Kumparan Logo

Anak Syahrini Terbiasa Bicara 3 Bahasa sejak Dini, Benarkah Bisa Bikin Bingung?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Potret kehamilan Syahrini. Foto: Instagram/@princessyahrini
zoom-in-whitePerbesar
Potret kehamilan Syahrini. Foto: Instagram/@princessyahrini

Anak Syahrini yang kini berusia 2 tahun terbiasa mendengar dan menggunakan tiga bahasa dalam kesehariannya, yaitu Jepang, Indonesia, dan Inggris.

Kondisi ini terjadi karena penggunaan bahasa yang berbeda-beda di lingkungan keluarga dan rumahnya. Lantas, apakah mengajarkan anak lebih dari satu bahasa sejak dini justru bisa membuatnya bingung?

Syahrini Cerita Anak Terbiasa Gunakan 3 Bahasa

Syahrini umumkan hamil anak pertama. Foto: Instagram/ @princessyahrini

Dalam podcast bersama desainer Ivan Gunawan, Syahrini menceritakan bagaimana putrinya terbiasa menggunakan beberapa bahasa saat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

“Kalau sama papanya, anak aku ngomongnya bahasa Jepang. Jadi, mother tongue-nya memang bahasa Jepang,” kata Syahrini di podcast Ivan Gunawan.

Sementara saat berbicara dengannya, sang anak lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Indonesia juga cukup dominan karena staf di rumah terbiasa menggunakan bahasa tersebut.

“Tapi kalau sama bapaknya atau sama mertua aku, pakai bahasa Jepang,” tambahnya.

Penggunaan bahasa di rumah pun semakin beragam ketika sang nenek ikut berkomunikasi. Syahrini mengatakan, terkadang ia berbicara dalam bahasa Inggris, sementara ibunya menjawab menggunakan bahasa Indonesia.

“Kalau aku lagi ngomong bahasa Inggris, eh mamaku ngomong bahasa Indonesia. Akhirnya sekarang bahasanya sudah campur-campur,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat putri Syahrini terbiasa mendapatkan paparan bahasa Jepang, Indonesia, dan Inggris sejak usia dini.

Benarkah Anak Bilingual Bisa Bingung?

Anggapan bahwa anak yang belajar dua bahasa atau lebih sejak dini akan mengalami kebingungan ternyata merupakan mitos.

Psikolog Klinis Anak Rumah Dandelion, Faradila Azka, M.Psi., Psikolog, CMHA, menjelaskan bahwa anak tidak otomatis bingung hanya karena mendengar atau menggunakan lebih dari satu bahasa.

“Sebenarnya, anggapan bahwa bilingual membuat anak bingung itu mitos. Anak tidak menjadi bingung hanya karena mendengar dua bahasa. Bahkan sejak sangat dini, anak sudah punya kemampuan untuk membedakan dan memproses lebih dari satu bahasa,” jelas Faradila pada kumparanMOM, Rabu (30/9).

Menurutnya, anak bahkan bisa dikenalkan dengan dua bahasa sejak bayi, termasuk sejak lahir, jika memang terdapat lingkungan keluarga yang menggunakan lebih dari satu bahasa.

Tiga tahun pertama kehidupan merupakan periode yang sensitif untuk perkembangan bahasa. Karena itu, semakin awal anak mendapatkan paparan bahasa yang berkualitas, semakin banyak kesempatan baginya untuk belajar.

Meski begitu, bukan berarti anak yang baru dikenalkan dengan bahasa kedua setelah usia 3 tahun akan terlambat belajar. Anak tetap dapat mempelajari bahasa kedua pada usia berapa pun.

“Yang terpenting, early exposure saja tidak otomatis membuat anak menjadi bilingual yang sama kuat di kedua bahasa. Perkembangannya sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak dan seberapa berkualitas interaksi yang anak dapatkan dalam masing-masing bahasa,” ujar Faradila.