Anak Sering Makan saat Sedih atau Stres, Perlukah Orang Tua Khawatir?

Moms, pernah melihat anak sering makan ketika sedang bosan, kesal, atau sedih? Pada orang dewasa pun, makanan terkadang menjadi cara untuk mencari kenyamanan setelah menjalani hari yang melelahkan. Kebiasaan makan yang berkaitan dengan emosi ini dikenal sebagai emotional eating.
Psikolog klinis senior, Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M., Psikolog, menjelaskan bahwa seseorang terkadang memilih makanan bukan karena lapar, melainkan karena ingin merasa lebih nyaman.
โEmotional eating tuh antara lain ya, lagi stres kita makan. Padahal itu kesepian kan? Terus kalau lagi stres, lagi BT, lagi galau, lagi sedih, biasanya kita makan apa? Comfort food,โ kata Ratih saat ditemui kumparanMOM di Sentosa Senayan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Makanan yang terasa nyaman memang bisa memberikan kepuasan sesaat. Namun, orang tua perlu memperhatikan apabila makan terus-menerus menjadi satu-satunya cara anak menghadapi perasaan tidak menyenangkan, Moms.
Kenali Alasan Anak Ingin Makan
Menurut Ratih, keinginan makan tidak selalu muncul karena rasa lapar fisik. Terkadang, seseorang ingin makan ketika merasa bosan atau membutuhkan kenyamanan emosional.
Karena itu, ketika anak terus meminta makanan, orang tua sebaiknya tidak buru-buru melabelinya sebagai anak yang rakus atau memiliki kebiasaan buruk. Cobalah mengamati situasinya, apakah anak memang lapar, baru selesai makan, atau sedang menghadapi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?
Ratih mengingatkan bahwa makanan yang dipilih untuk memberikan kenyamanan belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi apabila jenisnya terbatas. Karena itu, sangat penting memperhatikan variasi makanan agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Bantu Anak Mengenali dan Mengungkapkan Emosi
Saat anak merasa sedih, kecewa, atau marah, orang tua dapat membantunya mengenali perasaan tersebut. Ajak anak bercerita, temani ketika ia membutuhkan dukungan, atau tawarkan kegiatan lain yang membuatnya nyaman.
Makan tetap bisa menjadi bagian dari rutinitas yang menyenangkan. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai makanan menjadi satu-satunya cara anak untuk mengatasi setiap perasaan tidak nyaman.
Orang tua juga bisa memberikan contoh melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk bagaimana mereka merespons stres dan menjaga pola makan.
Jika kebiasaan makan anak berubah secara signifikan, berlangsung terus-menerus, atau disertai gangguan pertumbuhan dan masalah emosional, konsultasi dengan dokter atau psikolog dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan anak.
