Kumparan Logo

Bayi Juga Bisa Stres, Lho! Seperti Apa Tandanya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi menangis. Foto: sutlafk/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi menangis. Foto: sutlafk/Shutterstock

Tak hanya orang dewasa, ternyata bayi juga bisa mengalami stres. Bahkan, mengutip Mom Junction, bayi lebih rentan stres daripada anak dan orang dewasa. Bagi bayi tertentu, mandi saja bisa membuatnya stres, lho!

Sementara penelitian lain menunjukkan, orang tua yang stres juga bisa berdampak pada bayi. Namun, ikatan yang kuat antara orang tua dan bayi dapat membantu menurunkan kadar hormon stres pada bayi.

Bahaya Stres pada Bayi

Stres pada bayi dapat memiliki efek negatif yang bertahan lama. Stres yang dialami pada masa kanak-kanak, terutama karena trauma perkembangan dan faktor perkembangan saraf, dapat berdampak signifikan pada perkembangan otak bayi.

Pertama, paparan stres kronis berdampak negatif pada otak bayi. Peningkatan kadar hormon stres-kortisol selama masa bayi, dapat dikaitkan dengan masalah perilaku dan gangguan terkait stres di masa dewasa. Selain faktor genetik, nutrisi, dan penyakit, pengalaman bayi dengan orang-orang di sekitarnya juga memengaruhi perkembangan otaknya.

Namun, persepsi stres bisa berbeda-beda pada setiap bayi. Beberapa mungkin merasakan stres toksik dari satu kejadian, sementara bayi lain mungkin menganggapnya sebagai masalah kecil.

Bagaimana Mengetahui Bayi Stres?

Ilustrasi bayi menangis saat menyusui. Foto: Shutter Stock

Cara bayi berkomunikasi masih sangat terbatas. Orang tua acapkali kesulitan memahami keinginan bayi dalam aktivitas sehari-hari, apalagi mengidentifikasi stres. Anda mengalaminya juga, Moms?

Meskipun bayi tidak dapat mengungkapkan secara verbal apa yang mereka alami, perubahan perilaku mereka dapat menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah.

Anda mungkin memperhatikan tanda dan gejala berikut saat bayi Anda mengalami stres:

Tangisan Meningkat

Menangis bisa menjadi salah satu reaksi pertama dan paling umum dari bayi yang stres. Ini adalah sinyal bagi pengasuh bahwa mereka sedang tidak enak badan atau membutuhkan sesuatu dalam keadaan normal. Seorang bayi yang menghadapi stres bisa menangis lebih dari biasanya. Jika bayi Anda menangis tak terkendali, Anda mencoba mencari tahu apa yang menyebabkannya stres.

Perubahan Kebiasaan Tidur

Stres bisa mengganggu kebiasaan tidur bayi . Mereka mungkin tetap terjaga lebih dari biasanya dan menangis karena stres.

Tidak Ada Kontak Mata

Seorang bayi berusia 6 bulan menangis di tempat tidur. Foto: Littlekidmoment/Shutterstock

Bayi mencoba menghindari kontak mata saat mereka stres. Jika pandangan bayi Anda normal sebelumnya, dan sekarang dia menghindari menatap mata Anda, dia mungkin stres. Dalam beberapa kasus, kurangnya kontak mata dapat mengindikasikan gangguan spektrum autisme atau gangguan penglihatan.

Perubahan Kebiasaan Makan

Stres dapat mengganggu kebiasaan makan bayi Anda . Beberapa mungkin cenderung makan berlebihan, sementara yang lain mungkin mengalami kurang nafsu makan. Stres juga dapat menyebabkan masalah perut pada bayi, dan Anda mungkin melihat tanda-tanda gangguan pencernaan .

Bayi mungkin menolak makan ketika mereka merasa takut dan stres. Namun, jika bayi Anda tidak menyusu, Anda juga harus mencari kemungkinan penyebab penyakit atau sembelit. Pada tahap akhir masa bayi, terutama saat mereka beralih dari menyusui ke makan makanan padat, beberapa bayi mungkin menolak makanan baru karena masih ingin menyusu.

Terlihat Tanpa Emosi

Bayi mungkin terlihat tidak ekspresif saat mengalami stres kronis. Anda bisa merasakan kurangnya emosi di wajah mereka.

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim psikolog dari Jerman menunjukkan bahwa bayi menjadi rewel, mulai menangis, dan memberi isyarat kepada orang tua untuk menjemput mereka ketika mereka dibiarkan bermain dengan orang asing selama beberapa menit. Studi ini menunjukkan bahwa bayi memiliki masalah dalam beradaptasi dengan situasi baru ketika mereka berada di bawah tekanan.

Bayi mungkin menolak makan ketika mereka merasa takut dan stres. Namun, jika bayi Anda tidak menyusu, Anda juga harus mencari kemungkinan penyebab penyakit atau sembelit. Pada tahap akhir masa bayi, terutama ketika mereka beralih dari menyusui ke makan makanan padat, beberapa bayi mungkin menolak makanan baru karena masih ingin menyusu.

Tak hanya balita, bayi juga bisa mengalami tantrum dan marah-marah Foto: Shutterstock

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim psikolog dari Jerman menunjukkan bahwa bayi menjadi rewel, mulai menangis, dan memberi isyarat kepada orang tua untuk menjemputnya ketika dibiarkan bermain dengan orang asing selama beberapa menit. Studi ini menunjukkan bahwa bayi memiliki masalah dalam beradaptasi dengan situasi baru ketika mereka berada di bawah tekanan.

Stres bayi dapat disebabkan oleh alasan emosional atau fisik, dan pengaturan emosi sangat penting dalam membantu bayi mengatasi stres. Apa pun di sekitar bayi – apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan – memainkan peran penting dalam menentukan respons mereka. Depresi ibu dan kecemasan ibu juga dapat berdampak signifikan pada keadaan emosi bayi karena dapat dengan mudah dipengaruhi oleh perubahan emosi pengasuh utama dan ibu. Mereka juga dapat mengalami beberapa tingkat stres dari perubahan positif seperti mempelajari keterampilan baru. Namun, stres sebagian besar terkait dengan emosi negatif atau penyakit.

Cara Menenangkan Bayi yang Stres

Jika Anda memperhatikan bayi Anda stres, atau tidak berhenti menangis, coba cari tahu alasan di baliknya, Moms. Selain mengatasi penyebab stres, Anda juga bisa mencoba cara-cara berikut yang dapat menenangkan bayi Anda:

- Membedong bayi

- Bawa jalan-jalan

- Nyalakan musik yang menenangkan

- Ajak berinteraksi dengan kakak atau binatang peliharaan

- Ganti popoknya jika basah atau kotor

- Beri makanan jika lapar

- Berikan empeng. Atau jika Anda tidak memberi empeng untuk bayi, berikan makanan yang bisa dipegang atau finger foods.