Bayi yang Minum ASI Lebih Responsif Terhadap Vaksin, Benarkah?

WHO merekomendasikan bayi diberi ASI saja selama 6 bulan dan diteruskan disusui hingga 2 tahun atau lebih sambil diberikan makanan pendamping ASI atau MPASI.
Tentu anjuran itu bukan tanpa alasan Moms. ASI terbukti merupakan makanan terbaik untuk bayi dan proses menyusui dapat memberi banyak manfaat bagi bayi maupun ibu.
Tidak hanya itu, bayi yang diberi ASI terbukti memiliki sistem imun yang lebih baik daripada bayi yang tidak. Oleh karena itu ASI dapat dianggap sebagai vaksin pertama bagi bayi. Dengan begitu, apakah bayi yang diberi ASI tidak perlu mendapat vaksin? Tetap perlu, Moms! Bahkan diketahui, bayi yang diberi ASI juga punya respons lebih baik terhadap vaksin artifisial atau imunisasi.
Menurut buku The Ultimate Breastfeeding Book of Answer karya Dr Jack Newman dan Teresa Pitman, bayi yang disusui ASI mampu menghasilkan antibodi lebih banyak daripada bayi yang minum susu formula, setelah vaksin. Kenapa bisa begitu? Sebelum menjawabnya, kita harus mengetahui dulu kandungan ASI dan cara vaksin bekerja. ASI mengandung makrofag, limfosit dan antibodi yang dapat mencegah bayi terinfeksi penyakit tertentu. Nutrisi tersebut dapat diserap sempurna oleh tubuh bayi. Sementara itu vaksin juga punya fungsi yang mirip dengan ASI, yakni membuat anak kebal terhadap penyakit tertentu. Namun dengan mekanisme yang berbeda. Dilansir WebMD, vaksin terbuat dari virus atau bakteri dari suatu penyakit dalam jumlah kecil dan telah dilemahkan. Cara lain, vaksin kadang dibuat dengan protein buatan yang mengimitasi virus penyebab suatu penyakit.
Menyuntikkan vaksin memicu sistem imun tubuh untuk menghasilkan antibodi sehingga anak jadi kebal terhadap virus terkait. Alhasil ketika virus itu datang, tubuh anak sudah siap untuk melawannya. ASI pun membantu vaksin bekerja dalam tubuh si kecil. Sebuah penelitian yang dilakukan di Swedia, mencari perbedaan respons imunisasi Pneumococcal conjugate vaccine (PVC) pada bayi yang diberi ASI kurang dan lebih dari 90 hari. Hasilnya, tubuh bayi yang disusui ASI kurang dari 90 hari tidak mampu membentuk respons antibodi yang diharapkan. Sementara itu bayi yang disusui lebih dari 90 hari mampu membentuk perlindungan yang lebih baik pada usia 6 bulan. Penelitian sejenis juga dilakukan untuk menguji respons bayi pada vaksin Haemophilus influenzae type B (Hib). Hasilnya sama, bayi yang disusui ASI kurang dari 90 hari tidak dapat mencapai respons antibodi minimal.
Yang menarik, bayi yang diberi ASI juga punya risiko lebih rendah terkena demam pascavaksin. Seperti yang kita tahu, demam adalah reaksi normal tubuh saat membentuk antibodi baru. Ada 460 bayi yang disuntik 6 vaksin, yakni difteri, tetanus, Hib, polio, hepatitis B, dan pertusis. Ibunya diminta mengecek suhu tubuh bayi-bayi itu pada malam hari.
Hasilnya, hanya 25 persen bayi ASI eksklusif yang terkena demam setelah imunisasi. Sedangkan, 31 persen bayi yang diberi kombinasi ASI dan susu formula, dan 53 persen bayi yang eksklusif diberi susu formula, terkena demam. Kenapa bayi ASI lebih kuat terhadap reaksi vaksin? Dilansir Baby Center, ASI mengandung anti peradangan yang mampu mengurangi risiko bayi terkena demam. Bayi ASI juga tidak mogok makan pasca disuntik ASI sehingga dapat menahan reaksi tubuh saat membentuk antibodi baru. Jadi tidak usah ragu lagi untuk memberi ASI pada bayi secara ekslusif hingga usianya 6 bulan dan diteruskan hingga dua tahun atau lebih, Moms. Sudah jelas betul manfaatnya!
