Kumparan Logo

Anak Susah Makan, Apakah Cacingan?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak tidak mau makan nasi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak tidak mau makan nasi. Foto: Shutterstock

Menghadapi anak susah makan memang bisa jadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Belum lagi jika anak menolak semua makanan yang disajikan, tentunya hal ini bisa saja membuat ibu frustrasi.

Apalagi anak masih di masa pertumbuhan, sehingga perlu makan makanan bergizi agar tumbuh kembangnya optimal. Jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bisa membuat anak kurang gizi, Moms.

Banyak juga orang tua yang percaya bahwa salah satu penyebab anak susah makan adalah karena cacingan. Tapi, benarkah hal itu?

Penjelasan soal Anak Susah Makan Karena Cacingan

Ilustrasi anak susah makan nasi. Foto: Littlekidmoment/Shutterstock

Belum tentu semua anak yang sulit makan berarti cacingan. Namun, menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Anak, dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A (K), cacingan justru bisa disebabkan karena anak susah makan.

“Penyebab sulit makan pada anak bermacam-macam. Namun, infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh sulit makan,” jelas dokter yang praktik di RS Pondok Indah Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, kepada kumparanMOM.

Tanda infeksi cacingan pada anak juga beragam, tergantung dengan jenis cacing penyebabnya, Moms. Menurut dr. Frieda, secara umum tanda anak cacingan adalah mual, sakit perut, keluar cacing dari anus, gatal dan kemerahan sekitar anus, perut membuncit, hilang nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Jadi secara umum, tidak semua anak yang susah makan akibat cacingan. Biasanya anak susah makan karena beberapa penyebab lain, seperti trauma makan hingga kurang variasi makan.

Sehingga, cukup terapkan aturan makan (feeding rules) yang tepat, seperti:

  • Durasi makan tidak lebih dari 30-45 menit

  • Konsep responsive feeding, yaitu adanya interaksi komunikasi dua arah saat makan

  • Hindari distraksi

  • Beri kesempatan anak mengeskplorasi dan menikmati makanannya

  • Batasi pemberian susu sesuai usia dan perhatikan frekuensi makan dan kurva pertumbuhan

  • Perhatikan keadaan anak saat makan dan luwes menyesuaikan dengan keinginan anak

  • Upayakan proses makan tetap menyenangkan