Apakah Kepribadian Anak Diwariskan dari Orang Tua?
·waktu baca 4 menit

Moms, Anda mungkin sering bertanya-tanya apakah anak Anda akan mewarisi kepribadian atau sifat-sifat kedua orang tuanya? Jika ya, sifat mana ya yang kira-kira akan diwarisi? Mengingat setiap orang tentu punya kekurangan dan kelebihan.
Nah, ternyata para ilmuan sudah banyak meneliti soal pengaruh genetika terhadap kepribadian seseorang. Seperti apa hasil penelitiannya? Simak selengkapnya dalam penjelasan berikut.
Bagaimana Kromosom Mempengaruhi Kepribadian
Ahli genetika molekuler dan instruktur genetika di Universitas Phoenix, Dana Bressette, mengatakan bahwa kepribadian dianggap sebagai sifat multifaktorial, yang berarti banyak faktor, baik genetik maupun lingkungan, yang bisa mempengaruhinya.
Kepribadian dan kemungkinan komponen genetik yang memengaruhinya– telah dipelajari melalui saudara kembar identik dan fraternal. Hasilnya, kata Bressette, menunjukkan bahwa bahkan pada anak kembar, ketika gen diturunkan dari orang tua ke anak untuk setiap pasangan kromosom, proses perkembangan kepribadian terjadi secara acak.
“Faktor lingkungan berperan besar dalam perkembangan kepribadian. Meskipun kembar identik yang dibesarkan secara terpisah terbukti memiliki kepribadian yang serupa, tetap saja terdapat perbedaan,” kata Bressette, dikutip dari Family Education.
Perbedaan ini dapat muncul melalui pendidikan, pengasuhan, dan bahkan nutrisi. Semua hal ini dapat menentukan dan mempengaruhi kepribadian seseorang.
Beberapa Sifat Anak Bisa Dipengaruhi Genetika
Tapi kenapa ya, anak-anak kadang mirip atau tidak sama sekali seperti orang tuanya? Nah Moms, menurut penelitian, ada beberapa hal dari kepribadian yang dapat diwariskan.
“Ada lima sifat yang berhubungan dengan kepribadian: ekstraversi, neurotisme, keramahan, kehati-hatian, dan keterbukaan," kata Bresette.
Namun cara seorang anak dibesarkan dan pengalaman hidup yang dilalui juga dapat memengaruhi kepribadiannya. Namun faktor-faktor lain, termasuk pengaruh orang tua, juga dapat membentuk sifat kepribadian tersebut.
Apakah Seorang Anak Terlahir Dengan Kepribadian Tertentu?
Dr. Jessica Myszak , psikolog anak yang berbasis di Glenville, Illinois dan direktur The Help and Healing Center, menyebut, anak-anak dilahirkan dengan beberapa tanda awal kepribadian mereka, yang disebut temperamen. Temperamen biasanya terlihat pada beberapa hari hingga minggu pertama kehidupan.
"Diperkirakan 20-60% temperamen disebabkan oleh faktor genetik. Ada tiga jenis temperamen: mudah, sulit, atau lambat dalam pemanasan," kata Dr. Myszak.
Menurut Dr. Myszak, temperamen mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungannya, antara lain:
Tingkat aktivitas anak - seberapa banyak mereka melakukan aktivitas fisik.
Bagaimana anak menghadapi situasi - apakah mereka terjun ke situasi baru (mudah move on) tanpa melihat ke belakang atau membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman.
Keteraturan - seberapa konsisten mereka makan, tidur dan buang air.
Kemampuan beradaptasi - seberapa mudah mereka menyesuaikan diri dengan situasi baru.
Intensitas - tingkat energi mereka.
Suasana hati – apakah cenderung menyenangkan atau kurang bersahabat.
Rentang perhatian – berapa lama mereka dapat mengerjakan suatu tugas.
Distraksibilitas - betapa mudahnya mereka teralihkan perhatiannya.
Ambang sensorik – seberapa banyak suara, atau sentuhan, atau masukan sensorik lainnya yang diperlukan sebelum seorang anak merespons.
Seputar Temperamen
Temperamen seorang anak, kata Dr. Myszak, memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungannya. “Seorang anak dengan temperamen mudah mudah berteman, beradaptasi dengan situasi baru, dan menangani tantangan dengan sedikit tekanan. Anak yang lambat dalam beradaptasi membutuhkan waktu lebih lama dalam menghadapi situasi baru dan orang asing, serta mungkin merasa cemas saat menghadapi tantangan," kata Dr. Myszak.
Sementara anak yang kesulitan beradaptasi, mungkin memiliki perilaku yang menantang dan memandang dunia sebagai tempat yang negatif. "Mereka biasanya digambarkan sebagai bayi yang rewel dan mungkin mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan sekolah," ujar Dr. Myszak.
Menurutnya, tanda-tanda awal kepribadian ini bertahan lama, dan karena memengaruhi cara anak menghadapi situasi baru, tanda-tanda tersebut sering kali semakin memperkuat diri mereka seiring berjalannya waktu.
Apakah Kecemasan pada Anak Bersifat Genetik?
Samantha Radford, ahli kimia yang berbasis di Pennsylvania dengan fokus pada Kesehatan Masyarakat, menegaskan bahwa genetika sangat memengaruhi ciri-ciri kepribadian dan ciri-ciri kesehatan mental.
“Misalnya, kecenderungan rasa cemas bisa diturunkan melalui faktor genetik. Meskipun tidak ada gen 'kecemasan' yang spesifik, ada beberapa gen yang mungkin membuat seseorang lebih cenderung mengalami kecemasan," kata Dr. Radford.
Pada saat yang sama, penting untuk mempertimbangkan faktor lingkungan. Gen dapat dihidupkan atau dimatikan melalui perubahan kimia yang disebut metilasi .
"Baru-baru ini kami telah belajar lebih banyak tentang bagaimana metilasi gen tertentu dapat terjadi. Misalnya, paparan pestisida tertentu dapat menyebabkan metilasi gen yang berhubungan dengan depresi. Paparan ini memiliki dampak terbesar pada orang-orang ketika mereka masih anak-anak (atau bahkan masih dalam kandungan!) dan masih dalam masa pertumbuhan," tuturnya.
Selain itu, peristiwa-peristiwa dalam hidup seseorang, khususnya ketika mereka masih muda, mempengaruhi metilasi gen mereka. “Misalnya, peristiwa traumatis dalam kehidupan seorang anak dapat menyebabkan metilasi yang membuat mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental di kemudian hari," ujar Dr. Radford.
Meskipun beberapa di antaranya mungkin terdengar menakutkan, sebenarnya ada kabar baik. “Bahkan jika Anda tahu ada generasi depresi dan kecemasan dalam keluarga Anda, itu tidak berarti anak Anda akan mengalami kesulitan yang sama seperti Anda. Anda dapat membantu memutus siklus tersebut dengan anak Anda!” tegasnya.
