Kumparan Logo

Anak Usia 7 Tahun Takut Dewasa dan Kehilangan Orang Tua, Bagaimana Menyikapinya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak Usia 7 Tahun Takut Dewasa dan Kehilangan Orang Tua, Bagaimana Menyikapinya? Foto: Thanes.Op/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Anak Usia 7 Tahun Takut Dewasa dan Kehilangan Orang Tua, Bagaimana Menyikapinya? Foto: Thanes.Op/Shutterstock

Akun Instagram @dellakaramoy membagikan video anaknya yang menangis menjelang ulang tahun ke-7. Sang anak mengaku tidak ingin menjadi dewasa seperti ibunya karena merasa kehidupan orang dewasa itu sulit. Ia juga takut, semakin bertambah usianya, sang ibu akan semakin tua dan suatu saat tidak lagi tinggal bersamanya.

Momen tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa anak bisa merasa takut menjadi dewasa dan kehilangan orang tuanya?

instagram embed

Psikolog Pendidikan, Gita Aulia Nurani, Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa ketakutan terhadap bertambahnya usia dan kehilangan orang tua merupakan hal yang wajar dalam perkembangan psikologis anak.

Ketakutan ini berkaitan dengan ikatan emosional atau attachment anak dengan orang tua sebagai sumber rasa aman. Bagi anak, membayangkan kehilangan orang tua berarti membayangkan kehilangan sosok yang selama ini memberikan perlindungan, kenyamanan, dan kasih sayang.

Bagaimana Anak Usia 7 Tahun Memahami Kehilangan?

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: 9nong/Shutterstock

Pada usia 7 tahun, kemampuan berpikir logis anak mulai berkembang. Namun, pemahamannya terhadap konsep abstrak seperti waktu, kematian, dan kehilangan masih terus bertumbuh.

“Pada usia 7 tahun, anak mulai memahami bahwa setiap orang akan bertambah tua dan kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, secara emosional, anak belum tentu mampu mengelola pemahaman tersebut dengan baik,” ucap Gita, Kamis (15/10).

Akibatnya, anak bisa merasa cemas, sedih, bahkan menangis ketika membayangkan kemungkinan berpisah dengan orang yang disayanginya, meskipun peristiwa itu belum terjadi.

Ilustrasi Ibu dan anak. Foto: Shutter Stock

Cara Menenangkan Anak yang Takut Kehilangan Orang Tua

Ketika anak menangis karena takut kehilangan orang tuanya, orang tua sebaiknya tidak langsung menyangkal perasaan tersebut atau buru-buru mengalihkan pembicaraan. Hal terpenting adalah memvalidasi perasaan anak dan memberikan rasa aman melalui pelukan, perhatian, serta penjelasan sederhana sesuai usianya.

Orang tua juga perlu menghindari janji yang tidak realistis, seperti mengatakan bahwa mereka akan hidup selamanya. Sebaliknya, bantu anak memahami bahwa saat ini mereka masih memiliki banyak waktu untuk bersama dan menikmati kebersamaan.

“Orang tua dapat memberikan rasa aman melalui pelukan, perhatian, dan penjelasan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Bantu anak memahami bahwa saat ini mereka masih memiliki banyak waktu untuk bersama dan menikmati kebersamaan tersebut,” imbuhnya.

Ilustrasi klinik psikolog. Foto: Shutter Stock

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?

Ketakutan anak terhadap kehilangan orang tua tidak selalu menandakan adanya masalah psikologis. Namun, jika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, aktivitas sekolah, atau kegiatan sehari-hari, orang tua sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak.

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar mengenali dan mengelola perasaannya. Yang terpenting, buat si kecil merasa aman untuk bercerita, bertanya, dan mengungkapkan ketakutannya tanpa merasa dihakimi.

kumparan post embed