetik, nutrisi, hingga kondisi medis tertentu. Karena itu, tinggi badan anak perlu dilihat berdasarkan kurva pertumbuhan dan pola pertumbuhannya, bukan hanya dari ukuran tinggi badan pada satu waktu.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, menjelaskan bahwa perawakan pendek dan stunting merupakan kondisi yang perlu dibedakan.

“Yang paling penting, apakah memang pendek ini dia sakit atau tidak. Ini yang paling penting. Bagi kita dokter yang harus memastikan orang tua, ini pendek yang sakit atau pendek normal,” ujar Prof. Aman saat acara launching buku “Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa” Selasa (22/9).

Tidak Semua Anak Pendek Mengalami Stunting

Sesi talkshow peluncuran buku tentang kenali gangguan pertumbuhan anak sejak dini, Selasa (22/9/2026). Foto: Dok. kumparan

Prof. Aman menjelaskan, stunting tidak hanya dilihat dari tinggi badan anak. Kondisi tersebut berkaitan dengan perawakan pendek yang disertai malnutrisi kronis atau penyakit kronis.

Artinya, anak yang bertubuh pendek tetapi tidak mengalami kekurangan gizi atau penyakit kronis belum tentu dapat disebut stunting.

“Kalau dia pendek gemuk, pendek normal, pendek tidak kurang gizi, ya bukan stunting. Walaupun stunting pendek. Tapi tidak semua anak pendek stunting,” jelasnya.

Sebaliknya, menurut Prof. Aman, anak yang tidak terlihat pendek juga tidak seharusnya langsung dianggap tidak memiliki masalah pertumbuhan. Karena itu, pemantauan pertumbuhan perlu dilakukan secara rutin.

Penyebab Anak Bertubuh Pendek Tidak Selalu karena Kurang Gizi

Anak pendek belum tentu stunting. Foto: Shutter Stock

Gangguan pertumbuhan pada anak memiliki penyebab yang beragam. Selain faktor nutrisi, perawakan pendek dapat berkaitan dengan kondisi medis seperti Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme.

Faktor genetik juga dapat berperan, misalnya pada Sindrom Turner. Pada sebagian anak, penyebab spesifik perawakan pendek bahkan tidak dapat ditemukan meski sudah dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).

Prof. Aman menyebut, gangguan pertumbuhan tersebut tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik. Anak juga dapat mengalami dampak psikososial, seperti merasa berbeda, kurang percaya diri, hingga berpotensi mengalami perundungan.

Bukan Cuma Tinggi Badan, Pola Pertumbuhan Juga Penting

Menurut Prof. Aman, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat tinggi badan anak pada satu waktu.

Dengan melihat pola pertumbuhan, dokter dapat mengetahui apakah pertambahan tinggi badan anak berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau justru mulai mengalami perlambatan.

Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Rutin Pantau Pertumbuhan Anak

Ilustrasi tinggi badan anak. Foto: interstid/Shutterstock

Pentingnya pemantauan pertumbuhan anak juga menjadi perhatian PT Merck Tbk (Merck). Perusahaan tersebut kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung edukasi mengenai pertumbuhan anak melalui berbagai sarana edukasi.

Upaya meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pertumbuhan anak juga dilakukan PT Merck Tbk (Merck) melalui edukasi berkelanjutan. Merck memperkenalkan laman interaktif takartinggi(dot)com dan buku anak Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak secara rutin.