Angka Kematian Bayi di RI 30 Ribu per Tahun, Kalah Jauh dengan Thailand-Vietnam
ยทwaktu baca 3 menit

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti angka kematian bayi saat lahir di Indonesia masih tinggi, bahkan di antara negara-negara ASEAN. Ia menyebut posisi Indonesia masih lebih tinggi ketimbang Singapura, Malaysia, hingga Thailand.
"Indonesia kalau di ASEAN, negara yang paling bagus Singapura, Malaysia. Kematian di Singapura mungkin 2 per 1.000 bayi lahir, Malaysia mungkin 6-7 per 1.000, Thailand 7-8 [per 1.000]. Seingat saya Vietnam lebih bagus dari kita kematiannya. Otomatis kita di atas Laos, Myanmar, Kamboja. Jangan sampai kita tiba-tiba mereka menyusul lebih baik dari kita," kata Budi dalam acara World Patient Safety Day 2025: Safe Care for Every Newborn and Every Child, Selasa (19/8).
Dari sekitar 33 ribu yang tercatat di Kemenkes pada tahun 2024, angka kematian bayi paling banyak ditemukan di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Pada bayi baru lahir, Budi Gunadi menyebut tiga masalah kesehatan ini menjadi penyebab kematian tertinggi: sepsis neonatal (infeksi darah yang dapat mengancam jiwa bayi, bahkan sejak di dalam kandungan), respiratory distress syndrome (gangguan pernapasan), hingga kongenital atau kelainan bawaan).
Menkes Soroti Pencatatan Kematian Bayi yang Banyak Tidak Dilaporkan
Di kesempatan yang sama, Budi Gunadi juga 'menyentil' pihak-pihak terkait seputar pencatatan data kematian bayi yang tidak dilaporkan sepenuhnya. Berkaca dari masa pandemi COVID-19, ia menemukan banyak kasus yang tidak terlaporkan agar seakan angka kematian tidak sebanyak realitanya.
"Child mortality registry, registernya itu harus dicatat dengan benar. Saya minta Kemenkes koordinasi ke seluruh dinas kesehatan agar setiap kematian bayi dan ibu harus dipastikan dicatat," jelas dia.
Ia juga menyoroti sistem pelayanan rumah sakit yang harus dibenahi. Sebab, data Kemenkes mengungkapkan, kematian ibu dan bayi ternyata paling banyak terjadi di rumah sakit. Salah satunya disebabkan rujukan bagi ibu hamil yang berisiko terlambat diberikan.
"Data saya, lebih dari 90 persen kematian anak itu di rumah sakit. 92-95 persen kematiannya terjadi di rumah sakit. Kita mesti beresin puskesmas, bidan. Tapi [kematian] yang paling banyak meninggal di rumah sakit, bukan karena lahir di puskesmas kemudian dirujuk ke rumah sakit," tutur Budi Gunadi.
Budi Gunadi menegaskan jajarannya untuk bisa menurunkan angka kematian bayi baru lahir, ditekan hingga setidaknya di angka 20.000 per tahun.
Untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, Budi Gunadi berpesan kepada kolegium dokter anak dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan agar bisa mengajari dokter-dokter di puskesmas. Sehingga, mereka memiliki bekal untuk dapat mendeteksi risiko-risiko kehamilan secara lebih dini, dan penanganan bisa lebih cepat diberikan.
"Kalau perlu, ANC (antenatal care atau pemeriksaan kehamilan) di 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan sebelum lahir sudah langsung dibawa ke rumah sakit. Sehingga pas ibu melahirkan, risikonya lebih kecil, dan pasti lebih sedikit [angka kematian]," kata Budi Gunadi.
Kemenkes juga akan memberlakukan pilot project di beberapa kabupaten di Jawa Barat, yaitu Garut, Bogor, dan Bandung, yang merupakan tiga daerah tertinggi kasus kematian ibu dan bayi. Nantinya, pilot project ini akan meliputi pencatatan kematian yang lebih menyeluruh, perubahan tata kelola pelayanan rumah sakit, hingga perubahan sistem rujukan yang lebih rapi.
"Kalau kita bisa melakukan dengan baik model ini, kita geser ke tempat-tempat lain, replikasi ke daerah lain [tentang] gimana ngatur bidan, puskesmas, dokter, sampai [dokter] spesialis yang ada di rumah sakit," tutup Budi Gunadi.
