Banyak Kecelakaan di Perlintasan Kereta, Pakar: Kurang Edukasi Lalin di Sekolah
·waktu baca 2 menit

Moms, kecelakaan di perlintasan kereta kini tengah menjadi sorotan.
Dalam beberapa hari terakhir, rangkaian insiden terjadi berturut-turut. Mulai dari tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek pada 27 April, hingga mobil tertemper KA Argo Bromo Anggrek dan menewaskan empat orang, termasuk anak usia 8 tahun di Grobogan, Jawa Tengah pada 1 Mei 2026.
Namun, kasus itu tak membuat beberapa pengendara jadi lebih hati-hati. Baru-baru ini di Cimahi, terekam warga masih nekat menerobos rel saat kereta sudah sangat dekat, bahkan ada pengendara motor yang tetap menyelonong sambil mendorong kendaraannya.
Kenapa hal ini bisa terjadi ? Berikut hasil pengamatan ahli tentang kejadian yang terus berulang.
Ini Kata Pengamat Transportasi soal Pemicu Kecelakaan di Perlintasan Kereta
Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menunjukkan, pemicu kecelakaan di perlintasan kereta didominasi oleh perilaku pengguna jalan yang suka menerobos. Artinya, masalah utamanya bukan sekadar infrastruktur, tapi juga kesadaran akan keselamatan diri.
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menyoroti tingginya angka kecelakaan ini berkaitan erat dengan minimnya edukasi keselamatan lalu lintas sejak dini.
“Pengintegrasian pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum di Indonesia bukan sekadar upaya administratif, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai kecelakaan yang didominasi oleh usia produktif,” ujarnya pada kumparanMOM, Jumat (1/5).
Ia menilai, di banyak negara maju, pendidikan keselamatan tidak hanya soal mengenal rambu, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan sejak kecil. Sementara di Indonesia, aspek ini belum berjalan optimal.
“Prinsip 3E dalam keselamatan seperti education, engineering, dan enforcement sebenarnya sudah lama diterapkan di negara maju. Namun di Indonesia, edukasi khususnya dalam bentuk kurikulum masih belum maksimal,” tegasnya.
Djoko menekankan, maraknya pengendara yang nekat menerobos palang kereta menunjukkan bahwa budaya keselamatan belum tertanam kuat. Tanpa pemahaman sejak dini, kebiasaan berisiko ini akan terus berulang.
Sehingga beberapa poin ini perlu jadi perhatian seperti:
Banyak pengendara masih nekat menerobos palang kereta
Edukasi keselamatan lalu lintas belum terintegrasi sejak dini
Pendekatan 3E belum berjalan seimbang
Kesadaran keselamatan diri masih rendah
Kejadian ini jadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya soal aturan, tapi pilihan. Karena di perlintasan kereta, satu keputusan nekat bisa berujung penyesalan seumur hidup, Moms.
