Kumparan Logo

Anak Suka Menyalahkan Orang Lain? Lakukan 3 Hal Ini, Moms!

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi anak yang suka menyalahkan orang lain Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi anak yang suka menyalahkan orang lain Foto: Shutterstock

Moms, bagaimana sikap anak Anda setiap kali ia melakukan kesalahan atau terlibat dalam masalah? Segera mengakui perbuatannya lalu minta maaf atau cenderung menyalahkan orang lain? Menuding adik, sepupu, teman atau pengasuh, misalnya.

Memang, seperti halnya orang dewasa, saat merasa disalahkan tentu anak merasa tidak nyaman. Kalau merasa ada di posisi yang benar, sebagian anak akan berusaha keras lepas dari kondisi disalahkan dengan cara menyampaikan kebenaran yang ia pahami pada orang dewasa.

Tapi ada juga anak yang kendati tahu ia berbuat salah, tidak mau mengakui kesalahannya. Alih-alih, ia mencari cara agar orang lain yang disalahkan. Wah, tidak baik kan, Moms?

ilustrasi anak berbuat salah Foto: Shutterstock

Henny E.Wirawan, M.Hum, psikolog dan psikoterapis dari Universitas Indonesia menjelaskan, anak bisa saja tidak mau berbesar hati atau tidak berani mengakui kesalahannya karena berbagai alasan. Dalam buku "Anakku, Buah Hatiku - Panduan Praktis Mengasuh Anak", Henny menulis alasannya bisa jadi karena anak berusaha menghindar dari rasa malu, terhina atau terluka.

Anak mungkin juga takut ditertawakan sehingga ia merasa tidak berani atau menanggung sanksi akibat kesalahannya tersebut.

Meski begitu menurut Henny, sebaiknya orang tua tidak membiarkannya anak terus terbiasa menyalahkan orang lain. Enggak mau kan, moms, anak tumbuh jadi pembohong, tidak bertanggungjawab, pengecut atau suka melemparkan kesalahannya?

Itulah kenapa, Henny menyarankan orang tua untuk melakukan 3 hal berikut ini:

anak minta maaf Foto: Shutterstock
  1. Ajarkan Sikap Jujur dan Terbuka

Jangan pernah lelah mengajarkan anak untuk bersikap jujur dan terbuka, Moms. Ingatkan anak agar berani mengatakan yang benar jika benar, mengatakan salah jika salah.

Berikan anak pujian (meski apa yang telah ia lakukan salah) karena telah bersikap jujur atau mengakuinya dan katakan bahwa Anda menghargai kejujurannya.

Ilustrasi ibu dan anak Foto: Shutterstock
  1. Jelaskan Berbuat Salah itu Wajar

Pastikan anak paham bahwa berbuat kesalahan adalah hal yang manusiawi dan wajar. Jelaskan pada anak bahwa setiap orang punya kekurangan kelemahan dan yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki kekurangan dan belajar dari kesalahan.

Dengan begitu, hal serupa tidak akan terulang lagi dan kesalahan yang sama bisa dihindari. Jelaskan juga pada anak bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar di dalam hidup ini.

ilustrasi ibu mengakui kesalahan dan minta maaf pada anak Foto: Shutterstock
  1. Praktikkan dalam Keseharian

Jadilah contoh untuk anak. Praktikkan sikap jujur dan terbuka dalam keseharian kita. Biarkan anak melihat kalau orang tuanya pun bisa berbuat salah tapi mau mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf. Termasuk minta maaf pada anak.

Mengajari dan mencontohkan anak bersikap jujur dan terbuka bahkan dapat dimulai sejak anak masih bayi lho, Moms! Misalnya saat si kecil terjatuh. Ya Moms, jangan biasakan memukul lantai sambil bilang, "Lantainya nakal, ya? Kamu jadi jatuh!"

Meski kesannya sepele, ini bisa membuat anak memiliki pemahaman yang keliru. Anak akan berpikir, ia jatuh karena lantainya salah. Lantas kalau saat bermain ia tidak berhati-hati dan tidak sengaja menabrak lemari, maka yang salah lemarinya!

Lebih baik, katakan pada anak hal yang sebenarnya dan bagaimana ia bisa memperbaiki hal ini. Misalnya, "Wah, kamu jatuh karena berjalan terlalu cepat. Sakit ya, Sayang? Tidak apa-apa. Ayo coba lagi, berjalan pelan-pelan."

kumparan post embed