Anak Suka Memukul? Jangan Panik, Ini yang Perlu Dilakukan, Moms

14 September 2023 14:21
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Anak Suka Memukul? Jangan Panik, Ini yang Perlu Dilakukan, Moms. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Pernahkah melihat anak balita Anda memukul temannya saat sedang bermain bersama? Jika Ya, Anda mungkin bertanya-tanya apa alasannya.
ADVERTISEMENT
Moms, sebetulnya perilaku memukul merupakan bagian normal dari perkembangan anak, kok. Kendati demikian, Anda perlu melakukan beberapa hal agar si kecil mengurangi atau menghentikan aksi tersebut.
Balita sesungguhnya merupakan anak yang sangat menyenangkan. Apalagi mereka belajar dengan cepat, menjadi lebih mandiri dan bersemangat melakukan tugas sendiri.
Meski sudah mulai mandiri, balita belum memiliki kemampuan berbahasa untuk mengekspresikan kebutuhannya, sehingga dapat menyebabkan frustasi dan perilaku agresif. Memukul dan perilaku serupa lainnya biasanya mencapai puncaknya pada usia 2 atau 3 tahun. Lantas bagaimana menghadapinya? Yuk simak tips dari Baby Center berikut ini.

Cara Mengatasi Anak yang Suka Memukul

-Tetap tenang
Membentak, memukul,atau memberi tahu anak Anda bahwa mereka jahat tidak akan membuat mereka berubah. Hal itu hanya akan membuat mereka semakin kesal dan memberi mereka contoh hal-hal baru untuk dicoba. Justru dengan menunjukkan kepada mereka bahwa Anda bisa mengendalikan emosi akan membantu mereka belajar mengendalikan emosinya.
Ilustrasi anak suka memukul. Foto: Thinkstock
-Tetapkan Batasan yang Jelas
ADVERTISEMENT
Setiap kali balita Anda memukul seseorang atau anak yang lain, Anda perlu membawanya menyingkir untuk menghindari si kecil melakukannya lagi. Keluarkan mereka dari situasi tersebut untuk jeda singkat. Para ahli merekomendasikan satu menit per usia anak. Jadi jika balita Anda berusia 2 tahun, beri mereka waktu istirahat selama 2 menit.
Ini memberi mereka waktu untuk menenangkan diri. Katakan kepada balita Anda, "Jangan memukul. Memukul itu menyakitkan." Anda tak perlu memberi penjelasan panjang lebar, sebab balita belum mampu menangkap penjelasan verbal.
-Berikan Konsekuensi Logis
Misalnya saat berada di arena mandi bola di playground, anak Anda tiba-tiba melempari anak-anak lain dengan bola. Ingatkan ia untuk menghentikan aksinya tersebut. Namun jika peringatan Anda tak diindahkan, segeralah membawanya menyingkir.
ADVERTISEMENT
Katakan pada si kecil, ia hanya boleh kembali ke arena mandi bola jika tak mengulangi perbuatan tersebut. Dan jika ternyata dia sudah kembali masuk dan melanggar lagi, pastikan Anda tidak memberi toleransi dan langsung mengajaknya pulang.
-Disiplin Secara Konsisten
Sebisa mungkin, tanggapi setiap kali anak memukul dengan cara yang sama. Nasihat atau larangan yang disampaikan secara berulang itu akan membantu membangun koneksi penting yang mendukung keterampilan pengaturan emosi mereka.
Hindari hukuman, terutama hukuman fisik seperti tamparan. Jangan memukul anak dengan alasan apa pun, termasuk sebagai respons terhadap anak Anda yang memukul orang lain.
Pertama, memukul mengajarkan anak untuk menggunakan perilaku yang lebih agresif untuk menyelesaikan masalahnya dan tidak membantu menanamkan pengaturan emosi atau keterampilan komunikasi. Hukuman fisik sebenarnya dapat membahayakan perkembangan otak dan kesehatan mental anak Anda.
ADVERTISEMENT
-Ajarkan Hal Baru
Tunggu sampai emosi balita Anda mereda. Lalu dengan tenang dan lembut tanyakan apa yang terjadi. Jelaskan dengan singkat bahwa memiliki perasaan marah adalah hal yang wajar, tetapi tidak boleh ditunjukkan dengan memukul, menendang atau menggigit.
Dorong mereka untuk menemukan cara merespons yang lebih efektif, seperti menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri atau meminta bantuan orang dewasa.
Mendorong anak Anda untuk meminta maaf mungkin cocok untuk anak yang lebih besar yang bisa memahami perasaan orang lain. Anda dapat memberikan contoh empati dengan meminta maaf ketika Anda melakukan kesalahan atau menunjukkan perasaan anak lain dan mendiskusikannya dengan balita Anda.
-Tontonan Anak
Selain itu, berhati-hatilah dengan apa yang mereka tonton. Kartun, video game dan media lain yang dirancang untuk anak kecil terkadang ada aktivitas negatifnya juga, lho! Seperti teriakan, ancaman, bahkan dorongan dan pukulan. Selain itu, mungkin ada juga nilai-nilai yang ditampilkan pada tontonan anak yang tidak sesuai dengan apa yang Anda keluarga yakini.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu Anda perlu benar-benar menontonnya terlebih dahulu sebelum mengizinkan anak menonton apa pun yang mereka tonton ya, Moms.