Bagaimana Dokter Mendiagnosis Autisme pada Anak?

15 November 2022 15:03
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal. Sayangnya, karena faktor tertentu, anak mungkin mengalami masalah pada tahap perkembangannya. Salah satunya adalah autisme.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) autisme merupakan gangguan perkembangan yang bisa menyebabkan anak mengalami kesulitan bersosialisasi, berkomunikasi, atau masalah perilaku lainnya.
Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan anak mengalami autisme, yaitu memiliki saudara kandung yang dengan kondisi serupa, adanya masalah genetik atau kromosom, dan mengalami komplikasi saat dilahirkan. Namun, anak dengan autisme biasanya memiliki gejala yang berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.
“Autisme memiliki beragam gejala dan tidak setiap anak menunjukkan gejala yang sama. Itulah mengapa ini disebut spektrum,” jelas Doreen Granpeesheh, Ph.D, BCBA-D., pendiri Center for Autisme sebagaimana dikutip dari Verywell Family.
Beberapa gejala umum yang dialami oleh anak dengan autsime yaitu mengalami kemampuan komunikasi yang tidak biasa, sulit berkomunikasi dua arah dengan orang lain, hingga mengalami perilaku sosial. Lantas, bagaimana proses dokter dalam mendiagnosis autisme saat anak mengalami gejala tersebut?

Proses Diagnosis Autisme pada Anak

Ilsutrasi mendiagnosis autisme.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi mendiagnosis autisme. Foto: Shutterstock
Sama halnya dengan masalah kesehatan pada umumnya, autisme pada anak membutuhkan diagnosis dari ahli, seperti dokter atau psikolog.
“Pengetahuan tentang diagnosis dapat memberikan pemahaman kepada individu dan orang lain, dan pentingnya hal ini tidak boleh diremehkan,” kata psikolog yang menangani autisme pada anak, Jessica Myszak, Ph.D.
Proses untuk mendapatkan diagnosis autisme biasanya dimulai dengan orang tua yang mencari evaluasi dari ahli, baik atas kemauan sendiri maupun rekomendasi dari guru atau tenaga kesehatan.
“Psikolog, dokter saraf, dan dokter anak, paling sering mendiagnosis autisme dengan menggunakan ukuran standar untuk menunjukkan bagaimana seorang anak melakukannya di berbagai bidang dibandingkan dengan teman sebayanya. Setelah pengujian selesai, profesional menulis laporan dan memberikan rekomendasi untuk langkah selanjutnya,” papar Dr. Myszak.

Kriteria yang Digunakan dalam Mendiagnosis Autisme

Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
Menurut Dr. Granpeesheh, kriteria autisme diambil langsung dari manual diagnostik dan statistik gangguan mental dan terdiri dari perilaku spesifik. Beberapa di antaranya yaitu sebagai berikut.
  1. Penurunan dalam komunikasi dan interaksi sosial, yaitu kurangnya keterampilan sosial-emosional, berkurangnya pengaruh, dan ketidakmampuan untuk memulai dan terlibat dalam percakapan.
  2. Pola perilaku terbatas atau gerakan motorik berulang, seperti tertarik pada benda yang berputar secara tidak biasa dan sulit menerima transisi dari satu kondisi ke kondisi lain.
  3. Gejala yang muncul pada awal perkembangan dan berdampak secara signifikan pada kesehatan anak. Gejala tersebut tidak merujuk pada kelainan atau kecacatan lain, seperti kecacatan intelektual atau keterlambatan perkembangam.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Anak Didiagnosis Autisme?

Ilsutrasi anak dengan autisme.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi anak dengan autisme. Foto: Shutterstock
Dr. Granpeesheh melanjutkan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua setelah anak didiagnosis mengalami autisme.
“Setelah diagnosis, orang tua harus memberikan laporan diagnostik ke asuransi kesehatan mereka, menerima otoritasi untuk intervensi berbasis bukti, dan mencari layanan kesehatan lain jika diperlukan,” jelasnya.
Sementara itu, menurut Dr. Myszak, penting bagi orang tua untuk menghubungi guru di sekolah untuk berbagi informasi mengenai kondisi si kecil. Jika dibutuhkan, orang tua mungkin bisa memindahkan anak ke sekolah inklusi untuk mendapatkan pendidikan khusus.