Kumparan Logo

Bagaimana Cara Mengenali dan Mengoptimalkan Hobi Anak?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bagaimana Cara Mengenali dan Mengoptimalkan Hobi Anak? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bagaimana Cara Mengenali dan Mengoptimalkan Hobi Anak? Foto: Shutterstock

Saat masih balita, seorang anak kerap menunjukkan ketertarikannya terhadap sesuatu. Mereka bisa tertarik dengan mobil mainan, boneka, hingga mainan karakter dinosaurus. Namun, ketertarikan itu sering kali menghilang seiring bertambahnya usia.

Dikutip dari Romper, hobi atau ketertarikan balita cukup mudah dikenali. Mereka bisa menyukai dinosaurus atau pun sesuatu yang lain hingga semua benda di sekitarnya harus bernuansa hal tersebut. Ketertarikan ini bisa disalah artikan oleh orang tua sebagai hobi.

Psikolog Klinis Pediatri di Rumah Sakit Anak New Orleans, Amerika Serikat, Becca Wallace, menyebut anak-anak mulai dapat mengembangkan minat pada usia empat hingga lima tahun. Minat ini biasanya dibentuk oleh apa pun yang mereka lihat di rumah. Namun, minat atau ketertarikan ini cenderung berubah ketika mereka tumbuh lebih besar.

"Minat ini terkadang tumbuh dan bertahan, tapi bisa juga hanya sementara dan berubah seiring waktu," kata Wallace.

Temukan Hobi Anak dengan Cara Ini

Ibu rumah tangga dan anak perempuan bernyanyi. Foto: PR Image Factory/Shutterstock

Terkadang anak bingung menjawab ketika ditanya apa yang mereka minati. Kendati demikian, anak-anak biasanya selalu punya cara untuk menemukan hobi dan minat baru.

Wallace mengatakan, mencintai sesuatu itu penting, memiliki hobi untuk meluapkan suasana hati itu juga bagus dan sehat.

1. Minat Anak Bisa Berbeda

Wallace mengatakan, hal pertama yang perlu dipahami orang tua adalah, tidak berasumsi minat anak tidak cukup baik hanya karena ketertarikannya pada sesuatu berubah-ubah atau tidak sesuai dengan bayangan Anda. Sebab tidak ada parameter untuk mendefinisikan sesuatu secara spesifik sebagai hobi atau minat.

“Hobi dan minat menjadi pelampiasan kita atau apa yang kita sukai untuk dilakukan yang membuat kita merasa seperti diri kita sendiri. Hobi dan minat berguna tidak hanya saat kita ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga saat kita bosan, sedih, stres, kewalahan — hobi dan minat sering kali berfungsi sebagai penyegaran atau jeda pada pengalaman-pengalaman ini,” kata Wallace.

Ilustrasi anak suka berenang. Foto: Shutterstock

Ada peluang perbedaan minat antara Anda dan si kecil. Tapi jangan khawatir minat anak-anak masih bisa berubah dalam waktu satu hingga dua tahun. Apalagi setiap anak bisa memiliki beberapa minat atau hobi.

2. Beri Referensi ke Anak

Hobi dan ketertarikan anak dapat terbentuk melalui paparan di rumah dan lingkungan sekitar. Anak bisa menganggap sesuatu tidak menarik karena kurang terpapar atau hidup dekat dengan sesuatu tersebut.

Orang tua bisa mengenalkan banyak hal ke anak-anak sebagai referensi, misalnya dengan mengajak mereka ke perpustakaan, menonton film dokumenter, menanam bunga, atau berkegiatan di alam. Pengenalan-pengenalan ini bisa menjadi referensi bagi mereka.

3. Jangan Langsung Membebani Anak dengan Komitmen

Ilustrasi anak main basket. Foto: Shutterstock

Saat anak menemukan hobi baru, biasanya orang tua buru-buru mendaftarkan mereka les atau bergabung dengan komunitas terkait hobi barunya itu. Tapi menurut Wallace, sebaiknya jangan terlalu buru-buru menyertakan anak pada komunitas tersebut, Moms. Sebab anak bisa merasa terbebani karena menanggung komitmen yang mungkin terlalu besar baginya.

“Terus memaksa anak untuk melakukan aktivitas yang tidak ingin mereka lakukan, meskipun mereka ahli dalam hal itu, hanya akan menimbulkan rasa kesal dan hasil yang negatif,” imbuh Wallace.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak menemukan minat yang sesuai dengan bakat atau keahliannya. Tentu saja tak masalah untuk mendaftarkan les atau mengikutkan pada komunitas tertentu, asalkan anak merasa senang melakukannya dan tidak terbebani dengan komitmen tersebut.

Ilustrasi anak punya hobi berkebun. Foto: Shutterstock

Selain itu, kata Wallace, penting untuk memberikan pemahaman bawa minat mereka bukanlah identitas mereka. Minat juga bukan tentang kompetisi.

"Setiap orang memiliki sifat luar biasa, melampaui aktivitas yang dijalani. Jika mereka ingin berhenti, tidak masalah. Tapi ingatkan mereka bahwa menjalani sesuatu yang sulit (menantang) dapat bermanfaat untuk ke depannya," tutur Wallace.

kumparan post embed